Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 352: Masih Dalam Perjalanan, Bersabarlah


__ADS_3

Beberapa saat ketika masih dalam perjalanan, Brock akhirnya bangun dari tidurnya, tepat setelah obrolan ketiga orang yang tengah duduk di kereta barang itu bersama dengannya.


"Huaaah!" Brock tanpa ragu-ragu dan melihat sekelilingnya meregangkan badannya, ia merasa segar dan rileks kembali setelah tidur sebentar tadi, namun meskipun begitu kantuknya sama sekali tidak sepenuhnya hilang padanya.


"Hei, Brock, bisakah kau singkirkan tanganmu dari wajahku?" Tangan Brock yang besar sekaligus meregang itu hampir menghimpitnya lebih sempit lagi, dan tentunya tidak menbuatnya lebih nyaman untuk duduk.


"Oh Vincent, kau akhirnya kembali? Kau dicari oleh Danny tadi." Brock nampaknya tidak mengetahui dan mendengar apapun selama tertidur dengan damai tadi.


Dan Vincent juga tidak begitu mau untuk menceritakan semua yang telah dialaminya pada temannya, meskipun itu adalah teman terdekatnya sekalipun alasannya adalah ia sudah menceritakan hal ini pada Danny dan Patricia jika harus diulangi dua kali, malas juga rasanya.


"Tenang saja, Danny sudah menemukanku." Vincent menganggap semuanya baik-baik saja agar rekannya tidak begitu bertanya banyak hal padanya.


Danny sendiri menghargai keputusan Vincent untuk tidak menceritakan pengalamannya tadi pada Brock, ia malah berpikir Vincent tidak mau menceritakan hal ini karena memang tidak mau membuat teman terdekatnya itu khawatir.


Perjalanan menggunakan kereta dagang yang ditarik oleh kuda masih berlanjut, mereka berempat masih menunggu kemanakah gerangan lokasi yang akan mereka tuju itu, dan di mana pun lokasinya di situlah mereka sepertinya akan berlatih.


Perjalanan menanjak dan berbatu masih berlanjut pula, seakan mereka tengah menaiki bukit yang tinggi, Danny sendiri tidak tahu apakah memang benar mereka akan menuju ke sana karena memang ia sendiri tidak yakin jika harus berlatih di atas sana.


Bahkan Tuan Housen harus menggenggam tali kudanya dengan erat selagi mereka berjalan ke atas itu, karena jika kehilangan kendali maka sudah pasti kudanya akan terjatuh dan begitupula kereta dagangnya sama, dan itu adalah hal yang dihindarinya dalam perjalanan ini.


Mendengar kesaksian dari Vincent sebelumnya, itu membuat Tuan Housen lebih tahu lagi akan apa yang harus dilakukannya, karena banyak hal yang tidak diduga bisa saja terjadi, merahasiakan apa yang akan mereka rencanakan ini adalah hal yang tepat.

__ADS_1


"Anak-anak muda itu menjadi incaran para iblis sekarang, aku akan pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa menemukan kita." Dan terdengar pula lagi suara pak tua itu dengan nyaring, matanya yang berwarna kuning keemasan yang terlihat tenang dan ramah itu mulai berubah menjadi sedikit lebih serius, dan bertekad untuk menjalankan bagiannya dengan baik.


Kreeet.


Kereta dagang bertenaga kuda itu sudah sampai di puncak paling atas dari bukit yang telah mereka naiki, dan untuk sesaat Danny berpikir sudah sampai dan tidak ada salahnya juga jika turun di sini.


"Sudah sampai?" Danny melihat bagaimana keadaan di luar setelah banyak guncangan yang terjadi di kereta itu.


"Oh? Kau tidak mual Vincent?" Brock keheranan bagaimana bisa temannya itu bersikap baik-baik saja setelah banyak sekali guncangan yang mengocok perut itu, padahal sebelumnya dia merasa mual setelah menaiki kereta ini juga.


"Itu bukanlah hal yang terlalu menggangguku, hanya ada satu hal lain yang menggangguku saat ini." Vincent berusaha membenarkan posisi badannya yang terhimpit temannya itu, tidak banyak ruang yang tersisa dan membenarkan posisi adalah satu hal yang tidak terlalu berguna untuk dilakukan.


Vincent tidak habis pikir mengapa si teman yang berotot dan bertubuh besar itu tidak memahami bahwa dia sedang menghimpit seseorang saat ini, mengapa bisa-bisanya dia membiarkan hal ini biasa saja baginya?


