Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 262: Menghormati


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya memasuki area hutan itu kembali, hendak mencari tempat yang cocok bagi peristirahatan terakhir Danny.


Akhirnya Brock dan Vincent kembali ke tempat di mana pertama mereka menemukan Danny telah meninggal, di sana terdapat area tanah yang cukup luas untuk dijadikan makam bagi Danny.


Mereka berdua rasa tempat ditemukannya Danny yang meninggal inilah yang pantas untuk menjadi tempat peristirahatan terakhirnya juga.


Setelah berbincang-bincang sejenak, Patricia setuju dengan usulan Brock dan Vincent mengenai letak tempat peristirahatan terakhir temannya itu.


"Baiklah! Kita semua sudah setuju Danny akan dikuburkan di sini, memang jika diingat kembali tempat ini akan menyedihkan karena Danny meninggal di sini, namun bukan itu yang harus kita pikirkan saat ini; Danny telah berjuang dan menjadi seorang yang baik hingga akhir hayatnya, dia seharusnya menerima lebih dari ini, tapi kita tidak punya apapun selain menguburkannya dengan sederhana, biarlah dengan ini ia bisa beristirahat dengan tenang."


Setelah Brock menyampaikan pesan-pesan mengenai tempat istirahat terakhir Danny ini, ia meletakkan mayat Danny tepat di bawah pohon yang terdapat bercak darah yang dapat terlihat dengan jelas, tempat itulah yang menjadi saksi bahwa hidupnya telah berakhir di sana.


Vincent meminta izin untuk mencari sebuah batu besar yang ia dapat gunakan untuk membuat nisan Danny; tidak lama setelah ia menemukan batu yang cocok, dengan sihir apinya ia menulis nama Danny, ia menulis nama dengan menggunakan ujung api yang panas yang bisa menghasilkan asap hitam, dengan memfokuskan sihirnya maka ujung asap hitam itu bisa membentuk api dengan asap berwarna hitam yang tajam yang dapat digunakannya untuk menulis pada batu itu.


Setelah melakukan tugasnya itu, ia kembali menemui Patricia dan Brock, yang juga telah menggali kubur Danny; namun anehnya ia tidak tahu bagaimana pria besar itu melakukannya, mereka tidak memiliki cangkul, ataupun alat apapun yang bisa membuat tanah berlubang seperti itu.


"Brock, bagaimana kau bisa menggali tanah untuk mayat Danny? Kita tidak punya peralatan apapun saat ini." Vincent keheranan ketika melihat lubang kubur yang sudah tersedia saat ini, bagaimana caranya mereka melakukan hal ini?


"Vincent, aku telah menggunakan sihir tanahku, dengan memakai kekuatan itu kita bisa menguburkannya dengan cepat, aku hanya perlu memanipulasi bentuk tanah dari keras menjadi lunak dan kemudian mengeluarkan tanah itu dengan mudah berdasarkan perhitungan yang sesuai sebagaimana ukuran makam biasanya."


Vincent melihat lubang makam itu sudah tergali dengan rapi sempurna dan di sampingnya ada gundukan tanah untuk menutupnya kembali; ia menancapkan batu nisan yang dibuat untuk Danny itu pada gundukan tanah di samping lubang makam itu.


"Oh begitukah? Ternyata sihir dapat berguna juga untuk hal seperti ini," ujar Vincent


"Selama ini kupikir sihir hanya digunakan untuk bertarung dan melindungi diri, namun setelah kau menjelaskan tadi rasanya pandanganku tentang sihir jadi berubah." Vincent mengangguk-angguk mempelajari sesuatu tentang ilmu sihir yang ternyata bermanfaat juga untuk hal lain selain digunakan untuk pertarungan.


"Masih banyak rahasia mengenai sihir Vincent, dan berbagai kegunaan yang bermacam-macam juga." Brock mendukung pendapat Vincent tadi.


Dengan adanya kemampuan khusus seperti ilmu sihir maka bukan tidak mungkin juga ilmu itu bisa memudahkan penggunanya dalam berbagai hal, jika dimanfaatkan dengan benar.


