Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 107: Sambutan


__ADS_3

"A ... apa ini?" Danny heran melihat mereka menunjukkan kue besar itu, mungkinkah ada yang berulang tahun sekarang?


"Siapa ini yang ulang tahun?" tanya Danny dengan heran ketika melihat mereka berdua memegang kue besar itu.


"Ahaha, ini bukan perayaan ulang tahun." Vincent sampai tertawa melihat tingkah Danny seperti ini.


Mereka berdua maju sedikit. "Ini adalah sebagai ucapan syukur karena kamu telah sehat kembali," ujar Brock.


"Kami kesepian tanpa ada kamu di sini lho Danny." Tambah Vincent meyakinkan, tapi tetap saja Danny tidak yakin sih.


Akhinya mereka duduk bersama-sama, kue vannila itu penuh dengan cream, sepertinya ada potongan coklat di dalamnya, di atas kue terdapat pula stoberi yang melingkari sudut kue tersebut, kue yang cukup unik dan memberikan kharisma tersendiri.


"Kalian tidak perlu repot-repot begini lho," ujar Danny, rasanya memang Danny merasa merepotkan mereka berdua dan merasa tidak layak menerima kue seindah dan sebagus itu.


Vincent kemudian memegang sebuah pisau kecil, Brock ada di sebelahnya memegang wadah plastik tempat biasanya kue itu diletakkan, akhirnya mereka memotong salah satu bagian kue itu secara perlahan.


"Ini untukmu Danny," ujar Brock sembari menyerahkan wadah plastik kecil berisi potongan kue itu pada Danny.


Cream vannila yang berada di dalamnya meleleh seketika, ini nampaknya memang bukan kue biasa, ini khusus dipersiapkan oleh Vincent dan Brock khusus untuk Danny.


Danny menerima kue itu dari tangan Brock. "Enak?" Pertanyaan dari Vincent seketika itu juga muncul.

__ADS_1


BUG!


Tangan besar Brock lagi-lagi melayang ke arah kepala Vincent, seperti biasanya ada asap dan benjolan yang tiba-tiba mencuat dari kepalanya itu, "Kebiasaan, dimakan juga belum sudah nanya rasa ...."


"Ahaha-" Danny mengambil garpu platik kecil yang bersamaan ada di sebelah kue tersebut, ia mulai menancap potongan kue itu dan langsung segera memasukkannya pada mulutnya.


Rasa Vanilla yang kuat, bercampur dengan potongan coklat dan tak lupa buah stroberi membuat rasa yang sangat nikmat, rasa yang mewah dan tidak biasa.


"Hmmmm ..."


"Enak!" Komentar Danny setelah menghabiskan potongan kue itu, rasanya benar-benar kuat menempel pada lidah Danny saat itu.


"Kalian membeli kue ini untukku?" Danny penasaran mengapa mereka sampai repot-repot membeli kue ini untuknya.


"Kami membuatnya ...." Jawab Brock, Danny tidak menyangka jawaban seperti itu yang keluar ternyata.


"Benarkah?!" Seru Danny dengan mata yang terperanjat, tidak bukan kaget tapi kagum terhadap kue yang telah mereka buat itu.


"Itulah gunanya dapur, hahaha." Vincent kembali bergaya dengan memegang rambutnya, ya lagi-lagi berlagak seperti cowok ganteng (tapi mungkin saja sih).


"Tapi bagaimana kalian mendapat bahan-bahan untuk membuat kue?"

__ADS_1


"Kami memesannya dari pemimpin tempat ini, Dark Shadow kebetulan mereka tidak keberatan dan akhirnya kami bisa mendapat bahan-bahannya," ujar Brock.


Vincent menambahkan. "Kamu tidak usah khawatir tentang biayanya itu sudah kami yang tanggung haha ...."


"Biaya tersebut sudah merupakan gaji kita di sini sebagai petarung, terutama yang ambil bagian dalam kompetisi itu, jadi semuanya beres." Tambah Brock menjelaskan.


Danny malah merasa tidak enak karena ia telah merepotkan mereka dengan membuat mereka harus mengeluarkan uangnya.


"Sudah kami bilang jangan khawatir," ujar Vincent sambil ikut memakan potongan kue itu, begitupula dengan Brock juga.


Mereka juga nampaknya menikmati kue itu, bahkan mulut Vincent sampai belepotan ketika memakan kue itu, namun hal itu tidak diindahkan Brock, Brock tetap memakan potongan kue itu dengan elegan dan tidak berceceran.


"Sejak kapan kalian mahir membuat kue?"


Mendengar pertanyaan Danny itu membuat Vincent berkata, padahal mulutnya masih penuh dengan sisa kue "Apa? Kami membuatnya lho, tapi ide dan kemahiran utamanya ada pada Brock."


Danny melayangkan pandangannya pada Brock, ia melihat Brock nampak tersenyum kecil padanya, ternyata Brock sudah tidak menyimpan perasaannya dulu, yaitu menjauhi Danny, sekarang mereka kembali seperti biasanya.


Danny sebenarnya tidak menyangka juga Brock ternyata bisa membuat kue yang begitu enak, nampaknya ia memang sepertinya ahli memasak, pikiran Danny lagi-lagi menyangka bahwa orang-orang besar hanya pintar berkelahi saja.


"Syukurlah kalau kau menyukainya, ini hanya sebagai perayaan kecil-kecilan saja akan kesembuhanmu- kami harap kamu menyukai ini," ujar Brock.

__ADS_1


Danny tentu saja sangat menghargai apa yang mereka lakukan padanya, ini merupakan hal yang tidak terduga olehnya dan Danny merasa senang akan hal ini.


__ADS_2