Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 197: Alasan Sebenarnya (2)


__ADS_3

Kibo tertegun mendengar pernyataan sang ksatria suci, kata-katan yang diucapkannya itu langsung menembus ke dalam relung hati yang paling dalam dari dirinya itu.


"Izinkan aku untuk lebih memperjelas lagi ... menurut pendapatku, seperti yang telah aku katakan sebelumnya, tujuanmu membentuk kelompok ini hanyalah agar dirimu merasa aman terhadap dunia yang begitu keras padamu ...."


"Siapapun akan merasa begitu, kupikir ... siapa yang tidak mau dikeliling pria besar disekelilingnya? Apakah ada orang-orang jahat yang berani berbuat masalah dengannya? Yang ada mereka sudah lari terbirit-birit karena ketakutan sebelum memulai aksinya itu ...."


"Yah ... ini hanyalah pendapatku saja ... kau sendiri yang mempunyai alasan tersendiri untuk membangun kelompokmu itu ...."


Setelah mengatakan itu Arthur berhenti berjalan mondar-mandir di ruangan itu, ia sudah tidak tertarik lagi dengan pria keriting ini dan hendak meninggalkan ruangan ini.


Kibo tertunduk, pikirannya kembali beranjak ke belakang, sebuah memori sedang berkecamuk dalam pikirannya, alasan mengapa ia membentuk kelompok itu tidak lain tidak bukan adalah ...

__ADS_1


"Itu semua benar ...."


Langkah kaki Arthur terhenti seketika itu juga, ia menoleh kembali untuk memastikan perkataan dari sang petualang itu.


"Aku dan temanku membentuk kelompok ini memang agar bisa untuk bergaul dengan orang-orang kuat agar hidup kami bisa lebih mudah kedepannya, hanya saja ... pendanganku berubah seiring dengan berjalannya waktu, memang awalnya tujuanku serendah itu namun sekarang ini kami bekerja sama satu sama lain ... aku berusaha untuk tidak menjadi beban bagi mereka dan akan selalu tetap bersama dengan mereka ...."


Arthur kembali mendekati Kibo seraya berkata, "Pernyataanmu tidak buruk juga, aku tidak menyangka kau akan mengakui hal memalukan seperti itu ... sepertinya kelompok Alliance Fight's telah salah dalam memilih pemimpin ...."


"Arthur!" Thor seketika itu juga berteriak mengingatkan sahabatnya itu bahwa ia sudah terlalu jauh untuk berbicara dengan petualang itu.


Kibo tertunduk lesu, pada akhirnya semangatnya entah mengapa hilang diterpa angin dingin yang perlahan masuk dari jendela tepat dibelakang ruangan kantor Pak Wakil ini.

__ADS_1


"Ukh, sepertinya udara dingin ini sedikit mengganggu," ujar Pak Wakil sambil menutup jendela yang tadinya terbuka itu.


Thor memang tahu bahwa Arthur telah mengatakan hal yang sebenarnya yang bahkan di dalam ruangan ini tidak ada yang dapat membantahnya, bahkan dari pernyataan seseorang yang ia ajak ngobrol ini sekarang.


Namun Thor berpendapat bahwa tidak semestinya Arthur dapat semena-mena membuka segala sesuatu tentang hal yang ingin ia ketahui ... karena memang sejujurnya ini agak berlebihan.


Kibo tidak mempunyai pilihan apapun selain harus mengakui semua yang ksatria suci itu katakan ... memang tidak ada yang salah dalam pernyataannya itu, namun entah mengapa perasaan hati Kibo berubah drastis ketika mendengar semua kenyataan ini.


Bukan jadi lebih baik tentunya melainkan perasaannya jatuh seakan-akan pertama kali kehilangan Yizi.


Ia memang untuk sementara sudah melupakan perasaan sedihnya itu, hanya saja memang kejadian seperti ini menjadi pemicu yang membuat Kibo ingat akan kesedihannya yang memang ia tidak ingin ingat lagi.

__ADS_1


Apakah ia lebih setuju dengan perkataan Arthur yang realistis dan sesuai dengan kenyataan sebenarnya, atau perkataan Yizi yang menenangkan hati dan membantu dirinya percaya diri namun tidak begitu sesuai dengan realita?


Perkataan Arthur memang menyadarkannya kembali bahwa dirinya itu tidak pantas untuk menjadi seorang pemimpin bagi para anggota Alliance Fight's itu, namun hanya saja ia tidak melakukannya untuk dirinya sendiri, ia melakukannya untuk Yizi.


__ADS_2