Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 19: Perang Saudara


__ADS_3

Danny yang tiba-tiba terlibat dalam masalah ini akhirnya mengetahui masalah kerajaaan ini, maklum saja ia bukan orang kota melainkan orang desa yang tidak tahu apa-apa tentang kota pusat kerajaan timur ini.


Rhart mempercayakan harapannya pada Danny karena ia memiliki firasat bahwa kerajaan timur membutuhkan Danny agar bisa bertahan.


Festival perayaan hari jadi tahunan Kerajaan Timur hampir selesai, tinggal menunggu beberapa menit saja. Bagi empat orang ini menunggunya saja terasa begitu mengkhawatirkan.


Detik-detik terakhirpun tiba tanda bel besar yang digantung disebuah menara yang menandai akhir hari dan juga akhir dari perhelatan acara ini serta merupakan awal dari gencatan senjata akan dimulai.


Korthos beserta dengan seratus pasukannya bersiap untuk mengalihkan prajurit lain yang tengah berjaga disekitaran festival itu. Mereka membagi tugasnya masing-masing beberapa dibagi menjadi grup terpisah.


TENGGG...


TENGGG...


TENGGG...


DUAR!


Para Masyarakat heran dengan suara ledakan tepat setelah acara itu selesai digelar, mereka menyangka bahwa acara masih berlangsung dengan berbagai elemen kejutan lain. Bahkan anak-anak menganggapnya itu bagian dari kembang api yang terlambat muncul.


TRANG!


TRING!!


Suara pecahan kaca kendaraaan, pecahnya dan ledakan pada bangunan terdengar, situasi berubah menjadi kacau dikarena suara-suara itu, akhirnya para ksatria yang tengah berjaga meninggalkan tempat mereka sehingga Korthos serta ksatria yang lain dapat menerobos masuk ke arah depan kerajaan timur.


Para ksatria yang sedang berjaga itu tiba-tiba diserang oleh kawannya sendiri yang juga sebagai ksatria kerajaan. Ksatria itu berusaha mengajak bicara namun pihak pemberontak menolak untuk berbicara dan terus saja menyerang dan mendesak ksatria kerajaan tersebut.


Rhart dan kawan-kawan yang sudah mulai keluar dari persebunyiannya, membagi regu, Rhart bersama Danny akan mencegah Korthos mengacau di istana kerajaan sedangkan Cleus dan Ther menjaga suasana disekitar kota dan sekaligus masyarakatnya.


Kekacauan masih saja terjadi, para ksatria saling bertempur, kekuatan mereka sama dan tidak berbeda jauh sehingga mereka terus menerus beradu pedang.


Korthos yang semakin saja menerobos bersama dua ksatria lain yang menenaninya tiba di pintu masuk istana, dimana ada seorang pasukan pemberontak yang akan mengalihkan penjaga ini dikarenakan ledakan yang berada disekitaran istana. Dan rencana mereka berhasil sehingga mereka berhasil masuk kedalam istana, sesampainya ia disana masuh ada ksatria yang berpatroli didalam istana, namun ia dan rekannya itu mengendap-endap hingga akhirnya sampai keruangan tengah istana.


Cleus yang juga harus disangka sebagai orang jahat harus menerima berbagai serangan yang dilancarkan padanya oleh ksatria kerajaan, begitupun dengan Ther.


Para prajurit kerajaan sudah mem-black list tiga mantan anggota ksatria kerajaan sehingga mereka bertiga harus ditangkap dalam upaya pemeriksaan lebih lanjut soal adanya rencana penggulingan kerajaan yang masih diduga direncanakan oleh ketiga mantan ksatria tersebut.


Cleus dan Ther tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan semuanya, mereka hanya berusaha fokus bertahan dari serangan pedang bertubi-tubi dari ksatria kerajaan.


Korthos yang semakin dekat dengan ruangan raja harus dihalang oleh sejumlah rekan ksatrianya yang lain.


"Oh Korthos..."


"Tak..kusangka kau akan menjadi pengkhianat..."


Korthos hanya menjawab

__ADS_1


"Kerajaan ini memang sudah salah dari awalnya!!" Korthos menyerang maju bersamaan dengan kedua rekannya itu menghadapi lima ksatria penjaga pintu ruangan raja secara bersamaan.


Rhart yang masih saja menyusul mereka bersama dengan Danny.


---------------


Sementara itu Forhan dan Cecilia yang terbangun akan kegaduhan yang terjadi di kota itu segera masuk ke kamar Danny untuk membangunkannya namun mereka tidak menjumpai Danny disana. Mereka berusaha mencari keberadaan Danny di penginapan itu tetap saja mereka tidak menemukannya, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi keluar untuk mencarinya.


