
"Hm! Tentu saja Tuan Vincent!" Patricia mengangguk setuju ketika mendengar Vincent yang sedikit lebih tua darinya itu sangat bersemangat; ia masih menghormatinya dengan menyebutnya Tuan, begitupula dengan temannya, Tuan Brock.
"Panggilan itu sepertinya tidak cocok untukku, kau boleh memanggilku kakak saja, lebih cepat dan lebih baik bukan?" Pada akhirnya Vincent tahu sebutan Tuan memang terlalu tinggi untuk disematkan padanya, lagipula ia ini memang lebih tua sedikit, jadinya apa salahnya jika memanggilnya kakak?
Baru saja Patricia memikirkan bagaimana ia ingin mengganti panggilannya pada kedua orang yang sudah berumur sedikit lanjut darinya itu, kini ia pun mengangguk setuju untuk menggunakan panggilan yang singkat dan ringkas itu.
"Baiklah Kak Vincent." Patricia mengatakannya dengan nada rendah, mungkinkah ia hanya mengetes bagaimana itu terdengar nantinya?
"Jangan malu-malu, lagipula kita ini teman bukan? Santai saja." Vincent mengibaskan kembali rambutnya, kini entah mengapa si pria ini ingin menunjukkan bagaimana pesonanya itu sudah bangkit kembali, ia benar-benar percaya diri sekarang ini.
"Ah, iya tentu saja Kak Vincent." Patricia sendiri memang tidak malu, ia hanya menyesuaikan diri dengan cara memanggilnya itu, dan memang ternyata ini lebih mudah untuk diucapkan dibanding dengan sebutan sebelumnya.
Dan lagi ini menunjukkan bahwa Patricia sudah dianggap sebagai teman yang baik oleh Vincent yang itu membuat gadis itu senang dan merasa bersahabat.
"Ehem ...." Brock tiba-tiba berlagak seperti tengah terbatuk, padahal memang tidak sedang batuk, ia seakan ingin masuk ke topik pembicaraan namun tidak tahu harus bagaimana.
"Ada apa Tuan Brock?" tanya Patricia.
"Tidak ada, aku hanya sedang memainkan tenggorokanku." Brock menjawabnya dengan singkat, ternyata alasan dibalik ia seperti batuk itu hanyalah memang iseng saja.
"Mengapa Danny tidak bersama kita Tuan Housen?" Brock akhirnya berbicara setelah diam cukup sebentar tadi, ia mempertanyakan keberadaan Danny yang memang adalah inti dari semua ini, seorang yang sedang ia ikuti perjalanannya.
"Ah iya benar, di mana dia sekarang ya?" Patricia menimpalinya, ia pun akhirnya ikut memikirkan di mana keberadaan temannya yang tidak bersama mereka saat ini.
Tuan Housen terdiam, ia memikirkan bagaimana kelanjutan dari Danny yang mengejar makhluk hitam asing itu, untungnya ia juga masih memiliki sisa kekuatan yang tersimpan pada dirinya untuk membuat semua orang yang berada di sini berkumpul pada satu tempat karena memang itulah yang paling tepat untuk dilakukan saat ini.
Pak tua itu yang sudah sewaspada semampunya itu pun masih ada hal yang terjadi di luar perkiraannya, seperti kejadian sebelumnya di mana batu permata mulia kecepatan yang tiba-tiba diambil oleh makhluk misterius.
Maka dari itu ia berniat untuk melindungi semua muridnya ini, kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi diluar perkiraan juga, setidaknya mereka bersama-sama dalam menghadapi ini.
Tuan Housen masih terdiam, ia sendiri tidak yakin akan menjelaskan semuanya pada para muridnya ini, lagipula ia masih menunggu kabar Danny yang terakhir kali dilihatnya mengejar sosok hitam misterius itu, dan lagi dentuman keras yang didengarnya beberapa saat lalu membuatnya berpikir apakah makhluk misterius adalah jahat?
Semuanya belum bisa terungkap sebelum Danny benar-benar muncul sekarang, lagipula bagaimanapun juga pak tua ini percaya padanya dan tidak menjelaskan hal yang akan mengkhawatirkan teman-temannya bukanlah hal yang salah.
