Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 47: Apa Itu Kau?


__ADS_3

Jalananan setapak dipenuhi bebatuan mulai membuat Danny kesulitan dalam berjalan ditambah dengan ranting panjang yang ia bawa di bahunya mulai menunjukkan keberatan pada tubuhnya.


Keadaan ternyata tidak berlangsung seperti itu saja, sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat dengannya.


Tetesan hujan mulai menetes dengan deras tanpa diiringi oleh awan gelap sekalipun, tidak heran mungkin karena kondisi cuaca ini sangat berbeda dibanding ketika ia didesa dulu.


Sembari melalui semuanya Danny tetap berjalan, kini arah jalan itu menanjak, sedikit berat memang namun itu merupakan akhir dari jalanan setapak tersebut.


Setelah berhasil melewati tanjakan itu, Danny menemukan area persawahan hijau yang luas, begitu luas dan hijaunya membuatnya terpana sebentar, namun hujan tidak memberinya ampun sedikitpun untuk menunggunya melihat pemandangan yang indah ini. Hujannya bertambah deras.


Di jalanan tanah pembatas antar persawahan itu Danny melihat sebuah tempat bernaung yang terbuat dari bambu dan diatapi kayu, akhirnya Danny memutuskan untuk bernaung disana.


Terdengar suara seruling yang indah dari tempat itu, begitu lembut bercampur kesedihan seakan bersatu padu dengan hujan yang sedang turun dengan lembut juga.


Begitu mendekati tempat bernaung itu, mata yang indah, matanya memancarkan warna biru yang indah, rambut panjangnya memancarkan aura yang lembut. Sekilas itu nampak seperti...


"Ce...Cilia?"


"...Huh?"


Gadis itu menyadari kehadiran Danny dan menghentikan permainan serulingnya.


Seorang gadis yang Danny jumpai di tempat bernaung itu mirip sekali dengan Cecilia! apakah itu dirinya?

__ADS_1


"...Siapa?" suaranya lembut, namun berbeda


Danny terhening sejenak sebelum menyadari bahwa gadis yang ia lihat itu bukanlah Cecilia.


"...Ah...maaf..."


Gadis itu tersenyum


"Hei, diluar masih hujan, duduklah disini dahulu!" katanya sambil menepuk-nepuk alas yang terbuat dari bambu dilapisi kayu itu.


"A..ah iya..." kemudian akhirnya Danny mendaratkan tubuhnya, menselonjorkan kakinya, meregangkan urat-uratnya agar bisa lebih rileks.


Begitu Gadis itu berhenti memainkan serulingnya, hujanpun seakan perlahan dan perlahan berhenti mengikutinya.


"Ah... Iya aku ini petualang.." jawab Danny


Danny sadar akan sesuatu, hujannya.


Eh kok berhenti? ada apa ini?


"Hmm?" Gadis itu penasaran dengan tingkal Danny yang seakan penasaran dengan hujannya itu.


"Sudah berhenti?"

__ADS_1


"Belum..." jawabnya dengan lembut diiringi dengan lantunan suara seruling yang kembali ia senandungkan.


Seolah mengikuti suara seruling itu, hujanpun kini turun kembali, memang nada yang dihasilkannya cukup menyedihkan. Bahkan alampun setuju dengan permainan serulingnya.


***


Mengapa bisa begini? apakah ini kemampuan gadis ini? dan lagi mengapa setiap melihatnya aku melihat Cecilia namun tidak dengan telinga yang panjangnya.


Mengapa bayangan ini terus ada? seolah ia tidak mau lari dariku. Sudah, sudah, sudah.. Cecilia sudah pergi, pergi, jauh saat ini.


Dan aku yang sekarang tinggal aku sendiri, ya benar, aku sendiri, tidak ada teman ataupun siapapun yang menemaniku...


Tidak ada teman cerita, apalagi menghabiskan waktu bersama. Apa yang sebenarnya kualami ini?


Apakah memang tidak ada siapapun yang peduli terhadapku? apakah aku ini hanya alat?


Untuk apa aku berjuang? Mengapa aku tidak bersamanya sekarang? aku ada disini karenanya...


Sikapnya yang begitu lembut, ia begitu terampil namun kadang ceroboh, dia itu... kadang waspadaan- dia memang orangnya seperti itu.


***


Tanpa disadari air kembali berjatuhan tetapi kini bukan dari langit melainkan dari matanya. Gadis itu menyadarinya dan tetap memainkan serulingnya seakan mengiringi setiap perasaan yang selama ini tertahan di batin pria yang ada disampingnya itu.

__ADS_1


__ADS_2