Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 502: Keraguan


__ADS_3

Thor memandang Arthur dengan seksama, sebagai rekannya yang sudah lama ia tahu betul ada yang disembunyikannya.


Hatinya terasa menggelitik, ingin merusuh dan membuat Arthur bicara.


Namun Thor menahannya, mengingat Arthur sedang terlihat serius, dan pada kenyataannya benar begitu adanya.


Ada kalanya orang yang terlihat serius, namun sebenarnya tidak serius sama sekali.


Namun Arthur bukan tipe orang yang mempermainkan keseriusannya.


Jadi ada apakah gerangan ia menyembunyikan sesuatu darinya?


Sementara di sisi lain, Arthur memang menganggap apa yang sudah dibacanya adalah serius.


Buku biru usang dan tebal ini telah menarik perhatiannya selama beberapa waktu.


Fakta bahwa ini bukanlah bidang yang harus dipelajarinya memanglah ada. Namun Arthur sendiri tidak berpatokan pada bagiannya sendiri.


Baginya selama suatu hal adalah berguna untuk ke depannya, mengapa tidak dipelajari Bukankah dengan begitu hal tersebut bisa jadi investasi berguna di masa mendatang?


“Jangan muram.” Arthur malah melihat perubahan suasana yang begitu terasa. Si Thor ini malah menatap meja dengan tatapan tidak berguna.


Maksudnya adalah, mungkin saja Thor ini memang memikirkan soal buku yang tengah dibacanya .


Ada kemungkinan dia yang seharusnya bisa menggunakan teknik ini, namun tidak bisa yang membuat perasaannya jadi berubah dengan cepat.


“Melihatmu berusaha sekeras ini membuatku terharu srt!” Ingusnya Thor hampir mau keluar.

__ADS_1


“Jangan nangis.” Arthur tidak tahu Thor bisa tertekan seperti ini. Ke mana semangat riangnya sebelumnya?


Arthur melirik ke dinding, ada jam yang cukup besar yang menunjukkan waktu sudah larut, tepatnya tengah malam. Tak lama lagi petugas perpustakaan umum ini akan datang dan mengusirnya dari sini.


Ia tidak menyangka Thor malah tiba-tiba datang, padahal ia sudah mengambil hari dan jam di mana tidak ada siapapun yang mengganggu. Namun ternyata tidak sesuai perkiraannya.


Apa motif darinya yang tiba-tiba muncul seperti ini? Arthur tahu Thor bukanlah kutu buku yang rela datang ke perpustakaan umum di tengah malam.


“Sebaiknya kau urungkan niatmu Arthur.” Thor terdengar serius sekarang.


Seketika itu juga Arthur bisa paham apa yang dimaksudkan oleh rekannya ini.


Apalagi kalau bukan seluk beluk buku yang tengah ada di depan mereka ini?


“Kudengar pengarangnya misterius, isinya tidak masuk akal dan judulnya juga tidak menarik.” Thor mengungkapkan pendapatnya.


“TERLEBIH LAGI TIDAK ADA ILUSTRASI SATUPUN!” Thor hampir saja menggebrak meja, namun untungnya saraf di tangannya masih berfungsi normal, dengan kata lain ia tidak jadi melakukannya.


“Kau tidak perlu mengatakan itu keras-keras.” Arthur khawatir petugas yang berjaga malah curiga dan mengusirnya lebih awal.


Yah, memang tidak dapat dipungkiri memang benar kata Thor. Buku biru tebal ini sama sekali tidak memuat apapun selain tulisan bergaya bahasa berat. Sangat tidak ramah bagi seorang yang ingin bacaan ringan.


Jika orang umum yang membaca ini, tentunya butuh tekad dan konsistensi yang kuat untuk menyelesaikannya, mengingat ini bukanlah buku untuk semua orang. Kalaupun menyerah juga tidak ada salahnya juga sih.


Itulah yang menyebabkan buku ini usang dan tidak terawat, Arthur sengaja membiarkannya seperti ini karena tidak mau merusak esensi awal penampilan buku ini.


Terkadang sesuatu yang diabaikan dan dianggap tidak berarti sudahlah tidak berguna lagi bagi dunia, namun Arthur tahu selalu ada nilai dibalik ke-tidak-berartian.

__ADS_1


Pandangan orang banyak tidak menilai kualitas secara mutlak. Arthur bisa melihat sisi yang lain dari balik buku yang dibacanya ini.


Thor melihat Arthur tidak begitu kehilangan ekspresi seriusnya, semua yang dikatakannya itu memang bertujuan agar rekannya ini tidak mengulik dan mempelajari apapun yang tertulis di buku ini.


Karena Thor sendiri tahu, buku yang dibaca rekannya itu memuat teknik pertahanan terhebat, yang sangat berbahaya.


Thor sebenarnya tahu betul akan isi buku itu, dan komentarnya sebelumnya tentang buku ini memang... ada benarnya juga, namun tidak terdengar buruk sekali juga.


Thor berharap Arthur juga jadi salah satu orang yang percaya bahwa buku ini memang membosankan. Dengan begitu tidak ada alasan lagi untuk membacanya.


Hening beberapa saat.


Thor tahu Arthur bukanlah orang yang percaya sembarangan, apalagi menanggapi komentarnya tentang buku ini. Situasi jadi terasa lebih berat, yang membuat Thor jadi merasa bersalah karena berkomentar semaunya pada buku yang dibaca rekannya ini.


Apakah kemampuan meyakinkannya masih belum cukup?


Jadi kalau begitu....


“Aku-“ Thor hendak mengatakan sesuatu, namun rekannya itu lebih dulu berkata-kata.


“Thor, kau sudah siap?” Arthur tidak sadar akan perkataan rekannya. Mengingat keduanya bicara di waktu bersamaan.


Thor terdiam sejenak, ia mengurungkan apa yang ada dalam kepalanya.


“Maksudmu akan serangan iblis?” Thor memastikan topik yang dibicarakan sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya, karena tidak lucu apabila mereka mengobrol beda topik.


Arthur mengangguk kecil.

__ADS_1


“Kau meragukanku Thur?” Apakah ini alasannya Arthur membaca buku jadul ini?


__ADS_2