
“Haaah.... haaah....” Kini Danny dan teman-temannya sudah sampai di lokasi sekitaran istana yang sudah hancur, api dimana-mana dan puing-puing bangunan berserakan.
“Apa ada orang?!” Patricia berteriak cukup keras karena barangkali ada warga yang terjebak di reruntuhan bangunan istana itu.
“Uhhh....” Tiba-tiba terdengar suara pria mengerang tak jauh dari keberadaan rombongan Danny, dengan sigap mereka berjalan ke sumber suara yang memang berasal dari reruntuhan istana.
Setelah sampai di lokasi Danny bisa bisa merasakan hawa kehadiran yang begitu kecil yang tidak bisa ia rasakan sebelumnya karena tertutup oleh hawa kehadiran yang besar.
Dengan cepat Brock menggali reruntuhan istana demi menemukan sumber suara yang tadi mereka dengar.
Drrtt....
Setelah beberapa saat Brock akhirnya bisa menemukan sumber suara yang dicarinya, tertimbun cukup dalam di sini.
Pria besar itu mengangkat tubuh seorang pria yang memakai zirah besi, namun sebagian besar sudah rusak dan tubuhnya pun mengalami luka luar yang kurang bagus.
“Seorang prajurit?! Bertahanlah!” Vincent membantu untuk meletakan tubuh prajurit yang sudah lemas ini. Dengan segera ia melepaskan helm yang ada padanya agar dia bisa menghirup udara segar.
“Patricia kau bisa melakukan sesuatu?!” Vincent harus mengakui ia tidak bisa berbuat banyak di sini, namun ketika ia melihat seorang yang mengabdi pada negera dalam kondisi seperti ini, ia tidak tahan melihatnya.
Patricia berjongkok, mengarahkan tangannya ke tubuh prajurit yang sudah terluka ini, lukanya mirip yang dialami Brock tadi, namun bedanya kini ada di sekujur tubuhnya.
“Kau tak ... perlu melakukannya....” Prajurit ini tiba-tiba memandangnya dengan lemah.
“Rekan kami ahli soal ini.” Danny mencoba meyakinkan prajurit itu.
Prajurit pria itu tersenyum kecil, ia tampak tenang meski seluruh tubuhnya mengalami luka yang cukup parah.
“Tidak perlu membuang tenagamu,” ujar prajurit dengan nada yang kecil namun terdengar jelas.
“Bertahanlah!” Brock tidak berhenti untuk memberi dukungan moral untuk prajurit ini.
Sring!
Patricia mengabaikan apa yang dikatakan oleh prajurit itu dan tetap menggunakan energi sihirnya, seketika itu juga lingkaran sihir hijau yang sama seperti pada Brock muncul.
Namun anehnya tubuh yang terluka itu tidak merespon dengan menyerap sihir penyembuh Patricia seperti yang biasanya terjadi. Alhasil sihir itu hanya berputar saja di sekeliling tubuh prajurit itu.
“K-Kau seorang yang dikatakan oleh Tuan Rhart.” Prajurit itu kini menatap Danny dengan seksama.
__ADS_1
“Jangan bicara dulu sebelum lukamu pulih.” Danny butuh penjelasan apa yang terjadi di sini namun tidak saat seorang terluka seperti ini.
“Mahkluk aneh... menyerang....” Kondisi prajurit itu tidak kunjung membaik, malahan raut wajahnya lebih pucat dari sebelumnya dan lukanya tidak bertambah baik.
Danny terdiam, jadi itulah sebanyak ia merasakan banyak hawa kehadiran yang kuat sekarang, dan semua kehancuran ini disebabkan oleh mereka?
“Tolong kami....” Prajurit itu menatap Danny dengan penuh arti dan kemudian menutup matanya.
Shh....
Sihir pemulihan Patricia menjadi pudar dan kemudian menghilang.
Ia tidak bisa memulihkan kondisi prajurit yang sudah terluka parah ini. “Maaf aku tidak bisa memulihkannya.”
“Ini bukanlah salahmu.” Kondisi lukanya terlalu parah dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya, bahkan dia sendiri yang mengatakannya awal tadi.
Patricia bangkit berdiri, ia juga dari awal sudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh prajurit dengan luka yang parah ini.
“Pasti tidak hanya ada prajurit ini, kita harus mencari yang lain!” Danny melihat kembali barangkali ada seeorang yang masih selamat juga, namun di tengah hawa kehadiran yang kuat ini, cukup susah untuk mendeteksi keberadaan orang lain.
‘Apa Kerajaan Timur baru saja diserang?’ batiin Danny, dengan bukti kini bangunan utama di daerah ini baru saja hancur, maka apa lagi yang bisa terjadi?
