Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 14: Teman Lama


__ADS_3

Sementara itu di Kerajaan Barat, situasi disana cukup damai, namun mereka masih saja diliputi duka karena kematian salah satu ksatria mereka.


Arthur, Thor, Jessica, Worther dan Hellen adalah sahabat sejak kecil, mereka bertumbuh di Kerajaan Barat Karena kepintaran serta kemampuan mereka, mereka menjadi murid akademi sihir terbaik di Kerajaan Barat.


Mulanya mereka hanya berjalan masing-masing untuk menjadi yang terbaik namun seiring berjalannya waktu mereka bisa saling kenal dan menghabiskan waktu dan latihan bersama.


Usia mereka seumuran sekitar dua puluh dua tahunan, meskipun mereka masih muda namun kemampuannya berada diatas rata-rata, para prajurit senior kerajaan barat pun sampai menaruh hormat pada mereka.


Sikap mereka berlima beragam, namun tidak ada yang buruk semuanya memiliki sikap yang baik sehingga reputasi mereka di Kerajaan tergolong sangat baik.


Tak jarang ketika mereka sedang berjalan-jalan disekitaran kota banyak masyarakat yang memberi banyak oleh-oleh seperti buah-buahan, sayuran, serta perlengkapan bertempur.


Mereka dengan senang hati menerima pemberian masyarakat tersebut.


-------------


Arthur adalah seorang pemuda tampan, kharismanya bersinar di seluruh Kerajaan Barat mustahil masyarakat tidak mengenal sosok Arthur.


Meskipun memiliki penampilan menarik, Arthur tidak begitu peduli dengan golongan wanita bangsawan yang mendekatinya, tujuannya tidak terfokus pada mencari pasangan namun ia bertujuan untuk menjadi lebih kuat agar bisa melindungi Kerajaan Barat.


Di hari yang telah sore di Kerajaan Barat, angin bertiup sepoi-sepoi menggetarkan dahan dan ranting pohon, bunga liar namun indah tumbuh disekitaran sisi jalan setapak di sebelah sungai yang menantulkan cahaya orange matahari.


Langkah kaki Arthur membawanya pergi untuk menemui sahabat lamanya di peristirahatan terakhir, selama perjalanannya menuju kuburan kota barat ia mengingat kenangannya bersama dengan Thor


---------------


Akademi sihir adalah rangkaian pendidikan sihir yang diselenggarakan oleh kerajaan barat, dan itu merupakan program pendidikan lima tahun dimulai sejak seseorang berumur lima belas tahun. Tidak hanya sihir yang dipelajari namun berbagai macam teknik berpedang, bela diri, menipu semua diajarkan disini dinamakan Akademi Sihir karena kebanyakan yang dipelajari adaalah ilmu sihir, para siswanya bebas untuk mengembangkan lebih jauh kemampuan atau bakat yang dimiliki diluar ilmu sihir.


Para Anak-anak kerajaan barat tidak dipaksa untuk mengikuti pendidikan sihir tersebut, namun beberapa anak lahir dengan bakat sihir yang luar biasa mereka direkomendasikan untuk mengikuti pendidikan tersebut.


Arthur adalah salah satunya ia berbakat dalam seni berpedang bahkan ketika ia berumur lima tahun ia mampu melakukan berbagai macam gerakan pedang kayu. Sehingga ia memutuskan untuk mengasah dan meningkatkan kemampuannya di Akademi sihir tersebut.


Ia mencapai berbagai macam prestasi ketika tengah dalam masa pembelajarannya di Akademi Sihir, menjadi murid terpintar dan murid dengan kemanpuan berpedang terbaik di seluruh Akademi Sihir Kerajaan Barat.


Pada tahun keduanya belajar di Akademi Sihir ia bertemu dengan seoraang pria bernama Thor. Ia bertemu ketika sedang ada lomba pedang kayu tahunan di akademi sihir.


Ketika ia tengah melawan Thor, Arthur saja yang terus melancarkan serangan, ia tidak membalas namun serangan yang dilandaskan padanya dapat ia tangkis dan hindari dengan mudah.


Menjadi lawan pertamanya tidak membuat Arthur gentar perlahan namun pasti kekuatan Arthur bertambah seiring pertarungan dan Thor juga tidak mau kalah dalam urusan bertahan sampai pada akhirnya Arthur mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengehempaskan Thor dari arena pertandingan.


Ia tidak terjatuh namun tubuhnya terhempas keluar dari arena pertarungan dan membuatnya harus kalah dari Arthur.


