Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 172: Sampai (2)


__ADS_3

Para pria besar yang masih menunggangi kuda itu berekspresi sama dengan Kibo saat ini, sebuah ekspresi tidak percaya akan apa yang telah mereka dengar saat ini.


Kibo mendengar dengan jelas pernyataan pria besar berzirah besi penjaga gerbang Kota Boston ini, namun tetap saja ia tidak terima akan perkataan penjaga gerbang itu.


"Tu-tuan penjaga, apakah benar kami tidak dapat masuk? Kami datang dari jauh hanya untuk ini dan kami sangat ingin mengikuti kompetisi ini ...."


Mendengar alasan sekaligus perkataan Kibo ternyata tetap tidak membuat pria besar berbaju zirah besi penjaga gerbang Kota Boston itu mengubah keputusannya.


Pria penjaga gerbang itu diam tak bergeming, seolah-olah dia tidak ingin lagi menyia-nyiakan energi untuk berbicara hal yang telah ia katakan itu.


Kibo menunggu jawaban dari pria besar berbaju zirah penjaga gerbang Kota Boston itu, namun setelah beberapa saat ia tidak juga mendengar perkataan apapun dari pria besar penjaga kota ini, hal ini membuatnya merasa sedih akan setiap perjuangan yang ia lakukan untuk bisa sampai ke tempat ini lantas hanya berakhir dengan sebuah kekecewaan.


Kibo hanya bisa terdiam, entah mengapa seluruh badannya terasa lesu sekali, tidak biasanya ia merasakan hal seperti ini selain ketika ia sakit.


Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, mata pria keriting itu tidak lagi memancarkan sinar keantusiasan yang tinggi, kini ia hanya menatap dengan pandangan kosong dan hampa, mendekati jeruji gerbang kota itu, memegangnya lalu tersungkur jatuh ke tanah.


Perlahan dia melihat dari sela-sela jeruji sebuah tempat yang akan mereka datangi, hanya tinggal sedikit lagi saja dirinya bisa sampai di sana, namun pada akhirnya ia hanya bisa melihatnya dari luar dengan tidak berharap apapun lagi.


Salah satu pria besar anggota Alliance Fight's turun dari kudanya, mendekati penjaga gerbang itu, Kibo masih terpaku pada keriuhan kota itu, ada kerumunan orang di sana, nampaknya ada suatu acara besar di sana? Apakah itu acara kompetisinya?


Ahhhh ... mengapa begini jadinya? Padahal kukira rencana ini berjalan dengan lancar ....


Kalau begini jadinya? Untuk apa perjuangan susah payah untuk pergi ke sini?


Mungkin saja ... apakah semangat kurang cukup? Apakah tekad kurang cukup? Apakah tindakan kurang cukup?


Aku benar-benar tidak mengerti akan semua ini ... benar-benar tidak mengerti ....


Kreet ....


Kibo mengeraskan kepalan tangannya pada jeruji besi gerbang itu, bahkan sampai terdengar suara akibat perbuatannya itu.


Aku ... maafkan aku Yizi, aku tidak dapat mewujudkan impian kita, untuk membangun sebuah tempat hunian markas besar bagi kelompok kita ....

__ADS_1


Aku bukanlah pemimpin yang baik ....


"HEI! KAMI SUDAH SUSAH PAYAH DATANG KEMARI TIDAKKAH KAU BISA MEMBUKA PINTU INI UNTUK KAMI? PERSETAN DENGAN PERATURAN YANG KAU UCAPKAN TADI! BUKA PINTUNYA!"


Pria besar anggota Alliance Fight's menumpahkan kemarahannya pada penjaga gerbang kota itu, Kibo masih belum tersadar, ia masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


SIING!


Penjaga gerbang itu mengayunkan tombak panjang tajamnya itu ke arah leher pria anggota Alliance Fight's, tipis sekali hampir menyentuh leher dari pria besar itu.


"Apa kau bilang? Aku tidak peduli darimana kalian berasal atau apa tujuan kalian datang kemari, pergilah sebelum kepalamu tidak bisa ikut lagi dengan tubuhmu."


Mata penjaga gerbang Kota Boston itu menjadi serius, namun mendengar hal itu pria besar anggota Alliance Fight's masih saja tidak takut dengan ancaman yang dilontarkan kepadanya, ia nanpaknya ingin membela hak mereka sebagai pendatang agar bisa masuk ke kota ini dan terlebih pula pembelaan bagi seluruh anggota itu sebagai pengganti pemimpinnya yang saat ini tengah bersedih.