Danny memerhatikan di sekitar reruntuhan ini sudah tidak ada yang bisa ia temui lagi, seperti yang dikatakan sebelumnya, sulit untuk mendeteksi hawa keberadaan orang lain.
“Apa dia makhluk aneh yang dikatakan prajurit tadi?” Vincent terdengar serius, sontak Danny dan yang lainnya mengalihkan pandangan ke arah Vincent.
Tap.
Dari balik asap debu reruntuhan istana ini terlihat siluet bayangan yang amat besar, tidak biasa untuk dikatakan sebagai seorang manusia.
“Tugasku merepotkan juga.” Terdengar suara pria bernada lebih berat dari Brock, di tangannya memegang seorang kepala manusia.
“!” Danny melihat pemandangan yang mengerikan ini, entah bagaimana harus menjelaskannya namun yang pasti yang dilihatnya ini benar-benar kejam.
Seorang pria dengan zirah hitam dan wajahnya seluruhnya berwarna merah, matanya besar berwarna merah menyala, dia seperti raksasa karena mengingat ukuran tubuhnya yang tidak biasa.
Drttt....
Patricia sedikit bergetar melihat hal ini, melihat anggota tubuh yang terpisah seperti itu seharusnya biasa baginya yang mendalami ilmu pemulihan, tapi jika seperti ini jadinya....
__ADS_1
Vincent terdiam, pandangan seriusnya tidak kunjung berhenti dari tadi, ia merasakan bahaya yang amat besar yang muncul dari pria besar ini, atau makhluk besar? Karena ia tidak tahu jenis kelamin apa yang ada pada makhluk ini meski memang penampilan luarnya seperti pria. Vincent tahu penampilan bisa menipu juga.
Brock melihat tatapan serius dari rekan berambut sebahunya ini, cukup heran karena ia tidak melihat kesantaian darinya, padahal ia tidak tahu temannya itu malah sedang memikirkan jenis kelamin dari makhluk besar yang tak jauh di depan mereka.
Danny bisa merasakan aura sihir yang pekat yang biasa ada pada ras iblis.
“Ternyata aku masih bisa bersenang-senang.” Makhluk besar dengan zirah hitam itu menyadari keberadaan Danny dan kawan-kawan, dan ia membuang kepala yang tadi dipegangnya itu.
BUM!
Sementara itu di sisi lain ada ledakan yang kembali terjadi yang membuat perhatian Danny kembali teralihkan.
“Serahkan ini padaku Danny.” Brock maju ke depan di sebelah Vincent.
“Kami akan menanganinya, kau pergilah ke lokasi ledakan itu,” tambah Vincent, ia terdengar makin serius.
“Kalian yakin?” Danny tidak langsung setuju dengan usulan mereka berdua, bukankah lebih baik jika mereka tetap bersama-sama sekarang?
Ditambah lagi soal hawa kekuatan yang terasa dari makhluk berzirah hitam besar itu sungguhlah besar, berhadapannya berisiko tinggi.
BUM!
Suara ledakan terjadi kembali, yang membuat Danny harus cepat mengambil keputusan.
“Kami bisa menangani ini, jika tidak hanya ada satu, maka kita harus menghadapi semuanya.” Brock berpendapat begitu, baginya memang lebih baik untuk memecah tim meski menghadapi lawan yang kuat sekalipun.
Karena dengan begitu maka mereka bisa meminimalisir perbuatan seenaknya yang dilakukan oleh makhluk ini.
Danny bisa melihat sorot mata tajam dan juga percaya diri dari kedua rekannya ini. “Kalian berdua bisa!” Danny memegang tangan Patricia dan kemudian pergi ke arah sumber ledakan yang barusan terjadi juga.
Sementara itu Brock dan Vincent kini berhadpan dnegan sesosok makhluk besar berzirah hitam yang menakutkan, kekuatannya benar-benar menyengat yang bisa membuat siapapun tidak nyaman ketika berada di dekatnya.
“Keputusan yang buruk....” Nada suara yang begitu berat dan bergema terdengar, namun tidak menggoyahkan tekad dari Vincent dan juga Brock.
“Baiklah Brock, ini adalah panggung bagi kita!” Vincent meninju kepalan tangannya sendiri, tidak ada hal lain selain kepercayaan diri yang besar.
Hal yang sama berlaku pada Brock, ia tidak peduli akan makhluk mana yang dihadapinya, namun yang pasti ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini.
Brock memfokuskan tenaganya dan di saat yang bersamaan ia dan Vincent maju ke depan dengan sangat cepat.
__ADS_1
BUMMM!
*