Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 69: Munculnya Ksatria!


__ADS_3

Danny tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku begitu ia mulai menutup matanya.


A ... Ada apa ini?


Apa yang terjadi padaku?!


Mau digoncang sekuat apapun percuma, Danny merasa tubuhnya tidak bisa di gerakkan sama sekali, sebenarnya apa yang terjadi?


Danny panik selama beberapa saat, namun ia kemudian sadar, mungkin saja tubuhnya mengalami reaksi karena ia telah menerima sekaligus menjadi pemegang batu permata daya tahan yang baru.


Maka dari itu Danny berusaha untuk tetap tenang, ia tidak mau terbawa panik karena keadaannya sekarang.


Ia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba untuk tidur meskipun dengan keadaannya yang seperti ini.


Tiba-tiba Danny kembali dibawa ke sebuah tempat, tempat yang sama percis ketika Danny pertama kali berusaha menemukan batu permata fisik.


Disana begitu gelap, namun ada dua buah cahaya merah dan coklat yang bersinar, Danny bersegera untuk menghampiri cahaya itu.


Benar saja dugaannya, ada lima wadah mirip wadah perhiasan ditopang oleh baja putih, di sana terdapat dua buah batu permata, sisa tinggal tiga lagi yang masih kosong.


Di situ dapat Danny simpulkan bahwa alam bawah sadarnya ini sendiri menjadi 'wadah' sementara para batu permata mulia itu sebelum batu tersebut terkumpul semua dan akhirnya bisa membuat sebuah senjata yang kuat.


Danny bangun di pagi hari, cuaca di luar cerah, memberikan energi positif padanya, dan lagi kini tubuhnya dapat digerakkan.


Danny mencari-cari batu permata itu, ternyata tidak ada kemudian ia pun sadar batu permata mulia itu telah tersimpan di alam bawah sadarnya sendiri.


Danny mulai paham akan hal ini, dan sejujurnya ini akan lebih efesien dibanding Danny harus menyimpan batu tersebut di suatu tempat dan memiliki risiko untuk hilang.


Danny segera berkemas, ia di berikan tas oleh Kakek Leith sehingga ia tidak perlu lagi pakai tongkat lagi, begitupula dengan Patricia, ia di berikan juga tas dan beberapa peralatan yang lain.


Mereka berdua diberikan senjata untuk melindungi diri, Kakek Leith dan para pelayannya mengantarnya sampai gerbang, "Semoga perjalanan kalian berhasil."


Mereka berdua berpamitan dengan semuanya, "Jaga diri baik-baik kek!" ujar Danny sembari melambaikan tangannya.


Akhirnya mereka kembali berpetualang kembali, entah apa yang menunggu mereka di depan namun yang pasti mereka akan terus berusaha secara maksimal.


***


"Sialan bocah antah berantah yang memiliki energi suci!"


"Mana mungkin dia mampu mengalahkan Victoria?!"


Terlihat seorang perempuan berjubah hitam kelam tengah berjalan di antara para masyarakat di tengah kota.

__ADS_1


Ia menggerutu dan sesekali menggigit kukunya sendiri, "Akan kutemukan bocah yang menyusahkan itu!"


***


Danny kembali melanjutkan perjalanannya bersama Patricia, mereka berdua tengah melewati sebuah jembatan yang berada di antara dua tebing yang cukup curam.


"He-hei Danny ... apa kita perlu menyeberangi jembatan ini?" Patricia memegang jembatan kayu yang terlihat cukup tua, terasa tidak meyakinkan bila ia menginjakkan kaki di atasnya.


"Ini adalah jalan tercepat menuju lokasi selanjutnya!"


"Oh, iya kali ini kita akan kemana?"


Danny menunjuk ke arah jalan setapak yang dipenuhi oleh bebatuan besar, "Kita akan kesana ..."


"Hah? Maksudmu di depan sana? Di sana hanya ada hamparan batu luas, mau apa pergi ke sana?"


Danny mempunyai firasat bahwa ia memang harus pergi ke sana, "Sudahlah ayo mulai menyeberang," ucap Danny sembari mulai berjalan di jembatan kayu yang rapuh itu dengan memegang kedua belah tali di masing-masing sisi agar bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Bahkan talinya itu sudah termakan usia, tidak terbayangkan bila ia mudah sekali putus hanya dengan satu sayatan benda tajam.


