
Arthur menatap Thor dengan mata yang menyadari segala kesalahannya itu, ia masih lesu karena mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Aku sebenarnya senang karena bertemu kembali denganmu Arthur, bahkan di saat aku meninggal pun masih ada yang bisa kulakukan ahaha ... namun sebenarnya dengan aku bertemu denganmu itu berarti kau sudah berubah dan itu akan mencerahkan pemikiranmu kembali, namun jika ketika aku bertemu kembali denganmu namun kau sama sekali tidak berubah ada tujuan lain dibalik pertemuan kita saat ini."
Arthur menjadi penasaran akan apa yang dikatakan sahabatnya itu, tujuan lain apa yang sebenarnya coba ia katakan?
"Kita bisa bertemu di alam bawah sadarmu ini karena pengaruh topeng iblis milikku kau ingat bukan?"
Arthur akhirnya kembali mengingat bahwa sebelum ia sampai di alam bawah sadarnya ini, memang topeng iblis itulah yang terakhir kali ia rasa menganggunya.
"Kalau topeng iblis ini milikmu apakah ada sesuatu hal lain yang ingin coba kau sampaikan Thor?"
Thor memasang kembali raut muka seriusnya. "Tentu, aku memberikan topeng iblis ini yang sudah kuberikan energi sihir yang sangat kuat pada salah satu pria besar anggota kelompok Alliance Fight's yang berhasil kuselamatkan, tujuannya adalah bilamana ada hari dimana keadaan mereka terancam, topeng ini bisa membantu mereka dalam keadaan bahaya maka dari itu aku menyuruh agar mereka selalu membawa topeng iblis ini kemanapun mereka pergi."
"Sebagai buronan karena melarikan diri kau masih melakukan hal sebesar itu untuk melindungi mereka Thor?"
"Ya, dan perkiraan terkecil dan yang sangat kuharapkan tidak terjadi adalah bahwa kau masih bersikap tidak baik dan semena-mena hingga saat ini, kau masih terikat dengan pikiranmu sendiri dan bersenang-senang di dalamnya, dan itu terbukti dengan pertemuanku denganmu."
"Namun aku menyadari bahwa hanya melalui cara inilah kau akhirnya bisa berubah saat ini."
"Ja-jadi apa yang sebenarnya mau kau ungkapkan Thor?" Arthur agak kesulitan menangkap maksud utama dari perkataan panjang sahabatnya itu.
"Topeng Iblis ini bisa menghentikanmu jika kau tidak berubah dan bahkan jika masih tidak mau berubah, kau mungkin segera bergabung denganku."
Arthur terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, sebuah tindakan yang memperkirakan sesuatu yang cukup jauh dari apa yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1
"Aku memprediksi bahwa jika memang tidak ada yang bisa menghentikanmu untuk berhenti berbuat seenaknya, maka topeng iblis inilah yang akan menghentikanmu- bahkan sampai menghentikanmu sepenuhnya, hingga kau bisa disebut seorang yang sudah meninggalkan dunia ini."
"Ka-kau Thor? Memperkirakan hal ini sampai sejauh ini? Mengapa kau sampai melakukan hal yang seperti ini?"
Thor hanya tersenyum namun keseriusan wajahnya itu sama sekali tidak pudar. "Apa lagi yang bisa membuatmu berubah selain dengan tindakanku saat ini?"
"Aku ingin kau menghentikan semua tindakan yang menurutmu benar itu, dan tolong dengarkanlah orang yang berbicara padamu."
"Atau jika kau tidak mau melakukannya, maka aku tidak akan segan-segan menghentikanmu di sini Arthur, demi kebaikan orang-orang, demi KEADILAN orang-orang aku bisa menghentikanmu di sini."
Thor bersikap keras seperti ini karena memang sikap Arthur yang cukup keras membuatnya harus bersikap lebih keras lagi agar perkataan yang ia sampaikan pada sahabatnya itu tidak kembali padanya dengan sia-sia.
Arthur terdiam, masih dengan raut wajah yang sedih dan seperti merasa bersalah, ia merasa tidak layak untuk berbicara apapun lagi, ia sudah benci untuk percaya dengan apa yang ia percayai yaitu tentang pembelaan dirinya yang palsu itu.
"Aku berkata dan bertindak seperti ini bukanlah untuk mengancammu Arthur, aku tahu kau pintar, kuat, cerdas, cerdik dan masih banyak lagi keunggulan yang ada pada dirimu itu, namun seperti yang telah kukatakan tadi, sikap percaya diri yang salah telah menghancurkan semua hal baik yang ada padamu itu Arthur."