"Tidak mau pergi? Kalau begitu ...."


Penjaga gerbang kota itu mengayunkan tombaknya ke arah udara, sepertinya ia ingin benar-benar memutuskan bagian leher pria besar anggota Alliance Fight's dalam sekali tebas.


HUUSH!


"?!"


Belum sempat penjaga gerbang itu menuntaskan aksinya, ia mendengar sebuah suara dari dalam gerbang itu, sepertinya ada seorang pria yang mengatakan hal itu.


Penjaga itu kemudian menoleh dan terkaget, ia menundukkan kepalanya tanda penghormatan pada pria yang telah menghentikannya itu.


"Tu-tuan Thor...."


Pria itu tampan, berambut agak sedikit panjang, ada bulu-bulu halus di wajah sekitar pipi dan dagunya, rambut rapi dan terkesan memakai pakaian kebangsaan, sebuah pakaian mewah yang terbuat dari kain


terbaik berwarna coklat, sarung tangan coklat dan jubah bulu yang menjuntai berwarna coklat pula.


Tak lupa sepatu bootnya berwarna sama seperti bajunya itu, coklat, pria itu melihat ke arah pria besar itu, ada satu yang terlihat marah dan yang lainnya hanya diam saja.

__ADS_1


Para Pria besar anggota Alliance Fight's hanya bisa tertegun melihat adanya salah satu ksatria suci di sini, mereka tidak lagi bisa berkata-kata saat ini, namun Kibo belum menyadari kehadiran salah satu ksatria suci itu.


Pria bernama Thor itu melihat ada seorang pria yang lebih kecil dan berambut keriting yang sedang tersungkur di tanah dan meratap, ia kemudian berjongkok untuk mengetahui apa yang sebenarnya pria keriting ini lakukan.


"Apa yang anda lakukan Tuan?" tanya Thor padanya.


Kibo yang menyadari bahwa ia sedang diajak bicara itu mengangkat mukanya perlahan, ia terkejut dengan seorang pria asing yang mengajaknya bicara itu, sebuah keramahan yang benar-benar dalam.


"Sa-saya dan yang lainnya akan mengikuti kompetisi di kota ini, namun pada akhirnya kita terlambat satu menit sehingga saya tidak bisa mengikuti kompetisi ini."


"Siapa namamu Tuan?" tanya Thor.


"Sa-saya Kibo, dan seluruh pria besar ini adalah teman saya, kelompok kami dinamai Alliance Fight's," ucap Kibo.


"Dari mana kalian berasal?"


"Kami berpetualang dari satu tempat ke tempat lain," jawab Kibo pendek.


"Kebetulan aku ada di sini untuk mengawasi jalannya kompetisi yang akan diadakan ini, bersama dengan Arthur ...."


"?!"


Kibo terkaget mendengar pernyataan pria itu, ia terlambat menyadari bahwa pria tampan yang sedang mengajaknya bicara itu adalah salah satu dari ksatria suci itu.


"A-anda? Tuan Thor?"


Thor mengangguk sembari tersenyum, kemudian ia memerintahkan pada penjaga gerbang kota itu untuk membuka gerbangnya dengan tujuan agar rombongan ini bisa masuk.


"Ta-tapi Tuan ... mereka sudah terlambat datang ...."


"Penjaga, yang lebih berkuasa dari peraturan ada di sini, kau tidak perlu lagi mengatakan peraturan yang kubuat itu, cepatlah bukakan gerbang ini, kau telah banyak menghabiskan waktu tuan-tuan sekalian yang sudah susah payah datang kemari," ucap Thor memaksa dan sedikit bernada tegas.


Tanpa membantah apapun lagi, akhirnya penjaga itu membuka gerbang kota itu dengan cara membukanya dengan tangan, terlihat berat namun ia berhasil melakukannya.

__ADS_1


Kini pintu gerbang kota tempat kompetisi itu diadakan telah sepenuhnya dibuka, Kibo mengangkat kembali badannya, sekaligus rasa bahagianya memuncak saat ini, ketika mengetahui bahwa tujuannya itu telah ada di hadapan matanya.


__ADS_2