Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 449: Sebuah Tempat


__ADS_3

“Haaah... haaah ....” Danny berusaha tetap berdiri, sedang lingkungan di sekitarnya sudah benar-benar hancur.


Semua bangunan sudah rata dengan tanah dan beberapa lubang di tanah tercipta, itu semua karena efek dari pertarungan yang terjadi sekarang.


Shea berdiri tegap dengan tatapan yang tajam, ia makin menikmati kehancuran yang parah ini.


Danny melihat sekilas ke rekannya. ‘Patricia....’


Terlihat Patricia masih sadar, namun tidak cukup kuat untuk mengangkat badannya kembali.


Meski menggunakan kekuatan batu permata mulia fisik pun, tetap saja masih belum cukup untuk melindunginya dari pertarungan yang baru saja berlangsung sebentar.


Kondisi tubuh Patricia tidak bagus seperti yang telah disebutkan sebelumnya.


Kekuatan batu permata mulia yang ada padanya sudah hampir menghilang, semuanya bisa menduga itu disebabkan karena hal apa.


Dan tidak berhenti di situ, Patricia juga mengalami luka fisik serius yang ada di sekujur tubuhnya.


Luka seperti luka bakar bisa terlihat jelas di tubuhnya, melihat ini membuat Danny sedikit emosi.


‘Kenapa... aku....’ Danny merasakan tekanan ada dalam batinnya, yang membuatnya jadi sedikit bergetar sekarang.


Usahanya tidak cukup untuk membuat temannya tetap aman.


Mengapa bisa begitu? Bukankah seharusnya kekuatan batu permata mulia fisik bisa membuat penggunanya jadi lebih kuat, tidak hanya serangannya, namun juga pertahanannya?


Lalu kenapa Patricia sekarang kondisinya jadi seperti ini?


‘Kekuatan batu fisik tidak cukup untuk membendung kekuatannya.’ Danny sadar akan kenyataan ini, karena kondisinya juga tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada rekannya.


Kekuatan batu permata mulia bekerja tanpa hambatan di sini, hanya saja Danny tahu, kekuatan alam yang dimiliki lawannya ini bisa menetralkan semua jenis kekuatan, yang pada akhirnya membuat efektifitas kekuatan batu permata mulia jadi menurun.


Kekuatan alam ras elf terbukti bisa membuat kekuatan leluhur demi human jadi kewalahan. Danny akhirnya bisa merasakan ini secara langsung.


Dengan begitu maka jelas sudah kekuatan yang digunakan Danny sekarang tidak lebih kuat dari kekuatan ras elf, tapi apakah semuanya berakhir di situ?


“Apa kalian berubah pikiran?” tanya Shea dengan aura hijau yang bersinar, dan raut wajah yang tentu saja meremehkan apa yang dilihatnya.


Sorot mata hijau yang bersinar terasa mengintimidasi bagi siapapun yang melihatnya.


Tidak disangka Shea ternyata masih menawarkan hal ini, ia masih merasa sayang bilamana harus membiarkan kedua orang ini meninggalkan dunia.


Shea masih penasaran mengapa bisa-bisanya tugas seperti ini dianggap begitu serius oleh para iblis. Mengapa mereka tidak mampu menangkap pemuda ini?


Danny terdiam, ia merasakan ini sudah batasannya dalam mengeluarkan kekuatan batu permata mulia fisik.


Kedua tangan Danny bertumpu pada lututnya sendiri, kekuatan yang dikeluarkannya seolah menuntut balik pada dirinya sekarang.


Dan apa itu maksudnya? Sederhananya kekuatan batu permata mulia adalah tidak terbatas, hanya dibatasi oleh kemampuan penggunanya itu sendiri.


Jadi pada akhirnya seberapa kemampuan pemegang batu permata mulia itu akan menentukan seberapa besar juga kekuatan yang bisa dikeluarkan.


‘Rasanya aneh.’ Dan baru kali ini Danny menggunakan kekuatan yang sebesar ini, sejauh perjalannya sampai di titik ini.


Jadi hilangnya kekuatan batu permata mulia mulia itu murni karena sampai di sini kemampuan Danny mengendalikannya.

