Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 240: Aku Tidak Mendengarmu!


__ADS_3

Arthur yang mengumumkan bahwa Danny dan Yizi penjahat kemudian berbicara lebih lanjut kepada orang banyak itu.


"Mengapa kalian terlihat takut? Bukannya kalian harusnya bersyukur karena aku telah menghentikan mereka berdua karena kejahatan mereka ini?"


Saat ini tidak ada yang dapat mengerti jalan pemikiran Arthur, rasanya hanya dirinya sendiri yang menilai bahwa perbuatannya itu adalah hal yang baik untuk dilakukan.


"Tuan Arthur hentikan perbuatan ini!" Brock mencoba untuk berbicara dengan sang ksatria suci itu.


"Hentikan? Apa maksudmu aku harus menghentikannya? Apakah kau mau orang-orang yang tidak taat hukum ini berkeliaran dan membuat kekacauan berikutnya?"


"Danny bukanlah seseorang yang tidak taat hukum!" Brock mencoba untuk membela Danny karena memang ia tahu anak muda itu ketika bersama dalam penjara bersama ia banyak berbicara dengannya.


"Begitukah? Kalau begitu dia melanggar hukum ketika aku akan menangkap pria bernama Yizi ini, karena ia berusaha menghalangiku."


"Kau tahu? Tindakannya dengan membela penjahat itulah yang membuatnya bersalah saat ini, ia telah membuat keputusan yang salah."


"Apa?!" Brock kesal karena mendengar pernyataan sang ksatria suci itu, ia tidak menyangka Danny bersalah hanya karena membela seseorang yang ia percayai; benar-benar tidak bisa dipercaya.


Pernyataan Arthur ini juga menegaskan bahwa segala sesuatu harus tunduk padanya, atau dalam kata lain ia sendiri adalah peraturan itu; barangsiapa yang menentangnya akan secara otomatis bersalah.


Para pria besar Alliance Fight's benar-benar tidak menyangka bertemu kembali dengan Arthur yang sama tiga tahun lalu, bayangan memori kelam pada masa lalu terbayang secara jelas pada ingatan mereka.


"Aku memang pernah menemui Danny sewaktu perjalanan, memang dia adalah anak muda yang baik setidaknya sebelum ia memilih untuk memihak orang jahat ini." Arthur mengakui fakta kecil soal Danny yang ia ketahui.


"Kelompok kami sama sekali tidak berbuat jahat!" seru salah seorang anggota Alliance Fight's dengan harapan sang ksatria suci itu akan menghentikan tindakannya.


"Ucapan begitu lagi? Rasanya kembali ke tiga tahun yang lalu, dimana aku berhasil menangkap dan harusnya berhasil juga mengakhiri perbuatan jahat kalian ... aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian, kelompok Alliance Fight's- tidakkah ini seperti sebuah reuni?"


"Uuh ...." Para pria besar kelompok Alliance Fight's terlihat ketakutan melihat saat melihat ksatria suci itu.


Arthur melihat ke bawah, Danny dan Yizi sudah berhenti mengerang dan bergerak di tanah, saat ini nampak mereka berdua masih terbaring lemah di tanah.


Arthur kemudian menarik rambut Danny dengan tangan kanannya, perlakuannya cukup kasar bagi orang yang ia cap sebagai penjahat.

__ADS_1


"Ini ... Anak muda ini harusnya bisa memilih pilihan yang tepat, hanya saja dia telah berbuat kesalahan yang cukup membuatku merasa kesal."


Arthur kemudian mengangkat tubuh Danny sepenuhnya hanya dengan menarik rambutnya saja, ia seperti akan berbicara dengan anak muda itu.


"Benarkan Danny? Kau tidak perlu susah payah mengeluarkan kekuatan yang bahkan melebihi apa yang kau bisa saat ini, namun sebagai pembelaan kuakui kekuatanmu tidaklah buruk juga."


Danny hanya bisa meringis menahan kesakitan, kesadarannya belum pulih sepenuhnya karena rasa sakit akibat penggunaan kedua batu permata mulia sekaligus; ia saat ini tidak merasakan apapun selain rasa sakit ini bahkan ketika Arthur memperlakukannya seperti ini.


"Hmm?" Arthur sadar bahwa Danny sama sekali tidak sadar meskipun ia telah mengajaknya bicara.


