
Seorang perempuan berbaju putih hingga sampai kakinya, tiba-tiba dilihat oleh Danny sekarang, wajahnya, matanya dan auranya masih dikenalinya dengan jelas.
Tanpa berpikir akan apapun lebih lanjut lagi, Danny mengejar suara perempuan yang dikenalinya itu yang memang adalah seorang penyelamatnya ketika pertama kali mengalami kejadian aneh setelahh desanya dihancurkan.
Siapa lagi kalau bukan Cecilia? Dia adalah seorang yang dikenalnya awal ketika memulai perjalanan, tidak disangka pula ternyata ia bertemu seorang dari ras lain, elf.
Pertemuannya sangat berkesan karena Danny menganggap Cecilia adalah penolongnya yang begitu baik sampai merawatnya dengan tulus, seorang yang baru dikenalnya namun bisa sebegitu baiknya padanya dan mau mempedulikannya.
Namun semuanya berakhir ketika gadis itu memilih untuk meninggalkannya tanpa sebab yang jelas, bahkan sampai saat ini Danny ingat dengan jelas bagaimana Cecilia meninggalkannya dan tidak peduli lagi dengannya.
Kali ini ketika ia mendengar dan melihat sekelebat sosok teman lama yang dikenalnya itu tentu pikirannya menjadi berubah, tadinya berlatih dengan sungguh-sungguh dengan Tuan Housen menjadi bagaimana caranya agar ia menemui sosok teman lamanya itu yang tiba-tiba muncul dalam pendengaran dan penglihatannya itu.
Tap! tap! tap!
Sruk! Sruk!
"Cecilia tunggu dulu!" Danny berlari secepat yang bisa di antara pepohonan kecil yang saling berdekatan itu dan juga adanya semak rumput yang sedikit memperlambat langkahnya yang di mana ia sedang buru-buru mengejar apa yang dilihat matanya itu.
Bruk!
"Ah!" Tanpa sepengetahuannya ada akar pohon yang menjulur ke atas yang menyebabkan dia terjerembap dan jatuh ke tanah, lagi-lagi hal yang menyulitkannya kembali terjadi padahal ia sedang sangat buru-buru sekarang.
Danny melihat sesosok teman lamanya yang tetap berlari semakin menjauh meninggalkannya yang masih terbaring di tanah, apakah sempat ia untuk mengejarnya dan menemuinya?
"Sial!" Danny berupaya untuk bangun dan terus berlari menambah kecepatannya sekaligus memerhatikan bilamana ada halangan seperti tadi yang bisa menyebabkan dirinya jatuh kembali.
Beberapa waktu dihabiskannya hanya untuk mengejar sesosok teman lamanya yang muncul itu, namun semakin ia lama berlari dan menjauh dari area berlatih semakin hilang pula keberadaan dan petunjuk teman lama yang sedang dikejarnya itu.
__ADS_1
"Ah! Semakin kukejar mengapa semakin menjauh?!" Danny merasa semakin cepat ia berlari bukannya semakin dekat dengan apa yang dikejarnya malah yang terjadi sebaliknya.
"HAH!"
ZLEB! Syutt ....
"Lho, Danny?"
"Ah?" Danny merasa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya saat ini, mengapa ia tiba-tiba sampai pada area pepohonan pada ujungnya? Mengapa ia bisa melihat tepi pantai yang jauh itu dari sini?
Patricia yang sedang duduk saja di sana mengetahui ada seseorang yang menghampiri dirinya, yang sama sekali tidak diketahuinya sebelumnya.
"Mengapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau berlatih di suatu tempat bersama dengan Tuan Housen?" Patricia kebingungan ketika melihat temannya yang tiba-tiba muncul dari dalam semak dan banyak pepohonan yang berada pada jarak dekat itu.
Dan pula bertanya-tanya mengapa bisa-bisanya Danny keluar dari tempat sempit dan sama sekali tidak ada jalan di sana?
Danny memegang kepalanya sendiri, ia benar-benar tidak menyadari apa yang terjadi padanya sekarang ini, padahal seharusnya ia masih berlari dengan secepat yang ia bisa menyusuri pepohoan yang berdekatan dan semak yang menyusahkan, lantas mengapa tiba-tiba ia sampai di ujung area pepohonan dan semak ini? Bukankah seharusnya jarak yang ditempuh masih jauh?
Yang tadinya ia sedang mengejar seseorang, teman lamanya Cecilia namun semuanya harus berakhir dengan tiba-tibanya ia sampai di akhir dari tempat pepohonan dan semak tinggi ini, yang memang tepi pantai pun terlihat dari sini.
