
Danny terdiam menatap api yang perlahan berangsur-angsur padam itu, seakan menjadi refleksi dirinya sendiri bahwa dia memang belum cukup kuat.
Hal itu terbukti dari anggota timnya dahulu, harus terpecah belah dan masih saja menjadi ingatan yang kelam bagi dirinya. Dan sebagai konsekuensinya, kenyataan bahwa Danny belum mampu untuk menjaga dirinya sendiri apalagi menjaga orang lain.
Danny terus terdiam, termenung, menyadari mungkin saja keputusannya membawa Patricia dalam bertualang itu salah?
SRUK!
"Oh!"
Kakek tua dan Danny kaget karena tiba-tiba Patricia mengambil sejumlah besar ranting agar api tersebut tidak padam.
Dan benar, api unggun itupun kembali menyala seakan kekuatannya kembali dan terus dapat menerangi semua orang.
"Hei Danny!" tanpa alasan yang jelas Patricia menunjuk Danny sembari berbicara dengan keras
"Aku yang sudah memutuskannya tahu!"
"Kau tidak perlu khawatir..."
"Aku kan petualang..."
"Aku ini petualang yang tak mampu menjaga rekannya sendiri!" Danny pun ikut meneriakkan nada yang lumayan keras
__ADS_1
"Kalau begitu, maukah kamu belajar sihir gadis muda?" tawar kakek Leith secara tiba-tiba
"Hah? benarkah kek, saya akan diajari sihir?" tanya Patricia dengan nada keheranan nan tak percaya perkataan kakek itu tadi.
"Tentu.. itupun kalau kau mau..."
"Ya..! Saya mau kek, tolong ajari saya sihir" ucap Patricia sambil membungkukan badannya pada kakek tua itu
Danny hanya bisa terdiam tidak menyangka kakek tersebut akan mengajari Patricia soal sihir.
"Dan kau Danny..." Kakek tersebut mulai berbicara padanya.
"Bersiaplah untuk berlatih juga!" teriak kakek itu secara tiba-tiba
***
"Ah berisik! kau kan petualang Patricia.." ucap Danny sembari menggulingkan badannya mencari posisi yang pas untuk tidur
***
Akhirnya pagi hari menyambut mereka bertiga, sang kakek Leith menuntun arah mereka sekarang sehingga mereka tidak perlu kehilangan arah lagi sekarang.
Kakek tersebut malah membawa masuk ke arah pepohonan rimbun, disana terdapat hewan seperti kijang, dan bahkan kelinci liar.
__ADS_1
Tanpa diduga Danny maupun Patricia ternyata kakek tersebut menuntun mereka ke sebuah rumah besar, disana tidak terdapat satu orangpun.
"Hei kek apakah kita akan masuk ke rumah besar ini?" tanya Danny
"Tentu saja..."
"Dan tidak ada seorangpun disini" timpal Patrucia
Mereka bertiga sampai pada area masuk rumah kakek Leith, rumah itu memang besar dan terlihat megah dengan bangunan artistiknya sendiri, namun aneh sekali harusnya bangunan seperti ini biasanya hanya bisa ditemui dikota.
Rumah besar itu dikelilingi oleh pagar besi yang lumayan tinggi, dan juga area halaman depannya begitu luas dan hijau, rerumputan yang berada dihalamannyapun begitu hijau dan rapi.
Dan akhirnya mereka masuk ke rumah besar tersebut dan spontan terlihat sepuluh orang muda berpakaian pelayan menyambut mereka bertiga, itu membuat Danny dan Patricia sedikit kaget.
"Selamat datang kembali Tuan Leith" ucap serempak kesepuluh orang berpakaian pelayan tersebut.
Bisa dilihat lima dari masing-masing pelayan berdiri di sebelah kanan dan kiri menyambut jalannya tuan mereka Leith.
Danny terpana ketika melihat kelima pelayan wanita berpakaian putih dan hita yang berdiri di sebelah kanan dan yang begitu mempesona dan hal ini juga terjadi pada Patricia yang tengah memperhatikan lima pria tampan nan menarik hatinya disebelah kiri mereka.
Memang rumah besar yang begitu megah, siapapun pasti betah bila tinggal didalamnya apalagi ada banyak pelayan yang pastinya akan melayani semua kebutuhan mereka.
"Hei..hei.."
__ADS_1
"Kalian mau masuk atau akan disana hanya memperhatikan para pelayanku?" tanya kakek Leith yang meninggalkan mereka menuju tangga dua arah yang menuju lantai kedua.