Ilmu sihir adalah sebuah kemampuan yang tidak bisa di taksir oleh akal pikiran biasa, sebuah ilmu khusus di mana hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin dan terjadi di dunia nyata.


Brock kemudian menunjukkan sesuatu di telapak tangannya seperti dua batu berwarna merah dan coklat yang bercahaya pada Vincent dan Patricia.

__ADS_1


"I-ini!" Patricia menyadari sesuatu ketika ia melihat batu yang ditunjukkan oleh pria besar itu, sepertinya ia pernah melihat batu itu di suatu tempat.


"Kau menyadari sesuatu Patricia?" Brock tahu Patricia yang dekat dengan Danny pasti tahu sesuatu tentang dua batu merah dan coklat yang bercahaya itu.


"A-aku pernah melihatnya, Danny mengeluarkan semacam batu dari tubuhnya sendiri, dan itu adalah batu yang kau tunjukkan itu."


"Sepertinya memang benar apa yang kukatakan tadi, Danny mengumpulkan kekuatan batu dengan tujuan tertentu."


Brock agak heran mendengar perkataan gadis itu. "Sepertinya?"


"Ah, sebenarnya aku tidak begitu mengetahui tentang batu ini, Danny seperti tertutup ketika berbicara mengenai hal ini; aku mengetahuinya karena tidak sengaja mendengar pembicaraannya di berbagai kesempatan saat ia latihan dahulu."


"Hm." Brock dan Vincent memasang mimik wajah tidak senang karena mendengar gadis itu ternyata suka menguping pembicaraan orang lain.


"A-aku tidak sengaja mendengarnya! Jika Danny merahasiakan ini dariku pasti ia punya alasan tersendiri, namun sekarang aku tidak akan pernah tahu alasan ia menyembunyikan hal itu dariku." Patricia berusaha untuk menjelaskan bahwa dirinya bukan ingin benar-benar mengetahui apa yang Danny sembunyikan; ia hanya mengetahui secara tidak sengaja dan masih bertanya-tanya mengapa Danny menyembunyikan tujuannya darinya.


"Aku mengerti, ketika kami menemukan mayat Danny berada di sini, untuk beberapa saat kami bersamanya dan tidak lama kemudian kami tahu bahwa dia sudah tiada, beberapa saat kemudian di dalam tangan kanannya yang terkepal itu ada semacam cahaya yang bersinar, ketika aku periksa tenyata dia sedang memegang kedua batu aneh yang bercahaya ini," jelas Brock pada gadis itu.


Patricia berpendapat bahwa batu itu memang adalah batu ajaib yang disebut batu permata mulia yang merupakan milik Danny.


"Ketika menemukannya, aku kaget dan tidak tahu benda apa ini; namun pada akhirnya aku memutuskan untuk membawanya bersamaku dan menyembunyikan keberadaan batu ini dari Tuan Arthur yang kemudian datang untuk melihat keadaan Danny." Brock memberikan penjelasan yang detail mengenai kejadian yang telah terjadi itu.


"Sepertinya batu ini milik Danny, dan hanya inilah yang ia tinggalkan; maka dari itu biarlah kau Patricia yang menyimpan benda ini untuknya." Brock mengutarakan alasan mengapa ia menunjukkan batu itu.


"Ah? Mengapa aku? Bukankah kalian juga teman Danny? Sudah pasti Danny juga percaya terhadap kalian ...." Patricia merasa bahwa menyimpan benda milik Danny oleh orang lemah sepertinya hanya akan mengecewakannya saja.


"Mengapa kau berpikir seperti itu? Bukankah kamu yang selalu bersama dengan Danny dulu? Bahkan menghabiskan waktumu dengannya? Saat ini tidak ada yang lebih dipercayainya selain dirimu." Vincent akhirnya angkat bicara, ia mendukung niat Brock untuk menyerahkan barang peninggalan Danny pada Patricia saat ini; sifat bercandanya berkurang dratis saat ini.


"Be-benarkah?" Patricia yang tadinya merasa tidak layak untuk menyimpan barang yang dianggap Danny berharga, namun setelah mendengar masukan dari kedua pria yang juga dikenal Danny; ia merasa lebih percaya diri untuk menyimpan benda itu bersamanya.


