Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 290: Sebuah Usaha


__ADS_3

Brock sudah tidak mau lagi berpikir tentang keamanannya lagi kali ini; ia sudah benar-benar tidak mempedulikan risiko yang terjadi apabila berjalan cepat di tengah bebatuan licin dan tajam itu.


Aku tidak peduli dengan risiko yang ada! Mau itu terjatuh atau apapun! Aku akan berlari sebisaku untuk menyusul Danny dan menuju tempat sungai kecil itu dengan cepat! Berikan aku kekuatan untuk melakukannya Vincent!


Brock memang biasanya berpikir matang, apalagi jika menyangkut risiko yang ada, namun untuk saat ini ia tidak memiliki waktu untuk berpikir dan berhati-hati di mana memang temannya sedang dalam kondisi buruk saat ini.


Brock memutuskan untuk cepat-cepat bahkan sedikit berlari untuk segera mengejar Danny yang sedang menunggunya di depan, Brock percaya bahwa memang tempat yang akan mereka tuju itu sudah dekat.


Brock berusaha menjaga kesimbangannya agar ia tidak jatuh di bebatuan licin dan ranting tajam yang berada di sisinya itu, sembari memastikan Vincent masih bisa untuk diberi pertolongan.


Srak!


"Ugh!"


Beberapa ranting yang cukup tajam menusuk badannya yang berakibat tubuh pria besar itu tergores dan berdarah.


Sial! Ingin kuberkata kasar saat ini! Hih!


Brock berusaha untuk melewati jalanan itu lebih cepat sebisanya, ia sudah tidak lagi mementingkan diri sendiri; biarlah dia menerima luka seperti apapun asalkan temannya itu bisa kembali diselamatkan.


Brock sudah lama tidak merasa cemas dan takut seperti itu, ia merasa bersalah karena tidak menyadari kondisi Vincent lebih awal tadi, dan ia merasa lebih mementingkan dirinya sendiri tadi, sebelum tahu Vincent berada di kondisi yang tidak bagus.


Vincent ... mengapa kau tidak jujur saja tentang keadaanmu saat ini? Aku tahu kau itu bukan orang yang suka mengungkapkan apa yang kau rasa di hadapan orang lain ....


Aku tahu karena memang sewaktu bersamaku di sel penjara itu, memang kau selalu bersikap sama, bahkan saat kau mengalami kondisi saat ini ....


Kau adalah tipe orang yang sama, tidak peduli apa yang kau rasa saat ini; kau tidak pernah menunjukkan hal lain selain sifat konyolmu itu ....

__ADS_1


Atau juga bukan sikapmu yang konyol, hanya saja aku yang terlalu berlebihan bersikap padamu ....


Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi untuk sekian lama mengapa aku merasa takut kehilangan sesuatu juga kali ini?


Mengapa aku merasa seperti dulu? Perasaan ditinggalkan dan gagal mengapa kembali muncul? Apa itu karena hanya kau orang terdekatku?


Brock mulai memikirkan apa jadinya bilamana temannya itu harus meninggalkannya, ia memang tahu sudah bebas dan pula dengan bebasnya dia dari sel penjara, itu tidak membuat dirinya itu akan bersama Vincent juga nantinya.


Selama hampir lima tahun mereka bersama, dan pada saat ini telah terbebas, Vincent sudah menentukan arah jalan hidupnya, yaitu dengan mengikuti Danny sedangkan Brock masih berpikir bagaimana cara agar hidupnya itu bisa lebih berati dengan kesempatan yang telah datang kepadanya itu.


Brock juga tahu Vincent sudah memutuskan hal itu, untuk mengikut Danny karena memang itu adalah keputusannya sendiri, pria berambut sebahu itu tidak menanyakan pendapatnya pada orang lain; dia benar-benar yakin akan jalan yang ia pilih.


Hal itu membuat Brock sedikit tahu tentang si Vincent ini, bahwa memang kebersamannya itu akan berakhir di sini, di mana Vincent akan pergi bertualang bersama Danny dan gadis bernama Patricia.


Sedangkan dirinya masih belum tahu dan memutuskan akan bagaimana selanjutnya yang ia ingin lakukan.