"Kita sedang menunggu Danny, tenang saja dia akan segera datang." Tuan Housen sendiri percaya akan kekuatan Danny, ia yang sudah beberapa waktu bersamanya melihat begitu hebatnya potensi yang dimilikinya, jadinya jika ia harus bertarung sekarang maka itu bukanlah masalah.
__ADS_1
"Begitu ya." Patricia memegang dagunya sendiri dan masih saja terlihat penasaran akan sedang apa yang dilakukan temannya itu, mendengar penjelasan gurunya tidak membuatnya merasa puas dan tidak cemas lagi.
Beberapa waktu kemudian perlahan muncullah kilatan-kilatan listrik berwarna kuning di dekat mereka, dan tentu saja sesuatu yang tiba-tiba muncul ini mengejutkan empat orang yang sedang berada di dekat rumah ini.
"A-apa itu?!" Patricia menujuk ke arah di mana ada kilatan-kilatan petir kuning perlahan muncul, ia kemudian mundur karena memang itu adalah cara yang aman untuk menghindari akan munculnya hal aneh itu.
Tuan Housen pun melihat hal yang sama, ia segera menyuruh ketiga anak muridnya untuk mundur sedikit menjauh dari tempat di mana kilatan-kilatan petir berwarna kuning muncul.
Kilatan-kilatan itu semakin membesar, ia tidak merusak apa yang disekitarnya, hanya saja suara yang dihasilkan dan juga percikan-percikan cahayanya yang membuat keempat orang ini waspada akan kemunculannya ini.
Zlit!
Danny muncul tepat setelah kilatan-kilatan listrik kuning itu membesar, setelah ia sampai ia melangkah dari sana dan kilatan-kilatan yang tadinya muncul itu perlahan menghilang kembali.
"Danny?!" Patricia terkejut dengan apa yang dilihatnya itu, ia kira akan terjadi hal apa ternyata temannya yang sedang dipikirkannya ini malah muncul seketika seperti ini.
Danny membuka matanya, matanya yang kuning mirip dengan maya kucing tadi perlahan berangsur-angsur menjadi hitam kembali layaknya seperti biasa.
"Kau sudah menyelesaikannya Danny?" Tuan Housen tersenyum, ia ternyata tidak usah terlalu khawatir juga pada anak muda ini, ia melihat anak didiknya itu berada dalam kondisi yang sangat bagus.
Teman-teman Danny yang lain heran akan apa yang tengah Danny dan Tuan Housen bicarakan, mereka berbicara seolah hanya mereka berdua saja yang tahu apa yang sedang dibicarakannya.
Tuan Housen kemudian mengajak Danny bersama dengan yang lainnya untuk kembali masuk ke rumah, hari sore kembali datang, kini tiba saatnya untuk beristirahat agar besok bisa melanjutkan kembali perjalanan.
***
Setelah membersihkan diri dan makan malam selesai Danny memutuskan untuk ke kamarnya dengan cepat, ia hendak beristirahat sebelum akhirnya besok ia harus kembali mencari pemegang batu permata mulia lainnya.
"Tidak terasa sudah beberapa waktu aku berada di sini." Danny sedang merebahkan dirinya dan menutup matanya dengan lengan kanannya.
Danny lagi-lagi tidak menyangka dengan apa yang telah terjadi sebelumnya, di mana ia tahu Feyra, nama asli dari kelompok Dark Shadow sudah membuat pengakuan padanya dan itu membuat Danny lebih bersimpati lagi padanya.
Di tambah pernyataannya yang juga ia selalu mengawasi Danny, tentu saja hal ini aneh sekaligus tidak masuk akal, namun terkadang hal seperti itulah yang terjadi di dalam kehidupan ini.
Danny bertekad ia akan berdiri di sisinya kali ini, ia tidak bisa lagi membiarkan Feyra berakhir seperti Yizi di mana dia dituduh sebagai organisasi ilegal dan bahkan harus disingkirkan, padahal organisasi mereka tidak berbuat kejahatan sama sekali.