__ADS_1


‘Apa yang harus kulakukan?’ Danny bertanya pada dirinya sendiri, sejauh ini ia sudah melakukan apa yang ia bisa, dan sekarang apa lagi yang bisa dilakukannya?


‘Patricia sudah melakukan apa yang ia bisa.’ Tidak bisa dipungkiri Patricia juga benar-benar membantunya tadi, padahal bukan tujuan seperti itu ia mentransferkan kekuatan batu itu sebelumnya.


Danny hanya ingin agar Patricia tetap bisa aman dari situasi yang akan terjadi di sini, dan usahanya itu tidak sepenuhnya sia-sia.


Tapi sudah jelas-jelas situasi ini tidaklah diharapkannya.


‘Patricia, aku harus melakukan melakukan sesuatu!’ Danny tahu ia sendiri memang berada di kondisi yang kurang bagus, sekujur tubuhnya juga penuh luka dan juga darah, namun dalam pikirannya tidak ada lagi hal lain selain temannya sendiri.


‘Aku tidak mau berakhir seperti ini....’ Danny ingat bagaimana pesan dari Freiss soal kekuatan batu permata ini. Ia ingat akan bagaimana kekuatan batu ini bekerja.


Namun mengaplikasikan nasihat dari gurunya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bisa tetap sadar setelah menggunakan sebagian besar kekuatan kekuatan batu permata mulia fisik sampai sekarang adalah hal yang berarti.


‘Apa itu adalah pilihan terbaik?’ Danny kini memikirkan satu pilihan yang bisa diambil sekarang, dn bertanya-tanya apakah itu sepadan dengan situasi yang terjadi.


Danny tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi sesuai dengan apa yang ia harapkan, namun di sisi lain ini adalah satu-satunya pilihan yang bisa diambil.


Sedang Shea masih menatapnya dengan tatapan puas dan juga sabar menunggu apa yang akan dilakukan lawannya.


Tidak sulit bagi Shea mengakihiri kedua lawannya, namun ia merasa itu tidaklah menarik.


Ia sendiri sudah melihat bagaimana kekuatan dari pemuda bernama Danny dan gadis yang sudah terkapar itu, mereka memberikan perlawanan, namun tidak cukup untuk bisa terus menghiburnya.


Jadi ia tidak keberatan menunggu apa yang akan pemuda itu lakukan lagi.


Dan sejujurnya, melihat orang lain kesulitan adalah hal yang menghibur baginya.


“Menyerahlah dan berikan batu itu padaku.” Shea mempertegas keinginannya lagi, dan tidak direspon sedikitpun oleh Danny.


Danny sedikit berjongkok dan memegang bahu Patricia, dan seketika itu juga muncullah aura berwarna coklat, menyelimuti seluruh tubuh Patricia.


Patricia terlalu lelah untuk menyadari apa yang sedang terjadi, namun ia masih bisa menunjukkan sorot mata yang penasaran akan apa yang terjadi.


“Kau?” Raut wajah Shea sedikit berubah ketika melihat gadis kecil itu kini diselimuti aura berwarna coklat, dan kekuatan yang dipancarkannya berkali-kali lipat dari kekuatan aura berwarna merah sebelumnya.


Shhhhhh....


Aura coklat itu sampai-sampai membuat hembusan di sekitarnya, yang menandakan begitu kuat aura ini.


Dari sini Shea tahu pemuda itu mengubah haluan kekuatannya, ia kini bisa merasakan dengan jelas pertahanan dari gadis yang tergeletak itu meningkat sangat tinggi.


“Menarik.” Shea menyilangkan tangan di dadanya, ia tidak menyangka pemuda itu akan melakukan hal seperti ini.


Ia sangka lawannya itu setidaknya akan menguatkan kembali dirinya sendiri dan kembali bertarung, namun pada kenyataannya tidak seperti yang ia pikirkan.


Pemuda itu malah mentransferkan begitu banyak kekuatan pada seorang yang sudah tidak berdaya, perbuatan yang tidak masuk akal di situasi seperti ini.


Shea rasanya ingin tertawa ketika melihat ini, namun pada akhirnya ia bisa menahannya dan masih tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Blugh.


Danny terjatuh, namun lututnya masih jadi tumpuannya, tubuhnya terlihat begitu lemas, dan kini tidak ada aura apapun yang keluar dari tubuhnya.