Forhan dan Cecilia sadar bahwa ada yang janggal, mereka melihat para ksatria membuat ribut dan bertempur satu sama lain, sementara itu kegaduhan terjadi dimana-mana membuat masyarakat saling berlari menyelamatkan dirinya. Terlihat juga seorang ksatria kerajaan yang tengah mengevakuasi para warga ke tempat yang aman.


----------


Ledakan terjadi dimana-mana, bangunan hancur seakan-akan kota ini dijadikan medan pertempuran. Raja Tarnatos mengetahui akan kabar ini namun pencegahan yang ia lakukan hanyalah mengerahkan ksatria kerajaan dan memastikan keselamatan penduduk yang utama.


Korthos dan rekannya masih berusaha untuk mengalahkan ksatria penjaga pintu ruang raja tersebut namun ksatria itu juga tidak mau mengalah, dentuman pedang yang keras, sayatan-sayatan kecil yang menusuk setiap masing-masing ksatria itu tidak menggoyahkan mereka untuk saling mencapai tujuan masing-masing. Pada akhirnya dari kelima ksatria itu tinggal tersisa satu orang dan dari pihak pemberontak hanya tinggal Korthos saja yang masih berdiri.


"H-hey!"


"Kalau tak mau mati cepat menyingkir!" ucap Korthos.


"Aku mengenalmu, Korthos dulunya kau adalah ksatria kerajaan yang loyal, apa alasanmu melakukan pemberontakan ini?"


"..." Korthos hanya tertuduk dan ia hendak menjelaskan semuanya.


"Hei, Kerajaan itu sudah tidak peduli pada ksatria lemah semacam kita ini!!"


"..."


"Dan lagi hal itu dibuktikan dalam misi Tuan Thart!!!"


"Aku tidak tahu apakah kau mengetahui atau tidak, tapi yang pasti pihak kerajaan telah membunuh ksatria seperti kita!!"


"Kita hanya dijadikan alat..."


"Karena itu...."


"Kami pasukan pemberontak akan menggulikan kerajaan ini!!"


"Dan merebut kembali hak-hak ksatria!!!"


Korthos maju menyerang ksatria kerajaan itu, namun ia tidak beranjak sedikitpun untuk menghindari serangan pedang Korthos itu, sehingga pedang Korthos tertancap tepat didada ksatria tersebut. Darah mulai menetes tanda kekalahan ksatria kerajaan itu.


"He-hey"


"Kenapa kau tidak menghindari seranganku?" Tanya Korthos heran


"..."

__ADS_1


Ksatria tersebut diam saja ...


Dan iapun mulai berbicara ....


"Uhuk-" Mulutnya mulai mengeluarkan darah.


"Yah.... Korthos...mungkin kamu..ada benarnya juga..."


"A....aku...banyak...tidak tahu...soal ksatria...."


"Yang..aku..tahu hanyalah...melindungi raja...dan...masyarakatnya.."


"Mu...mungkin...ideologimu...lebih...kuat...dibanding siapapun..."


"...."


"Kupercayai juga....ideologi..mu itu..."


Ksatria itu tertunduk dengan pedang yang masih menancap didadanya itu, ia berusaha mempercayai pasukan pemberontak meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri. Hening seketika Korthos memberikan hormat yang dalam kepada ksatria pemberani yang mengorbankan nyawanya.


"A...aku..."


"Sebenarnya....kau bisa mempercayaiku tanpa harus mengakhiri hidupmu ...."


"Kau adalah ksatria yang pemberani dan setia sampai akhir ...."


Korthos meletakkan mayat ksatria itu disamping tembok pintu masuk ruang raja.


Tanpa menunggu lebih lama Korthos akhirnya masuk kedalam ruangan kerajaan. Yang dilihatnya ialah sang raja yang sedang berada sendirian dikursi singasananya itu.


"TARNATOSSS!!!!"


"KAU!!!"


Korhos Melesat kedepan sambil menghunuskan pedangnya kearah Rajanya itu, sang raja tidak beranjak dari tempatnya. Namun sebuah senyuman terukir di wajahnya.


---------------


Thart dan Danny hampir sampai diruang kerajaan, mereka berlari sekuat tenaga berharap pasukan pemberontak tidak berbuat lebih jauh lagi pada sang raja.


*****


Akankah waktu akan memberi kesempatan pada mereka ataukah tidak?


Tindakan merekalah yang akan menentukan jawabannya


******

__ADS_1


__ADS_2