
Arthur menatap sang demi human. Ini adalah kali pertama ia melihat ras lain selain manusia dan iblis, selain dari ilustrasi buku dan referensi lain yang dibacanya.
Mengisyaratkan apa yang ia tahu dari akademi bukanlah hal yang sebenarnya. Ras lain tidak benar-benar lenyap dari sejak pertempuran dulu.
Minimnya bukti akan keberadaan ras lain yang membuat kesimpulan sederhana akhirnya dibuat, dan di saat bersamaan itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya.
Arthur kini bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri akan bukti yang selama ini terpendam, kenyataan bahwa ras lain masih ada pula di dunia ini.
Lalu bagaimana dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi? Yakni identitas soal gadis bercahaya ini?
Apakah pengakuannya bisa dipercaya bahwa dia memanglah makhluk dari ras lain?
Memang iblis bisa menggunakan suatu kemampuan atau teknik yang di mana mereka bisa mengubah penampilan luar.
Namun sekarang Arthur yakin gadis cantik bernama Sophia ini tidaklah masuk ke dalam kriteria yang harus dicurigai.
Jikalau saja dia adalah iblis yang menyamar, maka untuk apa dia menolongnya di saat seperti ini? Tentu saja tidak masuk akal bukan?
Arthur juga bisa merasakan akan energi kekuatan unik yang terpancar darinya, yang tidak ia temui pada manusia ataupun iblis.
Dan jikalau diperhatikan lebih lanjut rasanya energi kekuatan yang terpancar darinya mirip dengan Danny.
Sekarang pada kenyataannya ras manusia ternyata tidak sendirian menghadapi ras iblis.
Arthur tidak melihat tatapan lain selain kelembutan dan kepedulian dari ras demi human ini. Padahal kenyataannya dahulu memanglah kelam.
“Nona tidak membenci kami?” Arthur ingin mendengar hal ini dari sudut pandang lain.
Arthur sudah hafal sekali sejarah kelam manusia. Apalagi kalau bukan pertempuran hebat di masa lalu yang membuat ras lain harus binasa... karena keinginan manusia sendiri.
Bukankah itu sudah jelas-jelas menunjukkan siapa yang salah?
Kenyataan ada ras lain yang masih selamat dari pertempuran masa lalu memanglah mengejutkan, dan yang lebih mengejutkan lagi mengapa mereka tidak menuntut balas atas apa yang dilakukan manusia pada mereka?
Memang iblis-lah yang memerangi ras lain secara langsung, namun otak dibalik semua ini adalah manusia. Ras yang mau menguasai semuanya padahal tidak mampu.
__ADS_1
Bukankah ini adalah balasan yang bagus untuk manusia yang serakah ini? Lagipula mereka tidak berpikir panjang dengan memberi kuasa pada iblis.
Dengan kenyataan bahwa ras iblis tidak berhasil sepenuhnya membinasakan ras lain, bukankah ras yang tersisa punya kesempatan untuk membalas perbuatan manusia?
Meski memang tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna bagi ras lain.
Ras lain bisa memilih apa saja yang akan dilakukannya. Dan menurut Arthur sendiri, ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan eksistensi mereka.
Para ras lain ini tidak punya hubungan baik juga dengan iblis yang sudah membinasakan sebagian besar dari mereka di masa lalu.
Jadi dengan dua pilihan yang ada, baik memihak atau melawan iblis. Tidak ada pilihan yang benar-benar menguntungkan mereka.
Tapi dengan kenyataan yang sudah ada, ras lain bisa saja mengakui bagaimana kekuatan iblis yang sebenarnya dan memilih untuk memihak mereka saja. Tentulah itu pilihan yang lebih bijak untuk mereka.
Tidak ada alasan bagi ras yang hampir punah ini dengan kembali melawan iblis untuk kedua kalinya. Tidak terlalu masuk akal.
Kini dengan kesempatan yang ada mengapa ras lain tidak memihak iblis dan secara langsung membuat manusia sadar mereka sudah memilih pilihan yang salah?
Bukankah itu lebih baik ketimbang melawan iblis dengan nol kemungkinan menang?
Sophia terdiam beberapa saat. “Kenapa membenci?”
Padahal ia berusaha untuk membuatnya tetap singkat dan sederhana.
