
Danny tengah berusaha untuk menerima apapun jawaban yang diberikan oleh pak tua Sam itu, suasana disekitar menjadi dingin seakan menjadi saksi begitu beratnya menjadi penjaga batu permata mulia.
Sam memulai pembicaraannya dengan Danny
"Anak muda, sebelum kuberitahu resiko yang akan kau terima saat menerima batu permata ini, mari kita mengobrol sebentar."
Sam melihat bahwa raut wajah Danny begitu tegang, maka ia berniat untuk mengajaknya bicara agar bisa lebih rileks dan santai. Ia masuk lebih dalam ke ruangan berlantai tanah dan beratap tanah itu.
Ketika masuk lebih dalam ternyata ada sebuah ruangan terbuka dimana terdapat meja dan kursi kayu, persis seperti ruang tamu, mungkin versi lebih sederhana dari sederhana.
"Silahkan duduk." Sam mempersilahkan Danny duduk, sedangkan harimau itu mengawasi dari jauh di dekat pintu masuk mereka tadi.
"Terimakasih Tuan..."
"Apa yang sebenarnya ingin Tuan Sam bicarakan?" Tanya Danny
"Hmmm, Danny kau tahu berapa usia ku sekarang?"
"Tidak Tuan.."
"Umurku hanya terpaut 500 tahun dari Sophia.."
"Hah?! jadi tuan lebih tua?" Danny kaget akan hal itu
"Bukan, aku yang lebih muda.."
"..."
"...."
"Tu-tunggu, kenapa penampilanmu bisa begini sedangkan eee, Sophia ini penampilannya lebih muda?!"
"Haha..."
"Sudah kuduga kau akan berpendapat begitu..."
"Anak muda... ras Demi Human terpecah lagi menjadi beberapa golongan.."
"Golong..an?"
"Ya... Ada 3 golongan dalam ras Demi Human, yaitu golongan Rakyat, Golongan Ksatria, dan Golongan Bangsawan."
"?"
Sam kemudian melanjutkan penjelasannya itu.
"Golongan Rakyat adalah rakyat biasa dari ras Demi Human, mereka bisa mencapai umur 500 tahun kemudian mereka mati..."
"Mati?"
"Ya, sedangkan Golongan Ksatria berkisar antara 1000-1500 tahun kemudian mereka mati..."
"Lalu Golongan Bangsawan bisa hidup lebih dari 2000 tahun..."
"Mengapa ada perbedaan golongan Tuan?"
"Yang aku tahu karena memang Demi Human memiliki sistem kasta, dimana yang tertinggi adalah yang terkuat."
"Golongan bangsawan seperti Sophia bisa hidup lebih lama karena garis keturunannya mengandung darah bangsawan yang memang mereka adalah terkuat dibanding kedua golongan dibawahnya."
"Ksatria pada umumnya adalah seorang rakyat biasa namun dianugerahi kekuatan lebih untuk mengabdi pada rasnya."
"Darimana kekuatan itu berasal?" tanya Danny
"Latihan mereka."
"Waah... dengan latihan para ksatria bisa sekuat itu ya?"
"Anak muda, latihan yang dijalani bukanlah latihan yang biasa, banyak diantara mereka yang tidak kuat dalam pelatihan dan harus mengundurkan diri."
"Mengapa?"
"Mereka bukan orang terpilih."
__ADS_1
"Jadi itu semua sudah ditakdirkan?"
"Kurasa begitu."
"Tuan... apa kita bisa merubah takdir kita?" Danny ingin mengetahui pendapat Sam itu.
Sam terdiam dan kemudian tersenyum tipis yang terukir di bibir kecilnya yang dipenuhi bulu halus kumis dan janggutnya.
"Ya, aku adalah salah satunya."
"!"
"Aku sebenarnya tidak berbakat menjadi seorang ksatria, namun aku terus berusaha keras..meskipun takdir tidak memilihku aku akhirnya bisa menjadi seorang ksatria."
"Dan juga hidupku sudah tidak lama lagi.."
Danny kaget mendengar perkataan Sam itu.
"Kenapa Tuan?"
"Aku sudah hampir mencapai batas umurku."
"Kau datang disaat yang tepat anak muda..."
"Tes yang kumaksud itu adalah untuk menguatkan kondisi fisikmu Danny."
"Apa kau pernah belajar ilmu fisik sebelumnya?"
"Saya hanya mempelajari dasar ilmu berpedang dan sihir Tuan."
"Oh begitu, itu bagus..."
"Mungkin kau akan menghabiskan sebagian waktumu disini untuk menyelesaikan Tesmu.."
"Saya siap Tuan Sam."
Melihat tekad yang dimiliki Danny, Sam teringat akan masa mudanya dimana ia penuh dengan semangat dan berapi-api.
Danny disuruh beristirahat oleh Sam disebuah ruangan mirip kamar, seluruh sudut ruangannya terdiri dari tanah, tempat tidur yang dipakai Danny terbuat dari kayu yang dibuat sedemikian rupa, namun nyaman pada saat dipakai.
---------------
Danny disuruh mengitari lapangan yang berukuran 7×7 km sebanyak yang ia bisa, bukan luas yang sempit namun Danny berhasil menyelesaikannya hingga 10 putaran sampai ia benar-benar lelah.
Sorenya sekitar pukul 16.00 Danny harus kembali latihan, kali ini ia harus latihan dasar untuk melatih fisiknya, ia harus melakukan push up, sit up, back up, masing-masing 1000 kali.
