Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 127: Mimpi Buruk


__ADS_3

Vincent mengelap terlebih dahulu dengan tangannya keringat berlebihan dari seluruh badannya itu, kemudian ia mulai melihat Danny dan Vincent dengan tatapan cemas yang terpaut pada wajahnya itu.


Danny dan Vincent tidak mengerti mengapa Vincent memasang wajah yang cemas, memang benar sepertinya ada yang tidak biasa di sini.


"Danny ... Brock ...." Vincent memberikan nada kecemasan yang dalam pada ucapannya itu, membuat dua temannya yang tengah melihatnya itu ikut-ikutan merasa cemas.


"... Tadi malam aku bermimpi buruk ...." Vincent mengatakan hal itu dengan jujur sejujur-jujurnya.


"..."


Hening sangat terasa sekali setelah beberapa saat Vincent mengatakan hal itu, Danny melihat Brock yang ada di sisinya, nampaknya sesuatu yang telah tertahan beberapa saat tadi akan segera meledak-ledak, ia mempersiapkan diri dengan menutup kedua telingannya dengan tangannya.


"AAPPPPAAA?! HANYA MASALAH SEPELE BEGITU KAU SAMPAI HARUS TERIAK TIDAK JELAS?!"


"APA YANG TERJADI KALAU JANTUNG DANNY JADI COPOT NANTINYA HAH?!"


"..." Danny hanya bisa terdiam, samar-samar ia mendengar tentang jantung yang keluar dari tempatnya- itu sangat mengerikan.


"APA KAU AKAN BERTANGGUNG JAWAB, BAGAIMANA KALAU DIA SUDAH SAMPAI DI SURGA SEBELUM KAU MENYADARINYA?! APAKAH TIDAK TERPIKIRKAN OLEHMU HAH?!"

__ADS_1


Danny menghargai Brock khawatir dan peduli padanya, tapi di saat seperti ini kedengarannya terlalu berlebihan deh.


"DAN LAGI, BAGAIMANA KALAU AKU YANG SEPERTI ITU? APAKAH KAU SUDI MENGUBURKAN AKU, HAH?!"


Tunggu, sepertinya itu benar-benar terlalu berlebihan deh.


"DAN BAGAIMANA KALAU TERJADI PLOT TWIST YANG TAK TERDUGA, BAGAIMANA KALAU KAU YANG NANTI PERGI KE NARAKA KARENA ULAH TERIAKANMU SENDIRI?!"


Dan terjadi lagi ... Danny tidak bisa menghentikan amukan Brock, dan bila dihentikan mungkin saja ia akan terkena dampak sembuaran amarah Brock itu.


"Tu-tunggu Brock, aku tidak mau pergi ke tempat yang kau sebutkan itu ...." Vincent merasa naraka bukanlah tempat yang bagus untuk orang sepertinya.


Vincent masih terdiam, ia melihat Brock kini tengah berusaha untuk tidak mengatakan hal-hal lain, ia bahkan sampai mengatakan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Vincent begitupula dengan Danny.


Brock berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, pada akhirnya Danny akhirnya bisa melepas tutupan tangan pada kedua telinganya itu.


"Ah ... huh ... maaf aku terbawa emosi ... bahkan sampai menyebutkan hal yang tidak-tidak," ujar Brock pelan, nampaknya sekarang emosinya mereda.


Vincent juga nampak merasa ketakutan tadi karena terkena amarah dari Brock, padahal alasan ia berteriak memang benar-benar karena mimpi buruknya itu.

__ADS_1


"Oh iya, mengapa kalian pagi-pagi begini sudah bangun?" tanya Vincent pada Brock dan Danny.


"Eh, ini sudah jam delapan pagi, yang ada kau sudah kesiangan Brock ...." Lagi-lagi Brock membalas pernyataan Vincent secara datar juga.


"Hmm begitukah? Padahal aku sama sekali tidak begadang ... pertanda apakah ini?" Vincent heran mengapa ia mengalami rasa 'malas' yang kentara saat ini.


"Dah lah, tanyakan pertanyaanmu itu pada rumput yang bergoyang Vincent," ujar Brock cepat- entah mengapa ia menperlakukannya seperti ini- eh tapi memangnya Vincent diperlakukan seperti apa oleh Brock selama ini.


"Apa kau tidak peduli padaku Brock?" Vincent ingin mengetahui alasan mengapa Brock bersikap seperti itu padanya.


"Hah? Memangnya aku ini orang tuamu?"


Balasan yang singkat, padat, dan jelas menjawab pertanyaan Vincent itu, dan Danny hanya bisa terdiam di sana.


"Su-sudahlah kita peduli terhadapmu kok Vincent ...." Danny berusaha menghibur Vincent, karena nampaknya perkataan Brock tidak bisa melakukan itu pada saat ini.


"Benarkah Danny?" Mata Vincent berbinar saat ini padanya, nampaknya sesuatu yang 'lain' akan segera terjadi.


Danny mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Kalau begitu maukah kau mendengar cerita dari mimpiku ini?"


__ADS_2