Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 353: Secepat Kilat, Cepat!


__ADS_3

"Apa ada yang kau katakan Vincent?" Di saat ini Brock tahu sepertinya teman di sebelahnya ini terlihat seperti terganggu oleh sesuatu, dan ia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan temannya berekspresi tidak nyaman seperti itu.


Vincent menghadapkan kepalanya kembali ke posisi awal, begitupula dengan lengan kanannya yang keluar itu seraya berkata, "Ah, kereta ini nyaman, aku bisa menikmati setiap guncangan dan itu membuat pikiranku tenang."


"Oh, kau benar, kereta kuda ini nyaman dan terasa lega, dan lagi banyak stok makanan di tong yang berjejer di sebelah kita ini," timpal Brock setuju, dan kemudian ia memejamkan matanya dan kembali menikmati istirahat siangnya itu.


Vincent hanya bisa tersenyum sabar dan menahan segala ucapan kotor yang menumpuk di ujung mulut itu, setidaknya ia berusaha mengendalikan emosi karena tingkah temannya itu.


Danny yang melihat dari tadi permasalahan Vincent hanya bisa diam, lagipula Vincent tidak mau bertukar tempat dengannya, dan sepertinya hal yang dia kira mudah berujung pada kesulitan yang sedang ia hadapi saat ini.


Danny tersenyum kecil melihat Vincent yang berusaha tenang itu. "Tenang saja Vincent, semuanya akan segera kembali menjadi nyaman- ah." Belum selesai Danny berkata ada sesuatu yang menyebabkan dirinya menghentikan ucapannya itu.


Patricia yang sedari tadi tertunduk dan berkali-kali hampir terjatuh ke depan karena mengantuk itu akhirnya mendaratkan kepalanya pada pundak Danny, ia terlihat manis saat tidur sepertinya gadis itu kelelahan karena menggunakan kemampuannya pada Vincent tadi.


Vincent yang melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri sama sekali tidak terhibur dengan apa yang dikatakan Danny tadi, ia malahan terlihat menyedihkan karena tahu di hadapannya ada seorang wanita yang tiba-tiba bersandar pada seorang pemuda yang baru saja menghiburnya itu, berbeda sekali dengan yang terjadi pada dirinya, tidak ada gadis cantik yang bersandar padanya yang ada malah seorang pria kekar tengah disampingnya, dan lebih lagi menghimpitnya sampai sulit untuk bernafas.


Danny berusaha untuk memindahkan kepala teman perempuannya itu dari bahunya namun ternyata itu tidak semudah yang dikiranya, gadis itu malah semakin nyaman dan tidak mau berpindah tempat sama sekali.


"Ha ... Haha ...." Wajah Vincent lemas sekaligus iri dengan apa yang terjadi di hadapannya itu, malahan melihat ini membuatnya lebih sesak dibanding dengan sesak yang disebabkan temannya itu.

__ADS_1


Begitu Vincent mengedipkan mata karena ia sepertinya mengantuk juga, ia tiba-tiba merasa ada hawa dingin segar yang dekat sekali dengannya, dan mendengar suara deburan ombak yang cukup keras, yang seharusnya di atas bukit tidak ada suara semacam itu.


"Hah!" Membuka mata secepat yang ia bisa untuk melihat apa yang ia dengar setelah mendengar hal yang sangat aneh itu dilakukan oleh Vincent.


"A-apa ini?!" Vincent tidak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini, mereka saat ini sedang berada di tepi pantai dengan pasir lembut yang menghampar sejauh mata memandang!


Danny menggunakan tangannya dan melingkarkannya ke bahu Patricia untuk membangunkannya dari sisi yang lain, karena memang tidak cukup ruang baginya juga untuk langsung membangunkannya dengan langsung menyenyuh bahunya itu.


"He-hei, Patricia bangun." Danny juga merasa ada hal yang tidak dipahami terjadi saat ini, maka dari itu ia membangunkan temannya itu karena ingin melihat apa yang baru sebenarnya terjadi itu.