Dalam proses latihannya itu, Danny benat-benar merasa tubuhnya dipaksa melampaui batas. Danny dulunya adalah seorang yang cukup sehat karena rajin berolahraga namun untuk kali ini ia harus melampaui batasan yang ada pada dirinya sendiri.
Setelah itu pada malamnya sekitar jam 20.00, Danny berlatih diluar bersama dengan Sam, Ia diajari berbagai macam-macam teknik serangan, bertahan, mengunci, dan membanting. Perlahan ia mulai menguasai apa yang diajarkan oleh Sam.
Pada hari-hari berikutnya tubuh Danny mulai terbiasa akan latihannya itu dan akhirnya setelah 1 bulan 30 hari, Danny mulai melipatgandakan latihannya itu demi mencapai hasil yang maksimal. Sam tidak melarangnya asal ia tidak keberatan dan menyerah ditengah jalan.
Rangkaian latihan ini dilakukannya setiap hari.
Setelah 2 bulan 29 hari berlalu, akhirnya Danny berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian latihannya itu. Tiba saatnya genap 3 bulan pelatihan yang diberikan Sam pada Danny.
Sam berkata bahwa ia telah mengajari Danny apa yang ia bisa, kini tinggal tes terakhir yang akan dibebankan kepadanya.
---------------
Hilir padang rumput hijau disinari cahaya matahari yang lembut, di sanalah Danny dan Sam melakukan pertandingan fisiknya itu.
Peraturannya mudah, yang pertama terjatuh, terguling, terkapar dialah yang kalah.
Kini penampilan fisik Danny lebih baik dibandingkan yang sebelumnya, sehingga ia sangat siap untuk ujian terakhirnya ini.
DEM!
Mereka berdua melesat kedepan, pukulan demi pukulan mereka lancarkan satu sama lain, bahkan setiap masing-masing pukulan itu menghantarkan hempasan angin yang cukup kencang.
DUAK!
DAK!
__ADS_1
DUG!
Danny dapat mengimbangi seluruh gerakan serangan yang dilancarkan Sam, serangan pukulannya dapat ia tangkis dengan mudah begitupula dengan tendangan, ataupun kuncian yang dengan mudah dipatahkannya.
Danny merasa bahwa ilmu yang telah ia terima dari Sam, telah benar-benar merasuk kedalam dirinya. Tubuhnya beradaptasi dengan baik bahkan saat pertarungan beratpun.
Pertarungan mereka berlangsung cukup imbang, Danny sebenarnya masih menahan dirinya, belum menggunakan seluruh kekuatannya. Namun ia pikir ia harus mengeluarkan seluruh kekuatannya itu.
DUAGG!!!
Satu pukulan yang dilancarkan Danny berhasil membuat pertahanan Sam roboh, namun dengan berkelit ia berhasil menyelamatkan tubuhnya menghindari rumput yang berada dibawahnya.
"Cukup bagus anak muda, kini tunjukanlah semua kemampuanmu!"
BUM!
Sam melesat dengan cepat, melancarkan pukulan fisik yang begitu kuat, Danny berusaha bertahan namun karena kekuatannya amat besar Danny harus terseret cukup jauh agar bisa menahan pukulannya itu.
DUAG!
Danny kembali melancarkan berbagai pukulan kembali pada Sam, terlihat perlahan lengan Sam mulai terkena dampak dari serangan berat Danny.
"Hyaahh!"
Kembali Danny memfokuskan energi fisiknya pada tangannya, ia bermaksud mengakhirinya dengan satu dengan terakhir. Perlahan kekuatan fisik yang terkumpul di pergelangan tangannya itu.
Danny melancarkan serangannya itu, sayangnya Sam tidak sempat menghindarinya.
WHOSSH!!
"!"
Angin kencang tercipta akibat hentakan pukulan kekuatan fisik Danny, gelombang itu maju kedepan dengan kencang melibas tanah serta rerumputan yang berada di sana.
Serangan yang dilancarkan Danny itu tidak mengenai Sam, memang tujuan awalnya serangan itu tidak ditujukkan kepadanya. Serangan itu hanya melewatinya saja.
"..."
Setelah angin reda, Sam mulai berjalan kearah Danny, dimana tanah rerumputan yang indah itu telah menjadi rusak akibat pertarungan mereka berdua.
"Kau...sudah jauh lebih kuat anak muda..." ucap Sam sambil terengah
"Ah.. terima kasih Tuan Sam.."
"Saya tidak akan bisa seperti ini jika tanpa bimbingan anda."
Sam tertawa, rasanya ia puas karena hasil dari latihan yang ia berikan pada Danny terbayar dengan pencapaian yang hebat.
Sam mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya yang lusuh.
"Ini.."
Sebuah permata merah yang indah dikeluarkan oleh Sam.
"..."
"Kau pantas memilikinya.." Sam berusaha meyakinkan Danny yang terlihat ragu-ragu.
Danny menerima batu permata mulia itu, namun tiba-tiba ia merasa seluruh tubuhnya sakit.
"Uuugh..."
"Argh...."
Sam kebingungan akan apa yang terjadi pada Danny.
"Hey, kau tak apa?"
Danny tersungkur kebawah memegang seluruh tubuhnya, ia merasa sangat kesakitan seolah-olah seluruh tubuhnya ditekan oleh sesuatu yang amat kuat.
"Anak muda..."
__ADS_1
"Anak muda!"