
“Ada apa Danny?” Patricia terlihat penasaran akan apa yang dibicarakan Danny tadi.
“Ah, aku hanya mengobrol dengan guru saja,” jawab Danny sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ternyata memang temannya menyadari pembicaraannya dengan gurunya.
“Vincent?” Danny merasakan aura kekuatan temannya ini membesar.
Tidak biasanya terasa seperti ini karena memang tidak ada ancaman apapun di sini.
“Abaikan saja dia Danny.” Brock tidak ambil pusing akan apa yang dilakukan temannya itu.
“Ah soal tadi, maaf aku mengejutkan kalian.” Danny sadar juga akan tadi ia mengubah suasana yang tenang jadi tidak nyaman.
“Tidak apa, tapi apa kamu benar-benar baik-baik saja?” Patricia masih belum yakin Danny baik-baik saja. Raut wajahnya dengan jelas menampakkan ada sesuatu yanglebih dari apa yang dikatakannya.
Mulai dari pelupuk mata yang lembab, suaranya yang lemah dan juga tubuhnya yang terlihat tidak bersemangat. Patricia bisa melihat dan tahu semua dengan jelas dari Danny.
Bisa saja nampak lelah itu karena hasil dari latihannya selama ini, namun Patricia merasa ada hal lain selain itu.
“Aku ingin istirahat di bawah pohon, kalian bersantai saja ya.” Danny meninggalkan ketiga temannya dan berjalan ke area di mana ada pohon besar, cukup jauh, namun ia pikir ia memang butuh waktu untuk menenangkan diri.
Shhhh....
‘Anginnya sejuk.’ Sesampainya di sana Danny disambut dengan hawa udara yang menyegarkan, tidak peduli tempat ini hanyalah terbuat dari energi sihir, namun Danny tetap bisa merasa nyaman.
Danny perlahan duduk di bawah pohon besar itu, bersandar dan menselonjorkan kakinya, rasanya memang benar-benar nyaman.
Tes....
Tes...
Tanpa terasa mata Danny mengeluarkan sesuatu yang membasahi pipinya, ia hanya menatap ke depan sedang hatinya yang sudah tenang ini bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya dengan jelas.
‘Aku tidak mau kehilangan temanku lagi....’
Danny menikmati suasana sendirinya ini, terasa tenang sampai-sampai ia tidak memikirkan apapun selain tekadanya sekarang ini.
“Danny?” Terdengar suara Patricia dari belakang, membuat Danny harus segera mengusap matanya sendiri.
“Ada apa?” Baru saja sebentar ia sendiri, temannya sudah kembali berada di dekatnya lagi.
Tapi toh Danny tidak terganggu juga dengan keberadaan Patricia, ia tidak benar-benar butuh suasana yang tenang, hanya saja ia butuh waktu untuk tenang.
“Aku boleh duduk di sini?”
“Tentu.” Danny mempersilahkan temannya untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
Patricia pun duduk di sebelah Danny, terlihat menikmati suasana di area lapang ini. Jiwanya seolah dibebaskan dan ia merasa tenang sekali.
“....”
Momen hening ini sungguh berarti bagi Danny, namun bagi Patricia, ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan soal temannya ini.
Mau mengatakan banyak hal pun, ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat. Alhasil Patricia benar-benar menemani temannya secara harfiah.
Dengan atau tanpa keberadaannya tidaklah penting, bagi Patricia lebih baik seperti ini daripada berusaha menghibur, namun tidak berakhir seperti yang ia pikirkan.
“Kamu sudah bertambah kuat.” Danny memecah keheningan dengan mengatakan hal ini.
“Eh?”
Patricia menatap Danny dengan seksama, ia masih melihat raut wajah yang tidak berdaya dari Danny dan dengan bersamaan bisa merasakan kesungguhan dalam ucapannya itu.
‘Aku tidak mau terjebak oleh masa lalu. Aku harus bangkit.’
Danny menguatkan hatinya, semuanya ini demi teman-temannya dan misi yang tengah ia emban.
Patricia masih terdiam, ia tahu Danny memang sedang tidak baik-baik saja, namun dia masih sempat untuk memikirkan hal lain selain dirinya sendiri.
‘’Te- terima kasih.” Patricia sedikit menundukkan kepalanya,
dan tersenyum kecil.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi Danny.” Tak lama setelah Patricia tenang kembali, akhirnya ia mengatakan hal ini.
“Kami akan selalu bersamamu.” Patricia menatap Danny dengan penuh arti, ia memang tidak tahu banyak soal latar belakang rekannya ini. Namun setidaknya Danny tidak perlu menanggung semua beban ini sendirian.