Arthur menjuluki pria itu pertahanan suci, karena diantara semua lawannya hanya dialah yang tidak pingsan, jatuh, atau mengaku kalah darinya.


Sejak saat itu Thor mulai mendekati Arthur, namun Arthur hanya menganggap Thor mengganggu kegiatannya.


Hal itu ia lakukan setiap hari, ia terus berupaya untuk menarik perhatian Arthur agar dirinya bisa menjadi teman. Bahkan ketika libur akademi ia terus saja mengunjungi rumah Arthur.


Seiring waktu berjalan Arthur akhirnya mulai membuka diri pada Thor, mereka lebih sering melakukan kegiatan bersama.


Bahkan ketika di Akademi Sihir Thor terkadang iri karena murid perempuan sering mengerumuni Arthur.

__ADS_1


Karena penampilannya biasa saja, namun dalam urusan tekad ia pantang menyerah.


Terkadang Thor lebih banyak berbicara dibanding dengan Arthur namun perlahan akhirnya Arthur ikut-ikutan mempercayakan semua hal pada Thor.


Thor merasa senang karena memiliki seorang sahabat yang hebat.


Murid Akademi Sihir yang berbakat berpotensi besar memiliki kekuatan yang besar juga, bahkan melebihi orang yang telah bertahun-tahun menggeluti ilmu sihir tersebut.


Pihak Kerajaan Barat pun lebih banyak mempercayakan misi-misi kerajaan lebih banyak pada pemuda berbakat dibanding dengan yang tidak.


Thor pun seringkali terlibat misi bersama dengan Arthur, dan perannya itu di garis depan untuk melindungi teman dibelakangnya. Arthur yang mengurus sisanya untuk masalah serangan.


Misi yang dijalankanpun beragam mulai dari memburu buronan kerajaan, menyelamatkan desa dari binatang buas dan berbagai macam misi lain.


Mereka menjadi pasangan ksatria yang hebat sehingga masyarakat Kerajaan Barat menjulukinya sebagai "Dua Serangkai"


Namun semuanya berakhir ketika Thor harus mengorbankan dirinya agar teman-teman yang lain bisa selamat.


--------------


Angin dingin mulai bertiup lembut tanda sore hari akan berakhir, Arthur berjongkok disamping nisan sahabatnya itu.


"Thor..."


"Kau adalah sahabat pertama dan terbaikku..."


"Dulu aku hanya mengandalkan diri..."


"Kau..mengubah pandanganku Thor..."


"Dengan sikap rendah hatimu..."


"Seolah-olah kau menggangguku..."


"Tapi nyatanya tidak..."


"Sebenarnya kaulah yang mengubahku Thor..."


Arthur berusaha mengungkapkan isi hatinya di depan makam sahabatnya itu karena hal ini tidak sempat ia sampaikan ketika Thor masih hidup.


Hari mulai gelap rintik hujan mengiringi kegelapan yang datang itu.


Seseorang memayungi Arthur


"..."


"Kau tidak boleh terus terpuruk Arthur..."


"?"


"Hellen?"

__ADS_1


Arthur melihat air mata Hellen jatuh perlahan


"Haha, kau bilang begitu...padahal kau sendiri juga belum bisa menerima kenyataan ini kan?..."


Hellen terdiam dalam air matanya itu, wajahnya yang cantik mulai tergerus oleh kesedihan yang dalam.


"Hellen..."


"..."


"Kau belum tahu ya?..."


"Tahu tentang apa?"


"Sebenarnya Thor telah lama menyukaimu..."


Hellen nampak tidak terkejut


"..."


"Apa kau tidak menyukai Thor?"


Hellen mulai menjelaskan


"Bukan begitu..."


"Aku sangat menyayangi dan menghormati Thor sebagai sahabat baikku..."


"Meskipun terkadang...dia ceroboh, gegabah, sok bisa..."


"Tapi aku terus memperhatikannya karena aku menyukai sifatnya itu..."


"Tak pernah kukira akan datang dimana dia bilang menyukaiku..."


Hellen tersenyum lembut dalam tangisannya itu.


Arthur telah memahami maksud daripada perkataan Hellen itu


"Oh begitu..."


Hujan semakin deras dan kegelapan semakin menyelimuti mereka


"Hellen mari kita pulang"


Arthur dan Hellen kemudian pulang meninggalkan makam sahabatnya itu.


"Semoga kau tenang disana Thor"


"Aku Arthur akan berusaha melindungi teman-teman dan rakyat kerajaan barat"


"Kau beristirahatlah dengan tenang sahabat baikku..."

__ADS_1


***


__ADS_2