Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 151: Hanya Sebuah Kiasan


__ADS_3

Munculnya aura jahat adalah suatu tanda darurat akan keselamatan, semakin kuat aura jahat yang terpancar maka semakin tinggi bahaya yang akan terjadi, dalam kasus ini tidak hanya bahaya korban jiwa melainkan bahaya akan daerah tersebut yang mungkin saja bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya kehancuran suatu wilayah karena ulah pihak jahat yang aura jahatnya besar yang sudah pasti kekuatannya besar juga.


Kibo berusaha menangkap masalah kejadian ini dengan perspektif lain, kenyataan masalah makhluk misterius yang membahayakan namun belum ada penanganannya bahkan untuk sekelas pengiriman pasukan kerajaan untuk mengecek daerah itu pun tidak ada, apalagi soal permasalahan ini sepenuhnya di tangani oleh kerajaan barat, hal tersebut sangat tidak mungkin terjadi.


Padahal kemunculan makhluk merah misterius ini sama sekali tidak bisa dianggap sebagai angin lalu, kenyataan bahwa mereka pernah muncul berkali-kali itulah yang membuatnya semakin mengerikan.


"Tuan pemilik, kalau memang ada aura jahat yang dapat mengancam, mengapa tuan tidak pindah saja ke daerah perkotaan?"


"Sebenarnya bangunan ini adalah warisan turun temurun tuan, maka dari itu meskipun terdengar ada bahaya saya tetap berada di sini, dan jikalau memang bahaya benar-benar mengancam saya dan semua yang ada di sini akan segera mengungsi ke daerah perkotaan."


"Tetapi karena makhluk itu sudah agak menghilang maka dari itu saya masih berada di sini, membuka tempat ini ...." tambahnya.


"Begitu ya, namun saya sarankan tuan tetap bersiaga karena memang bukan tidak mungkin makhluk misterius itu dapat muncul sewaktu-waktu," saran Kibo dijawab dengan anggukan oleh sang pemilik penginapan.

__ADS_1


"Apakah mungkin ada istilah lain, selain untuk saat ini kita menyebut makhluk merah misterius itu setan, tuan?"


"Hmmm, ada ... sebutan lainnya adalah iblis," jawab Kibo.


"Iblis ...." gumam pemilik penginapan.


Sang pemilik penginapan lagi-lagi setuju dengan pendapat Kibo, istilah iblis memang sangat cocok jika kau melihat makhluk merah menyeramkan yang memiliki aura jahat.


Dan sejujurnya pemilik penginapan lebih suka istilah iblis dibanding dengan setan.


"Tuan pemilik, sebenarnya saya ini belum tahu lebih jauh soal itu, saya hanya mendengar desasdesus bahwa makhluk selain manusia memang hidup bersama kita, namun kita tidak sadar akan hal ini."


"Tuan pemilik pasti menyadari hal ini setelah melihat makhluk yang berkemungkinan iblis itu kan?"

__ADS_1


Pemilik penginapan menggangguk. "Ada hal-hal yang tidak kita ketahui yang sebenarnya layak untuk kita ketahui," ucap Kibo.


Perkataannya sedikit membingungkan, dalam konteks apa ia mengatakan hal seperti itu?


"Maksud tuan?"


"Kebenaran yang sementara akan lebih menyakitkan dibanding dengan kebohongan yang berkelanjutan ...." Kibo menggunakan perumpamaan dalam pembicaraannya kali ini.


"Jadi maksud tuan, semua hal ini didasarkan pada keberadaan makhluk iblis itu yang kemungkinan mereka sudah ada bahkan ketika kita tidak mengetahuinya?" terka pemilik penginapan.


"Itulah yang saya maksud kebenaran sementara yang menyakitkan tuan, saya rasa kemunculan makhluk ini bukanlah pertanda baik bagi kita ...."


"Ya ampun ...." Pemilik penginapan tertegun mendengar hal ini, entah mengapa kini perasaan takut datang padanya.

__ADS_1


"Dan kita sebagai rakyat dan petualang kelas bawah tidak mengetahui tentang kebenaran ini, kurasa memang jika menyadarinya pun pasti akan menimbulkan rasa takut juga, tapi itu lebih baik daripada tidak menyadarinya sama sekali bukan?"


Pertanyaan Kibo yang dilancarkan pada pemilik penginapan itu seolah pernyataan pedang dua sisi yang bila di pegang pada kedua ujungnya pasti akan terasa menyakitkan, di satu sisi bahwa keberadaan iblis yang tidak diketahui saja sudah mengerikan, dan ditambah lagi sekarang mereka mengetahui kenyataan ini, perasaan takut malah menjadi-jadi.


__ADS_2