Arthur akhirnya merasa tidak peduli lagi dengan anak muda itu, di saat rambut Danny masih dipegangnya Arthur dengan tanpa pikir panjang lagi melemparkan Danny ke arah hutan yang sudah hancur berantakan itu dengan cukup keras.


"Danny!" Brock sontak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Arthur, perlakuannya benar-benar diluar batas.


"Aaah ... tadinya aku mau bersenang-senang dengan Danny, tapi kurasa tujuan awalku memang bukan seperti itu."


Arthur akhirnya memegang leher Yizi dan mengangkatnya."Inilah tujuan akhirku! Aku akan menuntaskan tugas yang tertunda tiga tahun lalu, pasti akan kuselesaikan hari ini."


"Tuan Yizi!"


"Lepaskan pemimpin kami!"


"Haah? Apa yang kalian bicarakan? Apakah kalian tidak bisa menunggu giliran kalian? Maukah aku menyelesaikannya secepat mungkin?"


Para pria besar anggota Alliance Fight's sama sekali tidak mampu berbicara dengan sang ksatria suci itu, apapun yang mereka katakan baginya itu hanyalah angin lalu saja.


Yizi perlahan membuka matanya, dan ia sadar ia saat ini telah berada di bawah kendali sang ksatria suci; lehernya dipegang oleh tangan kanan Arthur yang kokoh itu.


"A-Arthur ...."


"Huh?" Arthur menoleh dan menyadari bahwa si jahat ini telah sadar juga akhirnya.


"Sudah sadar? Bagaimana mimpimu?"

__ADS_1


"Sialan kau Arthur! Aku tidak akan pernah me- ARRHH!"


"Hah? Apa yang kau katakan? Mengapa kau tidak melanjutkannya?" Arthur memberikan tekanan yang kuat bagi leher Yizi; ini merupakan praktik mencekik yang sama persis yang ia lakukan juga pada Kibo.


"Tuan Yizi! Hei Tuan Arthur hentikan!" Para anggota Alliance Fight's merasa tersiksa karena melihat pemandangan buruk untuk kedua kalinya.


Yizi yang merasakan tekanan kuat pada lehernya itu membuatnya sulit bernafas dan berbicara.


"Arthur ... beraninya kau ... membunuh ... sahabatku ...."


Emosi Yizi mulai keluar, air matanya sudah tidak terbendung lagi mungkin inilah kali ketiga ia meneteskan air mata selama hidupnya, ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia menangis mungkin saja sewaku ia kecil dahulu karena di ejek oleh teman-temannya.


"Menangis? Apakah kau merindukan sahabatmu? Aku bisa mempertemukanmu dengan cepat padanya lho."


"Sial ... sial ...." Yizi sudah tidak mampu lagi untuk bernafas karena cekikan Arthur semakin menguat pada lehernya.


Akhirnya salah seorang dari pria besar anggota Alliance Fight's mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


"Tuan Arthur, kami bukanlah penjahat ... ini adalah buktinya," ujar salah satu pria besar itu sembari menunjukkan suatu barang pada ksatria suci itu.


Ketika diajak bicara oleh seseorang, Arthur menoleh sembari meredakan tekanan yang ia lakukan pada leher Yizi.


"Topeng ... iblis? Apa maksudmu?" Arthur heran karena tiba-tiba pria besar itu menunjukkan topeng iblis.


"Tuan ingat tiga tahun lalu? Ada orang misterius yang membantu kami dalam pelarian? Yang memakai topeng iblis?"


"Hmmm." Arthur kembali mengingat, kali ini ingatannya sudah tajam kembali dan ia tidak bisa menyangkal fakta bahwa ada orang misterius yang memakai topeng iblis dan kemudian bertarung dengannya tiga tahun lalu.


Arthur diam ketika mendengarnya, hal itu dianggap sebagai jawaban 'ya', akhirnya pria besar itu melanjutkan ucapannya.


"Sosok di balik pengguna topeng iblis ini adalah Tuan Thor."


"Thor?" Arthur tidak mampu meredam ekspresi kaget ketika mendengar apa yang diucapkan oleh pria besar itu.

__ADS_1


"Ya benar Tuan, Tuan Thor lah yang membantu kami untuk keluar dari penjara tiga tahun lalu ketika kami berusaha untuk melarikan diri."


__ADS_2