Yang pasti ia hanya bisa bersabar menghadapi kesempitan yang sedang dialaminya ini, bukan hal yang besar namun entah mengapa ia memang peduli juga pada kenyamanan dirinya saat ini.


Sedang Danny perlahan mengeluarkan kakinya untuk melompat dari kereta barang itu, rasa penasaran terus menghinggapinya ia ingin melihat dan merasakan angin segar baru sekarang.


"Semuanya jangan turun dahulu!" seru Tuan Housen dengan tiba-tiba dari arah kemudi di depan mereka.


"Apa?" Danny mendengar perkataan perintah yang berlawanan dengan keinginannya saat ini, dan juga ia bertanya-tanya mengapa Tuan Housen tidak memperbolehkannya untuk keluar dari kereta barang ini?

__ADS_1


Padahal angin segar di tengah hari sangat menggodanya untuk keluar dari kereta ini, Danny ingin merasakan secara langsung di perbukitan luas yang sudah mereka capai ini, rasnaya pemandangan dari dataran tinggi ini sayang sekali bilamana dilewatkan.


Tuan Housen memandang ke area perbukitan yang penuh dengan tanah lapang itu, ia bisa melihat bagaimana indahnya pemandangan di bawah sana dengan sungai yang mengalir membelah kedua hutan yang berbeda wilayah, begitupula kota sebelumnya yang sudah mereka singgahi dapat sepebuhnya terlihat di sini, dan fakta yang menyebutkan bahwa kota itu adalah kota kecil dapat terlihat dengan jelas di sini.


Kewaspadaannya meningkat, begitulah yang terjadi pada pak tua itu saat ini, ia tidak mau lagi perjalannya bersama anak-anak muda ini terganggu karena hal lain, apalagi tadi tanpa sepengetahuannya iblis tiba-tiba muncul pertengahan perjalanannya itu.


Aku menduga iblis banyak muncul karena mengincar seorang yang memiliki kekuatan suci dan orang itu tengah bersama denganku saat ini.


Bukan tidak mungkin lagi masih ada lagi yang mengincar perjalanan ini saat ini, namun sejak sepanjang jalan menanjak ini aku tidak merasakan adanya hawa kehadiran siapapun lagi.


Namun sekarang ada atau tidaknya para iblis yang sedang mengincar kita tidak penting lagi, aku akan bergerak cepat sekarang.


Tuan Housen mengatakan sesuatu tentang bergerak cepat, yang memang ia menunggu saat-saat ini untuk melakukan tindakannya itu.


"Pegangan yang erat, kita akan berangkat ke tempat yang sebenarnya, pastikan jangan mengeluarkan anggota tubuhmu keluar kereta!" Dan peringatan berlanjut dari Tuan Housen yang makin membuat Danny penasaran mengapa perjalanan belum selesai, bukankah mereka sudah sampai di tempat yang dituju, di bukit ini?


Danny menggaruk kepalanya pelan tidak memahami apa yang terjadi, dan ia pun menarik kembali kakinya yang tadinya sudah keluar setengahnya itu, mau tidak mau meskipun bingung ia harus tetap mengikuti perintah Tuan Housen mengenai hal ini.


Lalu ia pun melayangkan pandangannya pada teman-temannya, terlihat tidak begitu ada hal yang terjadi di sini, Patricia sedang setengah mengantuk, Vincent tengah bersantai dan sebenarnya tangannya menjulur keluar, ia nampak melakukan itu karena sepertinya tidak tahan begitu sempitnya tempat duduknya itu, dan lagi Brock seperti tengah akan mengatakan sesuatu pada teman yang disebelahnya itu.


"Heh, Vincent kau tidak dengar tadi perkataan Tuan Housen, tangan kananmu menjulur keluar dan kau terus-terusan memandang keluar, cepat benarkan posisi dudukmu itu!"

__ADS_1


Vincent melambai-lambaikan tangannya tanpa berbalik tanda ia sudah mendengar apa yang dikatakan temannya itu, ia tetap menatap ke luar saat ini, tengah mengambil angin segar sepertinya.


"Sampai kapan aku harus terhimpit dengannya? Mengapa perjalanan ini belum berakhir juga?" gumam Vincent pelan, keringatnya mulai kembali hadir, hawa sejuk yang seharusnya dirasakannya saat ini tidak begitu berpengaruh banyak padanya, sejak dari tadi ia terus berusaha untuk tidak terganggu dengan tempat duduk yang sempit itu, namun ternyata pada akhirnya ia terganggu juga.


__ADS_2