Sedang Vincent melihat bagaimana keanehan ini terasa nyata baginya, sempat ia berpikir sebelumnya bahwa mereka sedang berada di atas bukit karena sebelumnya memang mereka menghabiskan waktu untuk terus-terusan menanjak ke atas dan setelah sampai tiba-tiba dalam beberapa detik selanjutnya mereka malah berada di tepi pantai seperti ini.


Brock bangun tepat setelah Vincent keluar dari kereta itu, begitupula dengan Patricia, Danny berhasil membuatnya bangun dan akhirnya mereka bertiga juga turun ke tempat yang baru itu.


"Ini." Vincent melihat semua pemandangan laut dan tepi pantai ini dengan seksama, dan seketika itu juga ia mengenali suasana ini, ia merasa ini bukanlah tempat yang asing baginya.


"Tempat ini, mirip sekali dengan tempat di mana aku dijebak oleh iblis itu," gumamnya pelan, Vincent tahu pemandangan tepi pantai yang saat ini dilihatnya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah ia lihat sebelumnya di dunia buatan iblis itu.


Dan tidak berhenti di sana, seolah diingatkan sesuatu oleh tempat itu, Vincent tiba-tiba terbayang tentang hal yang paling mengerikan yang pernah dilihatnya, seakan area tepi pantai ini berubah menjadi malam yang gelap dan matahari yang tiba-tiba berubah menjadi bulan merah, lautan yang juga tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan cairan lava yang panas, dan terakhir, dia melihat dirinya sendiri berakhir di sana dengan cara yang mengerikan yang sudah dilihatnya.

__ADS_1


Semua kilas balik ini tidak begitu disambut baik oleh perasaan dan pemikirannya, melihat tempat ini hanya membuatnya mengingat kejadian buruk yang sebelumnya terjadi padanya


Bruk.


Tanpa disadarinya lututnya mulai lemas hingga akhirnya ia harus jatuh dengan lututnya yang mengenai pasir, udara dingin, hawa yang sama dirasakannya seolah-olah ia terus teringat akan kejadian yang mengerikan yang membuatnya penasaran akan bagaimana akhirnya itu.


Respon Danny, Patricia dan Brock kurang lebih sama dengan Vincent, mereka tidak benar-benar paham mengapa bisa berpindah tempat hanya dalam waktu sesingkat itu, benar-benar tidak bisa dipahami dengan cepat.


Masih heran dengan keadaan ini Brock melihat temannya itu tersungkur dan berlutut di sana seakan ia tengah mengalami sesuatu yang mengejutkannya, ia berniat untuk menghampiri sahabatnya untuk melihat keadaannya, dan pria besar itu pun melangkahkan kakinya mendekatinya.


"Ada apa dengan Tuan Vincent?" Patricia heran karena melihat Tuan Vincent menjadi lemas dan tidak terlihat bersemangat dengan tersungkur di atas pasir sedang memikirkan sesuatu itu.


Danny yang sudah mendengar ceritanya sebelumnya tahu benar mungkin saja Vincent teringat akan bagaimana pertemuannya dengan iblis di tepi pantai buatan kemampuan makhluk jahat itu sebelumnya, maka dari itu mentalnya pasti sedikit terganggu saat ini.


"Sepertinya dia butuh waktu untuk beradaptasi untuk melihat tempat seperti ini," jawab Danny singkat.


Danny pun mengarahkan bola matanya ke segala arah, suasana sejuk dan indah sedang dilihatnya saat ini, bagaimana tidak, hamparan pasir pantai yang lembut dan terlihat berkilau, burung-burung yang terlihat terbang di atas laut itu, deru ombak yang menenangkan untuk dilihat, pemandangan seperti inilah yang dibutuhkan sebagian orang untuk menenangkan diri mereka di sini.


Kembali lagi ke alasan di balik berpindahnya tempat dari bukit sebelumnya yang telah mereka naiki dan tiba-tiba saja mereka ada di tepi pantai seperti ini, hal yang tidak bisa dijelaskan dengan dugaan ini hanya bisa mereka ketahui dengan mendengar penjelasan seorang yang membawa mereka ke tempat ini.

__ADS_1


Tap.


__ADS_2