Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 61: Perbincangan


__ADS_3

Seketika itu juga Danny teringat akan perbincangannya dengan Sophia sewaktu di hutan sihir, memang dia pernah berbicara tentang sesuatu yang berbahaya tentang batu sihir itu.


"Mungkin kau sudah mendengarnya dari Sophia..." ucap Kakek Leith seakan memang ia mengetahui apa yang terjadi, dan memang itulah kebenarannya.


"Kek, memang saya mendengar batu itu berbahaya... dan saya bisa kehilangan nyawa karenanya.." Danny sekarang baru menyadari arti 'kehilangan nyawa' yang di ungkapkan oleh Sophia sewaktu dulu pertama kali ia bertemu dengannya.


"Saya tidak menyangka satu batu permata sihir sebegitu berbahayanya bagi penggunanya," lanjut Danny.


Kakek itu kemudian lanjut berbicara, "Biar kujelaskan lebih detail padamu Danny..."


"Kekuatan batu permata sihir ini merupakan warisan, seperti yang telah kau dengar sebelumnya, karena kekuatan ini merupakan kekuatan spesial yang spesifik untuk kemampuan tertentu, maka dapat dipastikan kau pasti akan menerima efek penggunaan selagi kau bertindak sebagai pemegang batu sihir ini."


"Karena kekuatan yang teramat besar maka mustahil kau dapat bisa langsung menguasainya, kau sudah pelajari itu sewaktu berusaha mendapatkan batu itu dari Sam kan?"


Danny hanya menjawab pelan, "Ya, kek, meskipun saya telah berlatih saya sadar kemampuan batu sihir ini memang benar-benar tidak terbendung."


"Rasa sakit yang kau rasakan dari batu itu saat pertama kali mendapatkannya bisa saja kau rasakan kembali efeknya Danny." namun sejauh ini jujur saja Danny hanya merasakan efek sakit pada saat pertama kali menerima batu permata itu.


"Dan pula kekuatan yang kau gunakan untuk melawan pria bernama 'Brock' itu hanyalah sepuluh persen dari total kekuatanmu saat ini." Sepuluh persen? Danny sama sekali tidak menyangka akan hal ini, padahal jelas-jelas ia telah mengeluarkan seluruh kemampuannya sewaktu melawan Brock itu.


"Kubilang kekuatanmu karena memang batu permata sihir itu merupakan bagian dari kekuatanmu juga, kau mungkin sadar perlahan nantinya..." ujar Kakek Leith, penjelasan panjangnya membuat Danny lebih mengerti akan batu permata sihir ini.

__ADS_1


"Kek, saya sudah mengeluarkan seluruh kemampuan saya, apakah itu berarti?" Danny mencoba bertanya mengapa kemampuannya begitu jauh dari total kekuatannya.


"Satu-satunya alasannya adalah dari latihanmu Danny, ini adalah awal, jadi wajar saja memang kau belum bisa mengendalikan seluruh kemanpuanmu itu, dan lagi aku telah menjelaskan padamu tentang batu itu, kuharap kau akan lebih bisa bersiap akan latihan esok..."


Hari tidak bisa selamanya menunggu mereka berbincang, waktu terus berjalan, "Danny, pembicaraan kita selesai disini, istirahatlah dulu, besok aku tunggu kau di belakang halaman rumah ini, jam tujuh pagi," ujar Kakek Leith sembari berjalan bersama dengan Danny menuju ke kamar mereka masing-masing.


"Aku mengerti kek, selamat malam..." balas Danny seraya perpisahan antara mereka.


Danny kembali masuk ke dalam ruangan kamarnya, waktu menunjukkan sudah dini hari, namun entah mengapa ia belum mengantuk juga, mungkinkah ia terlalu banyak makan atau mungkin ada alasan lain?


Namun meskipun dirinya tidak ngantuk, Danny berusaha untuk memejamkan matanya, merebahkan badan merilekskan tubuh. Ia memikirkan tentang batu permata itu, mungkinkah ia dapat menguasai seluruh kekuatan batu itu padahal satu batu saja sudah berbahaya?