"K- kau tidak berlatih Patricia?" Danny berusaha menguasai dirinya dan menatap temannya yang sedang melihat heran dirinya mengapa bisa-bisanya ia muncul dari tempat yang sulit dilalui seperti itu.
"Ah, aku sedang beristirahat sebentar, Tuan Vincent dan Tuan Brock juga sama, namun mereka malah main-main air di pantai sana." Patricia menunjuk pada dua orang pria yang sedang bermain air satu sama lain, yang jika dilihat ini tidak masuk ke dalam adegan romantis yang biasanya laki-laki dan perempuan yang bermain air seperti itu.
Danny hanya tersenyum melihat dari jauh kedua temannya yang bersenang-senang itu, yang past jika mereka bisa bahagia itulah yang paling penting saat ini.
Danny melihat sekitarnya, memang benar ia sampai di ujung akhir wilayah pepohonan yang memang menanda area tepi pantai di mulai dari sini.
__ADS_1
Patricia yang sedang duduk di atas kayu itu melihat Danny memegang kepalanya sendiri, entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai ia terlihat sebegitu seriusnya, ia kemudian bergeser sedikit karena memang batang kayu itu besar dan bisa diduduki lebih dari satu orang.
"Duduklah, mungkin dengan duduk di sini kamu bisa mudah berpikir Danny."
Danny mengusap wajahnya seketika dan menuruti apa yang disarankan temannya itu, ia perlahan menduduki batang kayu besar di samping temannya itu.
Patricia memanjangkan kakinya dan sedikit memainkannya, ia senang dengan tekstur tanah di sini, begitu lembut dan hangat karena diterpa sinar matahari di tambah sejuknya hawa dingin di sini.
Sudah beberapa lama ia beristirahat di sini, dan seharusnya sesi latihan kembali di mulai, namun tiba-tiba minat keberadaan Danny di sini ia menunda untuk pergi dan berniat untuk sedikit berbincang dengannya.
Danny ternyata masih menutupi wajahnya sendiri seakan sedang berusaha mencari jawaban dari apa yang dipertanyakannya saat ini.
"Ada apa Danny?" Patricia berusaha untuk tahu mengapa temannya jadi bersikap seperti itu seolah-olah sedang menghadapi sesuatu sendiri.
Danny mendengar dengan jelas pertanyaan temannya yang sedang berada di sampingnya itu, namun entah mengapa ia merasa tidak bisa menjelaskan apapun mengenai apa yang dirasakan dan lagi-lagi kejadian yang tidak bisa dijelaskannya terjadi sekarang ini.
"Ah ... Aku tidak tahu ...." Nada suara pemuda itu bergetar, terasa berat dan terkesan ia berusaha keras untuk mengatakan kalimat singkat seperti itu.
Patricia menyadari betul akan adanya nada berat yang didengarnya dari temannya itu yang sepertinya memang ada sesuatu yang mengganggunya saat ini.
Patricia sekarang tidak lagi mempedulikan latihannya, ia ingin tahu dulu apa yang sebenarnya temannya ini alami, melihatnya seperti ini rasanya berbeda, tidak seperti Danny yang biasanya.
Patricia mendekati Danny yang menunduk dan masih sedikit memijat-mijat kepalanya sendiri, ia memegang bahunya seraya berkata, "Jika ada sesuatu terjadi, kamu boleh bercerita padaku Danny."
Danny yang larut dengan perasaan bingungnya itu tidak lagi bisa berpikir jernih, ia memang sudah bisa membedakan antara teman lamanya yang telah meninggalkannya dan seorang yang sedang memegang bahunya saat ini, namun tetap saja melihat wajahnya yang mirip itu malah semakin membawa kenangan tidak menyenangkan sekaligus menyakitkan itu.
Ia tidak bisa menghindari dari kenyataan bahwa melihat Patricia membawa gambaran sendiri pada pikirannya yang mengingatkannya pada Cecilia, temannya dulu.
__ADS_1
Wajah fisiknya yang sama itu terkadang membuatnya ingat bahkan ketika tidak ingin mengingatnya sekalipun, terhadap teman lamanya, bahkan perbedaan sikap pun sama sekali tidak memudarkan ingatannya akan teman lamanya itu.
"Danny apa yang terjadi?" Patricia menggerakkan bahu temannya itu yang saat ini sedang tertunduk itu, keadaan temannya yang seperti itu malah semakin membuatnya penasaran akan apa yang ada dipikiran temannya itu.