__ADS_1
Inilah yang menjadi masalah utama yang terjadi ketika semuanya tidak dijelaskan secara gamblang, kesalahpahaman akan tetap terus berlanjut jika tidak ada kebenaran yang diungkap, maka dari itu Danny berani untuk mendukung Feyra dalam hal ini.
Di sisi lain, jika ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Tuan Arthur, maka itulah saatnya di mana ia bisa berbicara dengannya kembali dan sebisa mungkin mencegah hal buruk yang bisa terjadi.
Danny menutup matanya, menarik selimutnya dan kini ia benar-benar mengistirahatkan tubuhnya untuk besok kembali ia meninggalkan tempat ini dan melanjutkan kembali perjalanannya.
***
"Tuan Housen, terima kasih atas bantuannya selama ini." Danny dan teman-temannya sudah bersiap-siap mengantongi setiap perbekalannya, kebetulan barang kantong dan beberapa baju yang dibawa mereka memang pemberian dari gurunya juga.
"Aku senang membantumu Danny, dan kalian juga." Tuan Housen tersenyum, ia akhirnya bisa menuntaskan kewajibannya sebagai salah satu pemegang batu permata mulia, kini ia sudah lepas dari tanggung jawabnya melindungi batu tersebut.
"Kami tidak bisa memberikan apapun pada Tuan, namun Tuan memberikan banyak hal pada kami." Danny menggaruk pipinya sendiri, waktu ketika ia berlatih di sini pastilah tidak bisa dilupakannya, terlebih lagi bertemu dengan Tuan Housen yang ramah ini.
"Itu adalah kewajibanku, jangan merasa tidak enak, kalian harus tetap melanjutkan perjalanan apapun yang terjadi." Tuan Housen sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai semua bantuan yang ia berikan pada empat anak muda ini, sebaliknya ia merasa senang karena bisa membantu mereka dan berharap perjalanan mereka selalu disertai keberuntungan.
Akhirnya Tuan Housen mengantar mereka ke sebuah perahu kecil, di mana memang hanya cukup untuk empat orang, mereka berempat harus menyeberangi pulau ini, dan kini ia harus menggunakan perahu ini.
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Danny dan Brock perlahan mengayuh perahu meninggalkan tepi pantai itu.
"Jaga dirimu Tuan!" Patricia melambaikan tangannya dari kejauhan dan bahkan suaranya yang keras itu bisa terdengar samar-samar dari tempat pak tua ini.
Tuan Housen membalas lambaian tangan mantan anak muridnya itu, ia berharap dia dan kedua temannya dapat dilindungi oleh Danny, karena memang hanya itulah hal yang bisa terjadi di masa depan.
***
Danny dan Brock masih mengayuh perahu kecil itu dengan penuh semangat, yang mereka lihat saat ini hanyalah hamparan air yang tidak kelihatan ujungnya yang ini menandakan memang pulau yang sebelumnya mereka singgahi itu adalah satu-satunya pulau yang ada di tengah lautan luas ini.
"Kita tidak akan terus melihat hamparan air ini bukan?" Vincent merasa bosan dengan apa yang dilihatnya setelah beberapa saat berlalu, ternyata ia orangnya cepat bosanan juga.
"Daripada kau mengeluh begitu ini." Brock menyerahkan dayung perahu itu karena memang sudah beberapa saat ia mendayung dan melihat temannya protes seperti itu membuatnya tidak nyaman lagi.
"Aku tidak bilang ingin mendayung Brock, lakukan saja apa yang sedang kau lakukan itu." Vincent memalingkan mukanya dari Brock yang memang hendak menyerahkan dayung itu padanya, sungguh alasan yang sederhana jika saja ia berkata tidak mau mendayung perahu ini maka semuanya menjadi jelas.
"Hih." Brock pada akhirnya mendayung kembali bersama dengan Danny, mereka mendayung sudah beberapa lama dan sepertinya sudah cukup jauh dari pulau tempat Tuan Housen berada, meskipun pulau itu masih terlihat sedikit dari sini.
__ADS_1
"Danny mengapa kamu diam saja dari tadi?" Patricia melihat Danny yang sedari tadi diam seperti tengah memikirkan sesuatu, sejak ia mendayung dari tepi pantai sampai berada sejauh ini.