Dari penjelasan yang ia tangkap dari Kakek Leith, dapat dipastikan bahwa memang kekuatan satu batu permata sihir itu cukup berbahaya bagi penggunya bahkan bisa merenggut nyawa, tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika memang ia harus menggunakan semua kekuatan batu itu.


Dari percakapannya dengan Kakek Leith, Danny belum bertanya lebih lanjut padanya, semoga saja hari esok ia masih dapat bertanya padanya.


Berjam-jam mulai berlalu, namun Danny sedikitpun tidak merasa mengantuk, meskipun begitu tidak ada lagi yang dapat diperbuatnya selain hanya merebahkan diri agar ia bisa bersiap akan latihan esok hari.


***


Pagi-paginya sekitar setengah jam sebelum latihan, Danny pergi ke halaman depan, ia melihat Kakek Leith yang tengah berdiri, kelihatannya tengah menikmati udara pagi.

__ADS_1


Akhirnya Danny memutuskan untuk menyapanya, dan bertanya soal yang ia pikirkan kemarin, "Kek, saya memang telah ditugaskan untuk mengumpulkan lima batu permata sihir, namun tujuannya memang agar bisa membuat sebuah senjata, tetapi kenapa malah batu ini memberikan kekuatan bagi penggunanya?"


Kakek Leith terdiam dan kemudian berkata, "Danny, batu permata itu bukanlah barang mati biasa, seperti yang kakek jelaskan tadi malam, ia hidup dan punya karakteristiknya masing-masing."


"Dan, jika memang kau mengumpulkan lima batu itu untuk membuat senjata, apakah kau tahu bentuk senjata seperti apa yang akan dibuat?" Danny berpikir sejenak, ia tidak yakin akan apa jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan padanya itu.


"Saya hanya tahu bahwa Sophia akan membuatkan senjata, namun tidak tahu bentuknya seperti apa," jawab Danny.


"Nah, karena batu itu belum mempunyai media untuknya tinggal maka dipilihlah tubuh pengguna atau pemegang batu pada saat ini sebelum media atau senjata yang dimaksud sudah jadi..."


Danny akhirnya tersadar, memang benar tidak ada media yang dapat menampung kekuatan itu selain pemegangnya sendiri, "Jadi kek, saya harus menampung lima kekuatan batu sihir itu sekaligus sebelum media bagi kekuatan batu sihir itu ada?" Kakek Leith mengangguk mengiyakan.


"Untuk itulah kau ada disini untuk berlatih ilmu daya tahan fisik dan mental... Nah sekarang waktu mulai berjalan mari kita pergi belakang halaman untuk memulai latihan kita." ajak Kakek Leith pada Danny


Setelah sampai di halaman belakang yang sama saja luas, tidak ada apapun disini selain hamparan rumput dan...


"Kek, itu lantai kayu apa yang berada di pojok pagar rumah ini" tanya Danny, ia melihat sebuah kayu berwarna coklat yang menempel seperti menyatu dengan tanah ini, mungkin itulah satu-satunya hal yang mencolok selain yang berwarna hijau ini.


"Mari kita kesana." ajak Kakek Leith, mereka berjalan mendekati ke sebuah papan kayu kotak datar itu dan menginjak-injak permukaan kayu itu.


KLEK

__ADS_1


Ternyata itu adalah sebuah pintu menuju ke bawah tanah, Danny teringat akan tempat tinggal kakek Sam, nampaknya ini memang sedikit mirip, "Kita akan berlatih dibawah sini." Danny tidak heran karena ia sudah mengalami akan pergi ke bawah tanah, dan sepertinya ini tidak akan beda jauh dari ruangan bawah tanah yang pernah Danny jumpai sebelumnya.


Namun ketika tangga kayu itu mengantar mereka kebawah ternyata ada sebuah ruangan kosong yang tidak cukup luas, hanya saja ruangan itu...


__ADS_2