
Akhirnya di pagi hari yang cerah ini kelompok Alliance Fight's kembali melanjutkan perjalanan mereka.
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Dan lagi kembali jalanan lurus yang mereka lalui saat ini, sedikit nampak monoton namun tidak ada jalan lain selain jalan ini.
Mereka memacu kudanya dengan kecepatan yang tidak terbilang lambat, mereka sangat semangat karena energi yang telah terisi kembali, dan lagi jalanan gersang tanpa ujung ini ternyata akan segera berakhir.
"Tuan Kibo, lihat, didepan kita, sedikit lagi kita akan meninggalkan area gersang ini!" seru salah seorang dari mereka.
Kibo memperhatikan dengan seksama, memang benar perkataan dari membernya itu, terlihat di depan sana area gersang ini telah berakhir, pada akhirnya mereka akhirnya menginjak tanah lembut bercampur rumput.
Area hijau yang sedang mereka lalui itu seakan terpisah dengan area tandus tadi, tidak terpengaruh satu sama lain.
__ADS_1
Area hijau yang sama luasnya kini sedang mereka lalui, banyak rerumputan di sana-sini dan pula pohon-pohon yang ada di pinggir jalan utama yang berjejer dengan rapi.
Kibo bertanya-tanya mengapa bisa ada area tandus dan area hijau yang saling berbatasan secara langsung, ini merupakan hal yang unik untuk diperhatikannya.
Setelah beberapa saat pula, akhirnya ia melihat orang lain selain kelompoknya itu, area persawahan mulai terlihat, dan kebetulan para petani sedang menanam padi di musim ini.
Ini juga menandakan bahwa didepannya itu sudah pasti ada sebuah desa, maka dari itu Kibo menghentikan sejenak laju kudanya itu untuk bertanya pada salah seorang petani yang sedang menanam padi itu.
Terlihat ia adalah wanita berumur lanjut yang sederhana, ia menoleh ketika Kibo turun dari kuda dan berusaha mengajaknya bicara.
"Rambutmu bagus," ucap wanita tua itu memuji Kibo, terlihat dari tatapannya itu ia berkata jujur dan tidak bohong.
"Ahaha ...." Kibo hanya bisa tertawa mendengar pujian dari wanita tua itu.
"Begini Nek, apakah di sekitar sini ada desa terdekat?"
"Tentu saja Nak, cukup mengikuti jalanan setapak yang ada di seberang jalan, tepatnya di sebelah kiri."
__ADS_1
"Satu lagi Nek, apakah area perkotaan masih jauh dari sini?" Kibo khawatir bila memang perjalannya itu akan memakan waktu terlalu lama, sedangkan jadwal kompetisi bertarung yang akan mereka ikuti tidak bisa dimundurkan.
"Wah? Masih agak jauh Nak, harus melewati beberapa desa terlebih dahulu, baru bisa sampai ke area perkotaan ... area itu dekat pusat kota kerajaan barat bukan?"
Kibo mengangguk membenarkan perkataan wanita tua itu, sebenarnya jawaban seperti ini tidak yang seperti ia harapkan, namun mau bagaimana lagi, dunia tidak sekecil yang ia kira.
Setelah berterima kasih, akhirnya Kibo melanjutkan lagi perjalanannya ke desa terdekat, tujuannya adalah agar ia bisa menemukan tempat peternakan hewan, mereka hendak mencari makanan untuk kuda mereka sekaligus mengistirahatkannya juga.
Masing-masing dari mereka akhirnya menyusuri sebuah jalan setapak, tidak terlalu kecil, namun mereka tidak bisa mengendarai kuda supaya baik jalannya di sini.
Mereka turun dari kuda masing-masing dan menuntunnya untuk menyusuri jalan yang lumayan kecil itu, dan hal ini membuat mereka seperti segerombolan orang pendatang baru ke desa itu (padahal memang benar kenyataannya seperti itu)
Beberapa kali berpapasan dengan warga, sangat terlihat dari ekspresi orang-orang itu seperti menatap aneh serta takut ketika melihat seorang pria kriting dan banyak orang besar bersamanya.
Namun Kibo tak menghiraukan hal itu begitupula dengan seluruh orang yang bersama dengannya.
Akhirnya Kibo bertanya pada salah seorang warga yang berpapasan dengannya. "Permisi bu, apakah di sekitar sini ada tempat mengurus ternak?"
__ADS_1