Danny terdiam, mendengar ini membuat tekadnya makin berkobar. Tidak ada waktu lagi untuk meragukan diri sendiri, waktunya untuk menghadapi apa yang ada di depannya dengan sepenuh hatinya.
“Terima kasih Patricia.” Danny menatap temannya dengan senyum tulus.
“A- ah, iya.” Patricia memalingkan wajahnya ketika melihat senyum temannya itu, entah mengapa jantungnya berdebar seketika itu juga.
Srug.
“Baiklah teman, aku tidak mau mengganggu, tapi kalian harus lihat ini.” Terdengar suara seorang pria dengan nada datar, membuat Patricia dan Danny menoleh bersamaan.
“Vincent?” Danny tidak sadar akan keberadaannya, dan mengapa dia terlihat tidak suka dengan apa yang dilihatnya?
“Lihat.” Dengan mata yang datar pula Vincent menunjuk ke langit, dan memang ada yang aneh di sana.
Ada seperti portal berwarna hitam besar di langit sana, padahal tadi tidak ada pemandangan aneh seperti itu.
Danny tidak merasakan adanya hawa sihir yang lain, entah mengapa saat ini ia kehilangan kemampuan mendeteksi hawa sihir.
__ADS_1
“Apa guru Freiss sedang melakukan sesuatu?” sangka Danny, karena tempat ini buatan gurunya sendiri maka ia bisa berprasangka seperti itu.
“Guru tidak tahu soal ini, aku datang ke sini untuk memanggil kalian.” Nada bicara Vincent tidak lagi datar seperti sebelumnya.
Vincent memang tidak terlihat mau mengganggu momen ini, namun ia tidak punya pilihan karena hal aneh terjadi sekarang ini.
*
Kini Danny melihat gurunya bersama dengan Brock melihat ke atas, Danny bisa melihat portal hitam itu membesar seiring dengan berjalannya waktu, seolah ada sesuatu yang terjadi di sana.
Dari jarak dekat tidak membuat portal hitam itu terlihat indah, sebaliknya, begitu pekat dan hitam portal bulat hitam itu terasa penuh dengan misteri.
‘Guru Freiss tidak tahu akan hal ini?’ Danny memikirkan ini, jikalau seorang yang menggunakan teknik perubahan tempat ini tidak tahu apa yang terjadi, apalagi dirinya dan teman-temannya.
“Aku tidak merasakan apa-apa dari sana.” Suara berat Brock memecah keheningan yang berlangsung beberapa saat, pendapatnya sama persis dengan Danny.
‘Jadi tidak hanya aku saja.’ Danny jadi penasaran akan hal kemunculan portal misterius ini, yang di mana seharusnya kemunculan portal itu adalah tanda-tanda kedatangan seseorang.
Namun tidak ada hawa kehadiran atau kekuatan yang terasa di sini, bahkan setelah beberapa saat portal ini muncul dan bertambah besar.
Freiss sendiri melihat penampakan ini dengan raut wajah yang tenang, ia memang tidak tahu apa yang terjadi, namun bukan berarti ia tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi ini.
Shhhh....
Sementara itu portal hitam itu akhirnya berangsur-angsur menghilang, dan langit kembali seperti keadaan semula, berwarna biru cerah indah.
“Pyuh. Astaga, tadi menegangkan juga.”
Vincent malah sedari tadi terduduk, wajahnya penuh keringat dan raut wajahnya sedikit pucat.
“Kau takut?” Brock menatap ke bawah, melihat pada temannya itu.
Bisa dibilang Brock menatap temannya dengan ‘tatapan menyedihkan’ yang tidak disukai oleh kebanyakan orang.
“Hah! Aku tidak takut, hanya terkejut saja.” Sontak Vincent berdiri dan mengibaskan rambut sebahu kebanggaannya.
“Lubang hitam tadi mirip seperti yang ada di pertunjukkan seram. Kereen.” Patricia malah mengomentarinya dengan mata berbinar, ekspresi yang jauh berbeda dari yang ditunjukkan Vincent.
Sementara itu Freiss masih terdiam, pemandangan tadi memang diluar apa yang jadi perkiraannya, maka dari itu ia masih terdiam sekarang.
“Baiklah, kalian boleh bersantai lagi seperti biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!” Freiss berhenti terdiam dan kini mengatakan hal yang melegakan.
“....” Sementara Brock, Patricia, dan Vincent saling bercakap-cakap akan apa yang terjadi tadi. Danny masih penasaran akan apa yang terjadi tadi.
Meski kini kata gurunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, namun Danny tidak bisa melonggarkan kewaspadaannya.
‘Pasti ada sesuatu dibalik kejadian tadi,’ batin Danny dalam hatinya.
__ADS_1