Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 523: Sadar


__ADS_3

'Kenapa dia....?' Sementara itu di dalam pikiran Shea, ia masih tidak menyangka bisa kalah oleh pemuda incarannya sendiri.


Batinnya menolak akan keterpojokannya sekarang.


Bagaimana mungkin hal ini terjadi?


'... Begitu kuat?'


Shea tidak mengerti, padahal ia sudah mengandalkan dan mengeksekusi rencana bagus yang tidak mungkin orang lain lakukan.


Apakah selama ini dia menyembunyikan kekuatan aslinya?


Apakah begitu?


Atau mungkin dirinya yang tambah lemah?


TIDAK MUNGKIN!


Shea menolak keras akan pikiran yang datang itu.


'Aku tidak lemah!'


Sementara ini ia sudah tertusuk di titik vitalnya, sebuah kenyataan pahit yang tidak mau ia akui selamanya.


Ia bahkan tidak cukup cepat untuk mengalirkan kekuatan alam demi menahan serangan kejutan musuhnya.


Sungguhlah tidak mencerminkan legenda setengah elf yang kuat.


Mengapa bisa-bisanya kondisi berbalik secepat ini? Padahal ia hanya menghadapi dua cecunguk kecil?


Ternyata tidak semua hal bisa diprediksi... masih ada kemungkinan tidak terduga.


Mengapa pemuda itu tetap tidak peduli?


Bukankah sebelumnya pun dia tidak benar-benar menganggapnya musuh?


Mengapa dia berubah secepat ini?


Mengapa dia jadi begitu dingin seolah orang yang berbeda?

__ADS_1


Beragam pertanyaan muncul, Shea mencari jalan terbaik agar ia bisa keluar dari situasi ini.


"Kalau... saja kau...." Danny menutup matanya, alisnya menurun dan bibirnya bergetar.


Nada suaranya masih menunjukkan tekad, namun ia begitu berat mengucapkannya.


Danny masih belum selesai, ia tidak mau berhenti di tengah seperti ini.


Sementara itu Shea kemudian terdiam sejenak, rasanya ada yang berbeda dari pemuda ini.


Entah mengapa sang setengah elf itu tidak berambisi kuat seperti sebelumnya, dan sekarang ia hanya diam saja.


'Kenapa dia....?' Shea memerhatikan dengan seksama bagaimana wajah pemuda itu, entah mengapa tidak terasa asing.


Orang asing tidak mungkin berekspresi seperti itu padanya. Shea memang menantikan saat ini, si pemuda itu akhirnya terlihat seolah benar-benar mengenalnya.


Setelah beberapa saat ditunggu, akhirnya pemuda itu kembali bertingkah seperti ini. Waktunya beraksi dan menunjukkan kekuatan ras elf yang sebenarnya!


Tapi entah mengapa Shea masih belum melakukannya juga, ia malah terlihat terus memerhatikan bagaimana ekspresi sang pemuda yang sudah menyerangnya itu.


Bagaimana mungkin setengah elf sepertinya malah memerhatikan lawannya saja dan tidak memanfaatkan kesempatan emas ini?


Kenapa? Kenapa dia malah diam saja?


'Kenapa dia begitu tulus?' Sebuah pertanyaan mengusik hatinya. Ini bukanlah kali pertama si targetnya itu bertingkah seolah mengenalnya.


Namun entah mengapa kali ini, untuk pertama kalinya ia merasa ada yang berbeda.


Padahal bisa saja ia sekarang menggunakan kekuatan batu regenerasi dan dengan mudah membalikkan keadaan. Tapi hal itu tidak dilakukannya.


'Kenapa... dia menangis?' Shea tidak hentinya memerhatikan bagaimana pemuda itu seolah menahan rasa sakit yang pedih, benar-benar emosi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Ada apa dengannya? Apa dia merasakan sakit? Ke mana ekspresi dinginnya tadi?


"Ce... cilia...."


'Nama itu....'


Shea terdiam, bahkan dari pertama kali pertemuannya pun pemuda itu menyebutnya seperti itu.

__ADS_1


Padahal dulu nama itu benar-benar asing di telinganya, namun sekarang perasaannya tidak lagi sama.


Mengapa?


Nama siapa itu?


Sudah berapa kali nama itu terucap darinya?


Shea tidak berusaha mengerti, ia bahkan sepenuhnya sadar ia bisa memanfaatkan situasi ini.


Hanya tinggal sedikit lagi saja tujuannya tercapai....


Balikkan situasi ini akhiri pemuda itu dan klaim kemenangannya!


Itu begitu mudah, tapi mengapa sang setengah elf ini masih diam saja?


Apa lagi yang ia tunggu!?


Dengan begitu ia bisa mendapatkan pengakuan raja iblis, bukankah itu yang ia inginkan dari awal?


Ini bukan tentang perbedaan ras, memang ras adalah sesuatu yang dibawa dari awal dan tidak bisa diubah.


Shea tahu ia tidak mungkin berubah jadi iblis, namun ia bisa menguatkan posisinya sebagai ras lain di antara para iblis.


Dengan memperoleh kepercayaan seperti itu dan memperoleh pengaruh tentunya ia tidak perlu memikirkan hal lain.


Tidak perlu bersusah payah berada di sisi yang akan kalah.


Misinya ini hampir berhasil, segala kehormatan dan pengakuan orang sudah di depan mata. Ia bisa hidup bangga dengan ras yang akan menguasai dunia ini.


Dan kesempatan emas ada di hadapannya, Shea bisa merasakan kekuatan pemuda itu bergejolak dan membuka peluang besar untuk membalikkan situasi.


Namun kenapa ia tidak melakukan apapun juga?


Mengapa kemampuan intelektualnya seakan terhenti di sini?


Terlepas dari apa yang harus dilakukannya, Shea masih tetap tidak memalingkan pandangannya pada pemuda itu.


'Aku ingin tahu... siapa Cecilia....' Sang setengah elf itu sudah tidak memikirkan tujuan awalnya.

__ADS_1


__ADS_2