
"Uuukh ...."
"Hah?!"
Danny terbangun di sebuah sel penjara, jerujinya besinya kokoh dan tidak muat untuk dilewati siapapun juga, lantainya lumayan kotor, namun ini lebih baik dibandingkan tidur di luaran sana.
Tap ....
"Eh?"
Danny merasa ia tidak sendiri di sana, ada seseorang yang juga bersamanya di sel penjara itu.
"Kau baru di sini?"
Danny menolehkan kepalanya, " HUAAAA ...."
Terlihat pria berotot besar, mirip Brock dengan raut muka yang seram, mengagetkannya dari kegelapan sel itu.
Ia sadar pada saat waktu telah malam, "Kau tidak apa? Kau tertidur cukup lama," ujar pria berotot yang bertelanjang dada itu.
Dari sela-sela jendela ventilasi kecil angin malam berhembus sedikit demi sedikit, di sini lumayan dingin.
"Brrr ...."
__ADS_1
Danny melingkarkan tangannya pada tubuhnya sendiri, entah mengapa saat ini ia merasa lebih sensitif dalam tubuhnya ini.
Karena begitu gelap, Danny masih bergumul dengan dinginnya malam, ia belum sempat menyadari ada yang berbicara dengannya saat ini.
Bruk ....
Pria berotot besar itu memberi Danny sebuah kain pakaian untuk menutupi ia supaya tidak kedinginanan, "Ini untukmu."
Danny sedikit kaget, dan ia segera mengambil kain itu, karena kain itu cukup besar ia duduk di pojokan dekat jeruji sembari melingkarkan kain itu ke seluruh badannya.
"Te ... terima kasih ...." Ucap Danny terbata.
"Jangan kau pikirkan, kain itu sudah berada di sini sejak bertahun-tahun lalu, mungkin sedikit kotor tapi itu lebih baik dibanding kau harus kedinginan," ujar pria itu.
"Namaku Brock ...."
"?!"
Danny langsung teringat dan spontan menoleh ke pria yang tengah berada di sampingnya itu.
"!"
"Brock Lusnur lebih tepatnya ...." Ujar pria itu menambahkan.
__ADS_1
Danny sampai terkaget, ia kira Brock dulu yang pernah bertarung dengannya waktu di kota, di sinilah Danny melihat wajah pria itu, tidak mirip dengan Brock namun wajah pria ini terlihat tidak lebih ganas dari Brock.
"Oh, aku Danny, terima kasih atas bantuanmu Brock," Ujar Danny.
Suasana remang-remang di sel ini membuat Danny sedikit merasa tidak nyaman, di tambah lagi dengan kebersihan yang tidak cukup, itu wajar karena ini bukanlah hotel yang suka dibersihkan secara berkala.
Suara-suara gaduh dari sel lain pun ikut menghiasi malam itu, seakan-akan setiap orang punya urusan masing-masing dan itu masih berlangsung bahkan saat malam hari.
"Jangan kau pedulikan suara gaduh ini Danny, memang di sini sudah terbiasa keadaan seperti ini."
Pria itu memakai celana pendek berwarna hitam namun terlihat robek sana-sini, "Kau tidak kedinginan Brock?"
"Huh? Tidak, malah ketika aku memakai terlalu banyak pakaian aku akan merasa kegerahan."
Danny tidak habis pikir mengapa Brock ini mengatakan 'terlalu banyak baju' apakah memang satu pakaian bagian atas saja sudah terlalu banyak baginya?
Mungkin karena tubuhnya yang besar, maka berefek pula dengan kondisi ketahanan tubuhnya saat ini, dapat dipastikan ia adalah pria yang kuat dalam segala keadaan.
"Aku ... selalu gagal." Brock melihat kepalan tangannya sendiri, besar hampir seukuran setengah dari telapak tangan orang dewasa di kali massa beratnya saat ini.
Sederhananya, seperti dua kali dari besar telapak tangan orang dewasa pada umumnya.
Danny penasaran apa yang membuatnya berkata bahwa ia gagal, memangnya ia sudah melakukan apa?
__ADS_1
"Aku gagal untuk keluar dari sini ...."