
“Hah?” Dalam satu kedipan mata saja Raven sudah tidak berada di area gerbang utama Kerajaan Barat, melainkan di sebuah hamparan salju, area yang sangat luas yang sekarang dilihatnya.
“Hamparan salju!?” Tidak cukup dengan hamparan pasir yang telah ia lihat, Raven tidak mengerti mengapa kini ia berpindah tempat seperti ini.
Ulah siapakah ini?
“Ho. Menarik.” Shea melihat bagaimana lingkungan sekitarnya berubah drastis, kini ia bisa melihat hamparan langit cerah dengan salju yang perlahan turun ke bawah.
“Kau tidak sendiri.” Shea menatap tajam ke arah makhluk hitam bermata merah. Ia tidak merasakan hawa kehadiran apapun darinya. Cukup menarik.
“Selamat siang nona.” Raven tidak punya pilihan lain selain mengatakan ini, mengingat ia sendiri tidak mengantisipasi hal yang terjadi.
“Sial, dia tidak memberi aba-aba,” gumam Raven, ia jadi tidak bisa merencanakan apapun lagi.
Sang setengah elf itu tidak menyangka pemuda targetnya itu akan membawa rekannya sendiri.
Makhluk hitam dengan tatapan merah tajam, entah mengapa Shea merasa ini bukanlah kali pertama ia bertemu dengan makhluk itu.
Namun makhluk hitam itu terlihat tidak mengancam sedikitpun, jadinya Shea tidak perlu terlalu memerhatikan keberadaan makhluk itu di sini.
Tujuannya hanya satu, yaitu mengeliminasi pemuda bernama Danny dan sekaligus siapapun yang menghalangi tujuannya, tidak mungkin lebih rumit lagi dari itu.
Kini Shea mengambil waktu untuk melihat sekitarnya, jika diperhatikan lebih lama, memang tempat baru yang hanyalah hamparan salju ini memang terlihat indah. “Tempat yang indah.” Begitulah Shea mengomentarinya.
Memang tidak dapat dipungkiri, tempat seindah ini tidak ditujukkan untuk dinikmati, melainkan adalah tempat yang dipersiapkan untuk pertarungan.
Raven yang berada di jarak yang tidak dekat, bisa langsung tahu bahwa ini bukanlah ulah musuhnya, melainkan....
“Danny....” Raven merasakan kekuatan sang pemuda itu memang bertambah kuat, lebih daripada apa yang bisa dibayangkannya.
Jadi tidak heran juga apabila dia bisa membuat dunia buatan secepat satu kedipan mata saja.
Shea sudah mengantisipasi akan hal ini. Pada akhirnya memang sesuai dugaannya, bahwa pemuda itu cepat atau lambat pasti akan menggunakan kekuatan batu leluhur demi human itu.
__ADS_1
Dan sekarang dia sudah menggunakannya.
Shea tidak merasakan adanya aura sihir di tempat yang baru ini. tentunya ini adalah hal yang aneh, karena biasanya teknik dunia buatan adalah jenis teknik yang menggunakan banyak sekali elemen sihir.
Lantas mengapa kali ini ia tidak merasakan energi sihir sedikitpun di sini?
“Hmm....” Shea sudah memfokuskan kekuatan alamnya, dan hasilnya tetap sama, kekuatan sihir yang terpancar dari dunia buatan ini sulit dirasakan.
Yang itu berarti satu hal, penggunanya sudah bisa membuat realita baru di mana kekuatan dunia buatan ini tidak bisa dipatahkan oleh siapapun.
Shea tahu, kekuatan dunia buatan memang adalah teknik sihir yang tidak banyak makhluk bisa menggunakannya, bahkan jika seorang manusia bisa menggunakannya, biasanya dengan catatan sudah pasti dunia buatan itu mengandung energi sihir.
Dan untuk keluar dari dunia buatan ini hanya tinggal mengacaukan energi sihir lawan dalam dunia buatan ini, dan dengan begitu maka sudah pasti teknik ini bisa dipatahkan.
Lawan yang terkena teknik dunia buatan ini bisa mengubah lokasi, atau tempat yang diinginkan dengan tujuan agar bisa menguntungkannya, dan bisa juga kembali ke dunia asli.
Kalau begini tentu saja sudah pasti....
“Kau tidak akan bisa lari lagi.” Shea menatap tajam Danny.
Ia tidak perlu repot-repot mencari keberadaan pemuda itu, karena lawannya sudah memastikan tidak akan kabur lagi.
Senjata makan tuan yang dibuat pemuda itu sendiri.
“Begitu juga kau.” Danny memandang sang setengah elf itu dengan kekuatan yang luar biasa hebat, kedua matanya berubah menjadi ungu terang. Terlihat keren.
Perubahan yang cukup sederhana terlihat dari Danny. Tidak ada yang banyak berubah selain warna matanya saja.
Padahal seperti yang kita tahu, ketika Danny menggunakan kekuatan batu permata mulia, biasanya penampilannya juga akan berubah dan perubahannya biasanya mencolok.
Namun sekarang berbeda adanya.
Kini Danny sudah memastikan tidak ada jalan keluar dari dunia buatannya, setidaknya bagi lawannya sendiri.
__ADS_1
Meski sebagai pengguna teknik ini mampu membatalkan teknik dunia buatan ini, namun Danny sama sekali tidak merencanakan hal itu.
Sebegitu besarkah kepercayaan dirinya yang sekarang?
Raven merasakan hal ini juga. Danny terlihat lebih percaya diri, dari awal memang seperti itu, namun sekarang nampaknya sudah naik ke level yang berbeda.
Kepercayaan diri Danny memaksanya berada di dunia buatan tanpa rencana dalam kepala. Raven tidak bisa protes karena semua ini sudah terjadi.
Tanpa rencana sekalipun tidaklah buruk juga. Raven berusaha mengambil sisi positifnya. Mengingat merencanakan sesuatu pun tidak menjamin keberhasilan.
Daripada kecewa karena rencana bisa saja tidak terealisasi, mending tidak usah sekalian bukan?
Selanjutnya, Raven memerhatikan sang setengah elf musuhnya, ia tidak lagi merasakan perhatian darinya. Apa dia itu tidak menyadari identitasnya?
Apa dia tidak sadar bahwa dirinyalah dalang dibalik kaburnya Danny?
Raven ingat ia mengeluarkan teknik melarikan diri terhebatnya demi mengeluarkan Danny di situasi kurang bagus.
Karena instingnya mengatakan saat itu bukanlah saat yang tepat menghadapi sang setengah elf ini.
Namun sekarang berbeda. Inilah saat yang tepat bagi Danny dan sang setengah elf itu bertarung, dan dia menjadi saksinya di sini.
“Sihir Alam: Api Alam.” Seketika itu juga aura kekuatan alam Shea membuat gemuruh hebat di langit.
Danny bisa merasakan kekuatan alam yang begitu hebat, dan di saat yang bersamaan ia merasakan atmosfer perubahan ada di atas langit.
Ada sesuatu yang berwarna merah berjatuhan dari langit, dan makin lama makin mendekat ke tanah.
Bush!
‘Api.’ Danny bisa melihat api kecil yang jatuh ke bawah, bersamaan dengan butiran salju.
Bush!
__ADS_1
Bush!
Dan makin banyak api yang terjatuh ke bawah, sungguh fenomena yang tidak biasa.