“Saya yakin nona paham maksudnya.” Mau bagaimanapun Arthur tetap yakin sang gadis bercahaya demi human ini mengerti apa yang dikatakannya.
Sophia terdiam dengan ekpresi netral. Pada akhirnya memang sang pria pirang ini memaksanya untuk mengerti apa yang dikatakan itu.
Pada kenyataannya tidak berguna untuk berlagak tidak tahu apa-apa, meski itu adalah kejadian lama yang sudah terjadi, yang dihadapannya ini adalah manusia yang pasti sudah tahu tahu apa yang terjadi.
“Ras manusia tahu banyak ya.” Sophia tidak tahu apakah peristiwa masa lalu itu diingat terus oleh ras manusia ataukah disembunyikan. Namun yang pasti cepat atau lambat sesuatu yang disembunyikan akan tersingkap juga.
“Kejadian ini tidak terhindarkan, jadi tidak ada alasan saling menyalahkan.” Sophia mengatakan ini dengan pandangan serius.
Arthur sendiri tidak merasakan aura kebohongan, yang menegaskan sang gadis demi human ini memang mengatakan yang sejujurnya.
__ADS_1
Arthur pikir akan mendapat jawaban yang lebih spesifik lagi, mengingat sudah pasti Sophia tahu betul bagaimana kejadian masa lalu, bukan dari cerita orang, melainkan ia sendiri yang mengalaminya.
Tidak terhindarkan, itu berati bahkan ras lain juga tahu akan keputusan fatal yang dibuat umat manusia dahulu.
Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Tidak bisa diulang kembali.
”Dunia tidak akan lebih baik jika dipimpin iblis.” Sophia mengatakan pendapatnya. Membenci manusia dan berpihak pada iblis tidak ia pikirkan setiap saat.
Lebih baik mengabaikan kesalahan manusia di masa lalu dibanding berada di bawah pimpinan iblis. Itulah yang sementara dipikirkan Sophia, bahkan sejak ia memercayakan Danny dengan misinya ini.
Itu terdengar tegas, dan di saat yang bersamaan Sophia seolah tidak peduli dengan sebegitu banyaknya dari ras mereka yang gugur dahulu.
“Iblislah yang mengacau di masa lalu, dan sekarang terjadi lagi.”
Tidak dapat dipungkiri manusia yang jadi otak dalam kepunahan sebagian besar ras. Sophia bisa mengerti mengapa sang pria pirang ini mengatakan sesuatu tentang masa lalu.
Tidak ada salahnya juga para ras yang tersisa bersikap netral dan tidak ikut campur dalam urusan manusia dan iblis.
Mereka tidak ada urusannya dengan hal ini juga, cukup melihat manusia yang memakan buahnya dari perbuatan dahulu adalah hal yang bisa saja mereka lakukan.
Namun Sophia tahu, mengikuti kepuasan sesaat seperti itu tidaklah membuat semuanya jadi lebih baik.
Tidak ada jaminan berpihak pada iblis adalah keputusan terbaik, meski itu kelihatannya lebih baik daripada berpihak pada manusia yang jadi dalang atas binasanya keluarga dan sanak saudaranya.
Malahan percaya pada iblis bisa saja bisa jadi kesalahan besar, layaknya dulu manusia yang percaya pada iblis.
Ia tidak mungkin mengulang kesalahan yang sama bukan?
“Manusia tidak sendiri. Tenang saja.” Sophia tersenyum. Setelah pemikiran yang berat ini, senyuman hangat sangat dibutuhkan agar siapapun yang melihatnya bisa semangat lagi.
Arthur terdiam. Ia akhirnya mengerti.
“Masih ada yang perlu kamu lakukan.” Sophia menunjuk pada ke arah tangan kanan Arthur. Mengubah topik pembicaraan dengan cepat.
“Apa?” Arthur langsung mengangkat tangan kanannya, dan memang ia sedang memegang sesuatu.
__ADS_1
“I- ini?” Arthur heran mengapa ia memegang amplop putih yang memang tidak asing.
Sophia melihat benda itu dari awal. Pria bernama Arthur ini tidak mungkin dengan sengaja terus memegang benda itu, yang pasti ia melihat itu adalah suatu hal yang serius.