Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 159: Respon Yang Sama (2)


__ADS_3

"Ti-tidak apa tuan, kami hanya sekelompok petualang ...." Kibo tidak bosan-bosannya menjelaskan tentang siapa mereka sebenarnya, lagi-lagi citra mereka terkesan buruk saat ini.


Kibo sempat mempertanyakan apa salah dia dan seluruh orang yang bersama dengannya itu, sampai-sampai semua orang mencurigainya, bahkan ketika di luar desa sekalipun.


Kakek itu terkesan ingin menenangkan putranya saat itu, ia sedikit berjinjit agar bisa menepuk pundak anaknya itu yang memang sedikit lebih tinggi darinya.


"Ti-tidak ... apa anakku ...."


Dan lagi Kibo heran mengapa semua orang di sini melakukan hal yang terbilang mirip, diantaranya perasaan kaget, takut, tatapan tajam dari penduduk desa yang mereka lalui itu.


"Anu ... bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Kibo ingin mengetahui lebih lanjut motif (alasan) apa yang mereka pakai dengan memasang mimik yang kurang mengenakkan itu.


Kakek tersebut menjawab pertanyaan Kibo. "Boleh ... apa itu ... anak muda?"


"Begini kek, mengapa hampir semua orang di desa ini memandang kami dengan tatapan yang sama?"

__ADS_1


Kibo yakin kakek itu dapat mengerti apa yang dimaksudkannya itu, yaitu bahwa tatapan yang asing seperti ketakutan, cemas, bahkan ada beberapa yang menusuk serta mengintimindasi.


Namun setelah mendengar pertanyaan Kibo, kakek tersebut terlihat menundukkan pandangannya seakan tidak mau menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan itu.


Setelah beberapa saat tidak ada jawaban Kibo hendak memperjelas kembali pertanyaannya, karena mungkin saja kakek itu tidak mengerti apa yang sebenarnya ia maksud.


"Be-begini kek-"


"Saya ... tahu ... maksudnya ... nak ... tapi saya perlu ... waktu untuk ... menjelaskannya ...."


"Biarlah saya yang menjelaskannya Ayah," ujar pemuda itu pada ayahnya.


Kakek itu melihat sekilas akan wajah putranya itu, ia terlihat masih nampak takut, dan terkesan sedih, malah terlihat pucat dan seakan memaksakan diri agar ia bisa menceritakan alasan dibalik mereka bersikap seperti ini pada Kibo dan kelompoknya itu.


Kakek itu menganggukkan kepalanya tanda setuju akan tawaran anaknya itu, akhirnya pemuda itu mengangkat kembali kepalanya, masih terlihat ketakutan namun ia terlihat menyembunyikannya demi menjawab pertanyaan dari Kibo.

__ADS_1


"Sebenarnya kami semua yang berada di desa ini mengalami pengalaman buruk," ujar pemuda itu menjelaskan.


"Pengalaman buruk?"


Kibo penasaran dengan pengalaman buruk para warga desa ini.


"Ya, dan itu melibatkan para petualang ...." Nampak dari raut mukanya memang ia tidak mau mengingat pengalaman buruk itu, namun apa daya, ia harus tetap menjelaskannya pada Pria kriting agar semuanya menjadi jelas dan transparan.


"Maksud anda, petualang seperti kami?" Kibo ingin lebih mengklarifikasi informasi yang ia terima itu agar tidak salah paham.


"Tentu, karena petualang adalah orang yang sering berkelana kemana pun yang mereka kehendaki. Saya baru kali ini melihat tuan-tuan sekalian, dan saya pikir memang tuan-tuan sekalian tidak lain tidak bukan adalah para petualang," ujar pemuda itu, ia menjelaskan cukup rinci.


Kibo mengangguk-angguk setuju, ternyata sesederhana itu alasannya, ia semakin penasaran dengan kelanjutan cerita pemuda itu.


"Lantas apa yang terjadi dengan para petualang itu, apa yang menyebabkan kalian sangat menghindari para petualang?"

__ADS_1


__ADS_2