Goncangan-goncangan terasa sekali ketika menyeberangi jembatan itu, namun Danny tetap berusaha untuk membuat tubuhnya tetap seimbang.


Beberapa saat meskipun berjalan pelan, akhirnya Danny sampai di ujung jembatan itu. "Hei ayo kau menyeb--"


Belum selesai berbicara, Patricia langsung lari tanpa mempedulikan apapun, ia berlari begitu cepat- layaknya jembatan kayu itu bukan masalah besar baginya.


Danny terdiam, "Kau lumayan juga ..." Patricia masih ngos-ngosan akibat kegugupannya tadi, ia kira akan jatuh ke bawah tebing berkabut yang dimana tidak ada yang tahu apa yang berada di bawahnya.


"Mari kita lanjut," ujar Danny


***


Di hamparan dataran luas itu, hanya terdapat berbagai macam batu besar dan kecil, ini nampak seperti lautan batu.


Danny belum pernah melihat tempat ini sebelumnya, "Apakah kau pernah ke sini Patricia?"


Ia hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak, ini pertama kalinya aku melihat tempat seperti ini ..."


Tempat ini sepertinya terbentuk secara alami sejak dahulu kala, batu-batu itu mungkin sudah berusia ratusan tahun.


Entah bagaimana caranya batu besar itu bisa terhampar di daerah ini, Danny kurang pintar dalam hal sejarah.


Tidak ada pohon atau binatang apapun di sini, hanya ada tanah bebatuan yang keras dilengkapi dengan hamparan batu yang besar.

__ADS_1


Di tengah hamparan batu-batu itu, terlihat seorang pria muda, berambut pirang ia tengah menatap tajam.


Tidak ada hal lain yang pria asing itu lakukan selain memperhatikan dengan tajam Danny dan Patricia, layaknya memang ia sudah menyambut kedatangan mereka berdua.


Tatapan mata birunya itu membuat dada terasa sesak, "Si-siapa itu?" Danny merasa was-was.


Seorang pria yang memakai perlengkapan ksatria lengkap, dengan enam bintang emas kecil di dadanya itu, ia nampak begitu berkilau dan meyakinkan.


Pria itu mulai mendekati Danny dan Cecilia, Danny merasa aura di sekitarnya berubah, ini seperti-


"Patricia, mundur ..." Danny menjulurkan tangannya untuk melindungi Patricia, ia merasakan hal buruk sedang mendekati mereka.


"A ... ada apa Danny?" Patricia keheranan melihat Danny yang begitu waspada melihat pria asing yang mereka lihat itu, memang setelah ia lihat, tatapan seperti itu memang...


"Mau kemana kalian?" Pria itu mulai berbicara, raut seringai wajahnya sama sekali terlihat sedikit mengerikan.


Suaranya begitu dalam, penuh makna layaknya pria tampan pada umumnya.


Meskipun dari luarnya tampan, namun Danny bisa melihat hatinya dipenuhi dengan ambisi yang besar.


SRUK!


Pedang, yang disarungkannya itu, pedang berlapis emas!


Danny sempat ingat dengan pembicaraan dulu dengan kakeknya, ia selalu berbicara tentang ksatria muda yang berbakat dan tersohor dari kerajaan barat.


Danny senang mendengarkan cerita dari kakeknya itu, ia sempat mengagumi dan ingin menjadi layaknya ksatria itu, ia nampak begitu hebat dan dikagumi oleh banyak orang, itu adalah salah satu alasan mengapa Danny belajar ilmu berpedang, untuk menjadi seperti dia!


Danny beberapa kali melihat poster dan gambaran wajah ksatria itu ketika tinggal di desa asalnya, karena begitu tersohornya dia sudah seperti selebriti saja.


Rambut pirang itu ...


Mata biru tajam itu ...


Pedang berlapis emas itu ...


dan lagi


KETAMPANANNYA ITU ...


Tidak salah lagi ...


Dia adalah ...

__ADS_1


Arthur!


__ADS_2