
“Tidak,” jawab Arthur cepat.
“....” Thor tidak melihat Arthur dengan ekspresi yang diharapkannya, dia terlihat serius saja dari awal seolah ia sedang memikirkan sesuatu dengan keras.
Seharusnya jika Arthur tidak meragukannya, setidaknya ia akanmelihat raut wajah yang bersahabat, namun ternyata tidak seperti itu.
Ini bukan berarti Thor meragukan penuh akan jawaban Arthur. Hanya saja perkataan Arthur terasa tidak dari hati yang dalam.
“Tenang saja! Kau bisa mengandalkanku di segala situasi.” Thor tidak punya pilihan lain selain berusaha menyakinkan rekannya, dan selebihnya hanya bisa ia tunjukkan di lapangan.
Bukan tanpa alasan Arthur menanyakan ini. ia tahu ras iblis memang sudah mulai berulah, cepat atau lambat, atau bahkan besok, mereka bisa muncul kapan saja.
Thor tidak mau berpikir aneh tentang rekannya ini, ia tahu Arthur adalah seorang yang bertekad kuat dengan pemikiran kritis.
Arthur pasti punya alasan tersendiri mengapa ia terlihat serius dan juga menyembunyikan sesuatu, Thor berusaha menahan dirinya agar tidak merusak suasana keseriusan yang terbangun kokoh ini.
“Bagaimana Hellen?” Arthur mengajukan pertanyaan lain, kali ini Thor tidak perlu bertanya dua kali untuk menjawabnya.
“Oh.” Thor memproses pertanyaan rekannya, dan kemudian menatap dengan penuh tekad.
“Aku mengungkapkan perasaanku besok.” Thor terdengar lebih tenang sekarang.
“Kenapa tidak dari dulu saja?” Arthur masih menggiring rekannya di topik ini.
Thor tidak menyangka pembicaraan serius soal iblis berganti cepat jadi urusan pribadi, tapi ya sudahlah ia ikuti saja alurnya.
Lagipula inilah topik yang hendak ia tanyakan pada Arthur tadi.
“Ah, tidak semudah yang dikatakan.” Thor mengungkapkan akan bagaimana soal pribadi ini tidak sederhana kelihatannya.
Sebagai ksatria suci memang masih diperbolehkan untuk mengurus urusan pribadi, namun Thor bukan juga tipe yang tidak melihat waktu yang tepat.
“Waktu terus berjalan.” Arthur tahu urusan pribadi rekannya dari dulu, maka dari itu menurutnya tidak ada salahnya bilamana dia mengungkapkannya.
__ADS_1
Apalagi ketika keadaan dunia jadi terancam seperti ini, yang membuat semakin sulit untuk memikirkan urusan pribadi.
Bukan tanpa asalan tiba-tiba Arthur mengubah topik.
Ia tidak mungkin hanya membahas buku ini saja, Arthur tidak mau menyinggung perasaan rekannya di bidang pertahanan seperti ini.
Jadinya solusinya adalah dengan membahas hal pribadi lawan bicaranya sendiri, hm strategi yang tidak buruk.
Sebagai rekan seseorang, dukungan moral adalah salah satu dukungan yang penting.
“Tenang saja! Aku tidak akan mati sebelum menyatakan perasaanku!” Thor bangkit berdiri dengan semangat, ia sekilas melihat jam dinding besar dan terdiam.
“Astaga sudah malam! Sampai jumpa besok Thur!” Thor dengan cepat berlari keluar ruangan perpustakaan.
“....” Sedang Arthur terdiam di tempat. Thor mungkin punya urusan lain yang harus dilakukan malam ini.
Setidaknya ia sudah memberi nasihat pada rekannya, tepat sebelum dia pergi.
Sampai berakhirnya percakapan pun Arthur masih tidak tahu pasti mengapa Thor menemuinya di perpustakaan.
Arthur garis waktu awal yang sedari tadi berdiri di dekat rak buku melihat bagaimana rekannya yang bersemangat berlari keluar.
Arthur garis waktu awal sadar ia tidak tahu Thor pergi ke mana di malam yang larut itu.
Ia pun berjalan cepat mengikuti langkah Thor yang keluar dari ruang dalam perpustakaan.
Arthur sadar ia tidak mendapat kesempatan untuk melihat apa yang dilakukan temannya, mengingat memang ia ingat setelah kunjungan Thor, ia di masa lalu kembali fokus pada buku biru tebal usang itu.
Inilah saatnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Thor lakukan.
Sret.
Arthur masakini mrngikuti diam-diam dari belakang dan bisa melihat Thor yang terdiam di di depan pintu keluar perpustakaan umum.
__ADS_1
‘Apa yang dilakukannya?’ batin Arthur garis waktu awal.
“Akan kunyatakan besok.” Thor bergumam sendiri dengan ekpres tak sabar dan terlihat optimis untuk hari besok, sementara itu di tangannya ia terlihat memegang sesuatu.
“Hei Thor! Sudah larut malam pulang sana!” Tanpa bisa disadari siapapun sang bapak penjaga perpustakaan tiba-tiba datang dan mengejutkannya.
‘Ah.’ Arthur paham mengapa dulu ia mendengar ada orang berteriak tidak jelas, ternyata sang penjaga sedang memarahi Thor.
Penjaga perpustakaan ini mengabdi pada pekerjaannya lama, begitu menginjakkan kaki di tempat ini, tidak ada orang besar atau orang kecil, semuanya diperlakukan sama rata.
Hal ini bertujuan agar para pengunjung mendapat kesetaraan pelayanan yang sama, sang raja Kerajaan Barat pun tidak keberatan akan peraturan seperti ini.
“Waah, Pak Penjaga! Maaf saya akan segera pulang!”
Thor membuka pintu meninggalkan bangunan dengan cepat, sedang pak penjaga mendengus, menggerutu dan berjalan mencari siapapun yang berani tinggal saja di perpustakaan selarut ini.
‘Selanjutnya aku yang diusir.’ Arthur ingat memang beberapa saat kemudian sang penjaga itu memergokinya masih berkutat dengan buku yang sama dari tadi.
‘Hm.’ Arthur garis waktu asli melihat ada sesuatu tergeletak di lantai, berwarna putih, seperti kertas. Tepat di depan pintu keluar perpustakaan.
Ia kemudian berjalan mendekat dan memerhatikan dengan seksama lagi. ‘Sebuah amplop?’
Dengan tulisan di tengahnya -Untuk Hellen-.
Arthur garis waktu asli terdiam, amplop ini sudah jelas-jelas ditujukkan pada Hellen, dan lagi ditulis oleh Thor.
‘Dia kemari untuk urusan ini?’
Arthur garis waktu awal sadar, ternyata pembicaraan pribadi dengan rekannya itu-lah yang jadi inti mengapa Thor datang menemuinya larut malam.
Sedang sang penjaga itu tidak sadar ada sesuatu yang jatuh, dia hanya sibuk mencari mangsa, sekali lagi siapapun yang masih berani untuk membaca buku tengah malam.
Arthur garis waktu asli ini tidak yakin ia bisa mengambil sesuatu dari ingatan kilas balik yang sedang dialaminya ini, namun jika tidak dicoba maka siapa yang tahu?
__ADS_1
Arthur berjongkok perlahan mengambil surat yang tergeletak itu, sementara cahaya putih menyilaukan tiba-tiba muncul.
*