Ia tidak memiliki pertahanan dan juga apapun yang bisa melindunginya dari lawannya, membuatnya begitu terbuka dan mudah sekali bagi lawannya untuk melakukan urusannya.

__ADS_1


Danny melihat ke bawah, sampai sejauh ini ia masih bisa sadar, namun tubuhnya terasa begitu lemah sampai-sampai ia tidak paham lagi bagaimana rasanya.


‘Aku harus melindunginya.’ Danny melihat Patricia dengan seksama, dengan melihat kembali rekannya yang terlindungi membuat perasaannya jauh lebih baik.


‘Uh....’ Danny merasa tidak asing dengan apa yang ia alami saat ini, begitu melelahkan setelah mengeluarkan apa yang ia bisa, rasanya enak jika ia beristirahat setelah semua yang melelahkan ini.


Namun di saat yang bersamaan, mustahil baginya untuk melakukan hal itu.


Tekadnya masih berkobar, sementara tubuhnya sudah hampir pada batasannya sendiri.


‘Dengan ini aku sudah menggunakan dua kekuatan batu permata ini....’


Danny menggunakan energi yang tersisa itu untuk tetap sadar dan bertumpu pada kedua lututnya di tanah.


Perlahan namun pasti terlihat tetesan air seperti keringat pada kepala pemuda itu, hanya saja berwarna merah.


Di saat ini ia juga terpikir akan hal lain.


‘Bagaimana akeadaan Brock dan Vincent ya....’ Danny ingat mereka memang berpisah untuk alasan yang baik.


Namun pada akhirnya sekarang Danny terpojok dan kehabisan cara untuk bisa tetap bertahan melawan mantan rekannya ini.


‘Aku sudah menceritakan banyak hal pada mereka... memang seharusnya aku sendiri saja yang mengatasi ini....’


‘Seharusnya aku bisa meyakinkan mereka untuk tidak ikut denganku....’ Dengan semua perasaan lelah ini, Danny jadi jujur akan keinginannya ini, fakta dimana ia tidak mau membuat temannya dalam bahaya, sekaligus bagaimana ia pikir perjalanan ini terlalu mustahil untuk dilewatinya.


Apa yang dikatakan Guru Freiss benar dan Danny seharusnya memikirkannya berulang kali, namun pada akhirnya ia terlalu percaya diri untuk membawa mereka bersamanya.


Dan sekarang jadi seperti ini....


Siiiinggg....


Danny merasa telinganya berdengung dan pandangannya jadi sedikit samar-samar, inni adalah hal yang wajar karena tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk menahan efek dari kekuatan batuy permata mulia.


‘A... ada apa ini?’


Danny perlahan bisa melihat lingkungan di sekitarnya perlahan jadi gelap.


Tidak, ia masih belum pingsan dan masih sadar, namun perubahan lingkungan inilah yang membuatnya jadi cukup terkejut.


‘Serangan musuh?!’ Kemungkinan itulah yang paling bisa terjadi saat ini, karena memang sedari tadi musuhnya tetap mengamatinya, dan mungkin saja dia sudah mulai beraksi.


‘Sihir perubahan tempat?’ Danny tidak berhenti menganalisa apa yang terjadi di sini.


Danny merasa ada perubahan berbeda yang terjadi di sini, dan itu berefek pada tubuhnya sendiri juga.


Ia merasa tubuhnya jadi lebih ringan dari sebelumnya, dan rasa lemas yang ada pada tubuhnya menghilang secara ajaib.


Di saat yang bersamaan Danny tahu ini bukanlah serangan lawan, lagipula serangan jenis apa yang memberi keuntungan pada lawannya?


Danny menggosok matanya untuk memastikan apa yang terjadi, namun tetap saja ia hanya melihat kegelapan pekat, seolah kini ia sedang berada di tempat yang berbeda.


Ia tidak merasakan kekuatan sihir apapun lagi di sini, seolah di sini hanyalah ada dirinya seorang saja.


Danny berusaha untuk mengangkat kepalanya sendiri dari bawah dan melihat ada empat cahaya bersinar terang tak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


Mata Danny sedikit terbuka, dari sorot matanya sudah berbicara jelas soal apa yang ia lihat saat ini.


‘Tempat ini....’


__ADS_2