Patricia akhirnya menyanggupinya, ia menerima kedua batu ajaib itu yang bercahaya itu, menyimpannya di saku celananya dan berniat untuk menjaganya sampai kapanpun.


"Dengan ini, Danny bisa lebih lega karena benda yang ditinggalkannya itu berada di tangan orang yang dipercayainya saat ini," ucap Brock, ia tersenyum begitupula dengan Vincent saat ini.

__ADS_1


Mendapat tanggung jawab baru, Patricia hendak menjalankan amanah ini sebaik yang ia bisa.


"Oh, bolehkah aku meminta satu hal terakhir?" Patricia terpikirkan suatu hal saat ini.


"Ya? Apa yang kau inginkan?" Brock menjawabnya dengan cepat.


"Ah-ah tidak, kurasa aku tidak perlu meminta hal lain lagi." Patricia dengan tiba-tiba juga tidak jadi dengan apa yang ingin ia katakan tadi.


"Hm? Mengapa? Apa ada sesuatu?" Vincent bertanya untuk memastikan apakah ada yang mengganggu gadis muda ini; instingnya yang tajam memaksa Patricia untuk mengutarakan apa yang tadi ia ingin katakan itu.


"Ku-kurasa sebelum kita menguburkan Danny, ada baiknya kita membasuh tangan terlebih dahulu." Patricia akhirnya mengatakan hal ia ingin sampaikan itu.


"Membasuh tangan?" Vincent agak kurang mengerti dengan apa yang dimaksud gadis itu.


"Apakah kau tidak tahu Vincent? Membasuh tangan sebelum menguburkan seseorang yang telah tiada adalah salah satu bentuk penghormatan juga." Brock mencoba menjelaskan pada temannya itu.


"Membasuh tangan terlebih dahulu kah? Tapi di mana kita bisa menemukan air, apakah kita harus menunggu agar cuaca kembali mendung dan meneteskan air pada kita?"


"Vincent, hal itu tidak semudah yang kau katakan, air yang digunakan untuk membasuh tangan bukanlah air yang sembarangan; kita lebih baik mencari sumber air yang mengalir dan membasuh tangan kita di sana; sebuah mata air murni dan bersih yang dapat membuat tangan kita kembali bersih seperti semula."


"Ah? Apa bedanya dengan air biasa? Kurasa aku tidak mengetahuinya tapi sudahlah, jika memang harus memakai air yang bersih, kita pergi ke sungai kecil saja yang tadi kita lewati ketika berusaha membawa Danny lari saat Tuan Arthur menyuruh kita."


"Ah kau benar Vincent, kita memang mengambil jalan memutar yang agak jauh, dan kita sempat melewati sungai kecil yang airnya bersih dan jernih, letaknya tidak begitu jauh mari kita basuh tangan kita di sana." Brock mengajak Patricia dan Brock untuk pergi ke sungai yang ia dan Vincent temui tadi.


Patricia ingin agar Danny bisa beristirahat dengan tenang; adanya penghormatan terakhir yang berusaha mereka lakukan adalah wujud dari rasa kehilangan sekaligus kerelaan untuk melepaskan kepergiannya saat ini.


"Kami akan segera kembali Danny." Patricia mengikuti Brock dan Vincent mengarah menyusuri sungai yang letaknya tidak terlalu jauh itu; mereka harus kembali melewati pepohohonan yang lebat untuk mencapai tempat itu.


Meskipun letak sungai itu tidak terlalu jauh, namun tetap saja jika berjalan kaki maka perjalanan mereka ke sana tidak bisa dikatakan cepat, penyebabnya adalah jalan setapak yang cukup semput bebatuan dan tidak lupa berbagai dahan dan ranting yang tersebar di area hutan itu yang memaksa mereka berjalan lambat untuk mencapai tempat itu.


Danny ditinggalkan oleh mereka bertiga di tempat di mana ia meninggal, di bawah pohon dengan bercak darah pada sisi pohon itu.


Tidak berapa lama kemudian, angin berhembus; hal ini membuat udara segar kembali tersebar di area pemuda itu saat ini.

__ADS_1


"Uuuh ...."


__ADS_2