Arthur masih terdiam ketika mendengar perkataan dari sahabatnya itu, ia tidak menyangka sahabatnya itu akan melakukan hal sejauh ini hanya agar dirinya berubah.
"Thor, aku sudah tidak punya apapun yang bisa kukatakan, semua yang kau katakan itu benar dan apa yang telah dulu aku lakukan salah ... aku saat ini sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan," ucap Arthur dengan lesu.
"Bahkan untuk menghentikan tindakanku saja aku harus sampai mengganggu peristirahatan yang tenang sahabatku, aku memang benar-benar jahat ...."
Arthur meneteskan air matanya sambil tertunduk cukup dalam sampai Thor pun tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya ketika menangis, dan sesegera mungkin ia mengelap matanya agar air mata tidak lebih banyak lagi keluar.
Dan memang Thor baru melihat Arthur yang penuh dengan kesempurnaan ini, sesedih dan bahkan sampai menangis seperti ini, ia memang tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapapun termasuk orang terdekatnya sekalipun.
__ADS_1
Thor yang pertama kali melihat Arthur yang seperti ini cukup merasa lega, ia sudah bisa menilai dan menduga bahwa ucapannya itu sudah merangsek dan menusuk atau bahkan mengobrak-abrik isi hati sahabatnya yang cukup keras itu.
Dari sikap inilah juga Thor bisa percaya Arthur sudah sadar sesadar-sadarnya dan berhenti untuk hanya mendengarkan dirinya sendiri, dan juga rasanya ia sudah cukup mendengar nasihat baik dari Thor.
Thor sama sekali tidak menginginkan agar Arthur merasa terpuruk akan kenyataan yang diterimanya itu, sebaliknya Thor ingin agar sahabatnya itu bisa belajar lebih banyak untuk mendengarkan orang lain yang berusaha berbicara baik padanya siapapun itu, atau bahkan lebih dari itu, yaitu untuk bisa menilai isi hati seseorang.
Arthur kemudian berbicara kembali dengan lesu yang masih sama. "Thor ... aku telah berbuat kekejian yang tidak terhitung banyaknya, dan kau masih bertanya bahwa aku harus memilih berubah atau tidak?"
Dari ucapan Arthur yang putus asa itu, Thor bisa melihat kepercayaan seorang Arthur telah runtuh sepenuhnya hingga bahkan ia salah mengira tentang apa yang didengarnya itu.
"Apa yang kau bicarakan Arthur? Pertemuanku denganmu adalah hal yang tidak bisa dihindari, tujuanku bukanlah untuk mengakhiri karirmu atau bahkan dirimu di sini, aku hanya ingin kau menjadi Arthur yang kukenal."
Arthur menatap Thor dengan pandangan yang berarti, masih dalam kesedihan dan sedikit sisa air matanya. "Arthur yang kau kenal?"
"Hmm, bukan hanya yang kukenal saja, yang keluargamu, teman-temanmu bahkan masyarakat yang telah percaya bahwa kau adalah idola mereka, kau baik hati dan astaga aku tidak perlu kembali menyebutkan hal-hal baik dari dirimu, bisa-bisa mulutku pegal menyebutkannya, sudahlah kau sudah tahu Arthur yang dikenal orang-orang bukan? Yang memang itu adalah dirimu yang sebenarnya."
"Be-begitukah?"
"Jangan berusaha jadi Arthur lain, meskipun kau berusaha untuk berjuang untuk apapun juga namun jika kau menjadi orang lain itu hanya akan membuatmu menjadi bukan Arthur lagi, jadilah Arthur terbaik yang sudah dikenal orang-orang."
Arthur akhirnya mengetahui maksud dari tayangan kilas balik dan pula suara-suara yang muncul di telinganya, di sana ia bisa tahu ada dua Arthur yang berbeda, berlawanan dan karena sikap yang saling bertubruk itu, hal itu membuat dirinya tidak menjadi dirinya sendiri lagi."
"Kau punya banyak hal baik yang bisa kau mulai kembali Arthur, memang benar kau tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahamu, namun jika kau sudah sadar akan dirimu yang sesungguhnya saat ini kau pasti akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Arthur mengusap air muka sedihnya itu, dengan berat hati karena memang ia masih terbayang-bayang akan sikap kejamnya itu. "Aku mengerti Thor."
__ADS_1
"Hm? Sudah kuduga kau akan cepat mengerti ... Arthur apakah kau siap untuk menjadi dirimu yang sesungguhnya?"