Brock memikirkan hal yang sama dengan Vincent, ia ingin agar tidak lari dari kenyataan yang telah ia ketahui itu, namun perbedaannya adalah Brock hanya memiliki pikiran yang mirip saja dengan temannya itu, tapi tidak dengan tindakan yang dibuat temannya itu.


Brock terlalu banyak memikirkan hal yang logis dibanding dengan mengandalkan orang lain, dia memang pintar namun tetap peduli, dan punya pendirian yang teguh juga.


Brock tahu akan kenyataan mengerikan itu, dan pula tentang hal-hal yang ia tidak lama sudah ia ketahui itu.


Penyerangan Iblis, terancamnya dunia; hal itu adalah hal yang paling buruk yang bisa ia dengar seumur hidupnya, Brock bisa tahu karena memang tempat tinggal, atau lebih tepatnya semua tempat di dunia ini akan berada dalam kondisi yang gawat.


Maka dari itu mau ia pergi kemanapun, bahaya akan tetap ada dan sama sekali tidak memandang di mana ia berada dan kapanpun waktunya.


Pemikiran tentang hidupnya telah bebas meskipun memang kenyataannya telah bebas dari sel penjara, kini pria besar itu mengetahui ada ancaman yang lebih besar lagi dan lebih menakutkan lagi dibanding dengan hidup di penjara.

__ADS_1


Jika diandaikan, sama saja ia belum memiliki kebebasan yang sepenuhnya dan hanya kebebasan semu yang ada di pikirannya, sedangkan kenyataan yang sebenarnya memang dunia yang ia tinggali ini tidak benar-benar bebas seperti yang ia kira sebelumnya.


Brock hanya takut saja untuk mengambil keputusan, ia pikir untuk menerima tawaran Danny adalah sebuah hal yang berat sedang untuk melupakan kenyataan dunia yang mengerikan juga berat untuk dilakukan.


Brock seolah-olah terjebak di antara keputusan yang harus dia ambil, ia nampaknya masih memerlukan sedikit lagi saja waktu untuknya agar bisa lebih lagi memikirkan hal ini dari dalam hatinya.


Brock bergerak dengan secepat yang ia bisa; goresan demi goresan dan luka kini mulai terlihat pada wajah tangan, badan, dan tidak lupa pada kakinya itu.


Namun ia mengabaikan itu semua demi agar ia bisa bergerak lebih cepat supaya Vincent dapat segera ditangani.


Danny melihat Brock bergerak lebih cepat dibandingkan pertama kali ia berjalan, kini terlihat sudah tidak ada lagi keraguan di dalam tindakannya itu; sangat terlihat Brock memang peduli pada keadaan temannya itu.


Danny tahu untuk berjalan di area ini memang tidak mudah, ia juga harus mengikuti Patricia yang sedang memimpinnya ke tempat yang dituju itu, dan memang berjalan lambat adalah satu-satunya cara berhati-hati yang tidak diterapkan oleh Brock saat ini.


"Brock! Kau pasti bisa, tinggal sedikit lagi!" Danny berupaya memberi semangat pada Brock, ia harap Brock tetap bisa bergerak dengan cepat tanpa ada suatu hal yang menghambatnya saat ini.


"Aku tahu Danny! Aku akan segera menyusulmu!" Brock semakin mempercepat langkah kakinya itu, karena gugup dan merasa cemas ia merasa kekuatan pada kakinya itu berangsur-angsur menghilang, padahal seharusnya dengan tubuh besarnya dengan otot itu ia tidak perlu khawatir dengan tenaga fisik miliknya itu.


Astaga! Karena aku begitu khawatir, kakiku serasa jadi tidak kuat menumpu pada bebatuan licin ini! Aku bisa terjatuh!


Brock mulai kehilangan keseimbangan karena terpikir hal-hal negatif, hal ini berujung pada kestabilan langkahnya yang mulai tidak beraturan.


Bila aku terjatuh di area ini ... tidak hanya Vincent yang akan semakin terluka! Astaga!


Danny melihat jaraknya sudah tidak terlalu jauh dengannya, sedikit lagi saja Brock sudah bisa mencapai tempat di mana Danny menunggu saat ini.


Namun Danny melihat ada sesuatu yang aneh di sini, meskipun sudah bergerak dengan cepat mengapa ia nampak seperti terhuyung-huyung? Apa sebabnya Brock tiba-tiba kehilangan keseimbangannya seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2