
“Cepat juga.” Raven tidak menyangka Danny kembali sesingkat ini, padahal ia pikir bakal menunggu lebih lama.
“Dia....” Arthur terdiam saat melihat kondisi iblis itu sekarang.
“Hii....” Hellen menutup mata dengan kedua tangannya, ada sesuatu yang membuat ia melakukan hal ini.
“Kau sering melihat ini bukan?” Jessica heran melihat tingkah Hellen, yang notabene adalah seorang yang bergelut di bidang pemulihan sihir.
Bukankah Hellen sering melihat darah dan organ tubuh manusia? Seorang yang belajar sihir pemulihan tentunya akan berhadapan dengan kondisi seperti ini.
Sihir pemulihan tidak dipelajari dengan asal-asalan, butuh kekebalan untuk melihat hal yang tidak boleh dikonsumsi oleh umum.
Jadi apa yang salah dengan melihat iblis yang kepalanya sudah hancur?
“Haah... Khh....” Danny bernafas berat, raut wajahnya menandakan kelelahan yang tidak biasa.
Pucat, mata sayu, dan keringat berlebihan terlihat jelas pada pemuda ini, membuat yang melihatnya jadi penasaran bagaimana kondisinya yang sebenarnya.
“Ha... Hah....” Danny merasa berat sekali mengambil nafas, namun ia tidak punya pilihan lagi selain melakukannya.
Makhluk apa lagi yang bisa hidup di dunia tanpa bernafas? Maka dari itu Danny tetap melakukannya meski tidak mudah.
“....” Worther terdiam, raut wajahnya menandakan ia tidak percaya pemuda itu bisa mengalahkan iblis kuat seperti itu, seorang diri.
Semua pandangan kini tertuju pada pemuda itu, hening, beberapa saat tidak terdengar apapun selain Danny yang masih berusaha bernafas.
Seolah semua orang di sini menghormati Danny dengan tidak mengatakan apapun, pandangan mereka masih saja belum percaya, padahal sudah jelas-jelas musuh mereka sudah terkapar.
Domer, sang iblis pertahanan, tergeletak tanpa kepala, tubuhnya terbujur kaku.
“Dia belum mati....” ujar Danny perlahan.
“Belum mati?!” Hellen tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Arthur terdiam, memang tidak dapat dipungkiri masih ada hawa kehadiran yang masih terasa dari makhluk merah itu.
“Kalau begitu kenapa kau tidak menghabisinya sekalian?” Worther heran mengapa pemuda itu malah membawa bibit bahaya ke dunia nyata. Memang jika ada hal yang tidak diinginkan ia akan siap membantu juga sih.
__ADS_1
Hanya saja Worther memegang perkataan sombong pemuda itu dari awal yang berkata ‘hentikan aku kalau bisa’. Tentu saja itu artinya dia mau menuntaskan ini sampai benar-benar selesai bukan?
“Bukan aku yang harus melakukannya.” Danny perlahan menatap Arthur, dan seketika itu juga Arthur tahu apa yang dimaksudkannya.
Tatapan yang begitu peduli dan penuh penghormatan, bahkan di saat ia sudah membuktikan dirinya sekalipun, Danny tetaplah mengingat mengapa ia bertarung sampai seperti ini.
SSHHHH....
Seketika itu juga aura kuning kembali muncul pada Arthur, dan pedang kuning berkobar kini sudah ada di tangannya.
“Ini untuk Thor!”
JLEB.
Pedang aura sihir kuat itu menusuk dalam pada tubuh iblis merah itu.
*
Beberapa saat sebelumnya -Di dunia sihir buatan Danny-
Domer tidak menyangka pertahananya bisa ditembus seperti ini, yang padahal kekuatan pertahanannya itu bisa membuat orang yang menyerangnya jadi kelelahan.
Dia tidak kelelahan dan malah menipunya dengan menggempur sihir pertahanannya diam-diam. Domer tidak merasakan hawa kekuatan yang amat besar dari pemuda itu.
Yang sudah pasti dia menyamarkan semua itu, bertingkah seolah hanya sedang mengeluarkan kekuatan biasanya saja.
Jadi tidak heran ia tidak bisa mengantisipasi hal ini, karena memang kekuatan pemuda itu sudah jauh lebih kuat.
‘Inikah kekuatannya?’ Domer terkesan, musuhnya hanyalah seorang pemuda yang belum lama hidup di dunia dan kini bisa membuatnya terpojok seperti ini.
Apa yang dikatakan Archifer bukanlah perkataan sia-sia, karena sekarang Domer tahu sendiri bagaimana kekuatan pemuda itu.
‘Tidak masalah, aku bisa menghindarinya.’ Domer melihat serangan yang tertuju padanya, yang memang lebih cepat dibanding sebelumnya.
Perlahan namun pasti gerakan pemuda itu terlihat lambat sekarang, yang di mana Domer sudah mulai bisa mengikuti seberapa cepat dia bisa bergerak.
“....” Domer tidak melakukan apapun, ia malah terlihat menikmati melihat musuhnya yang sedang mengarahkan tinju padanya.
__ADS_1
Dari tatapan sang iblis merah ini, ia terlihat tidak puas, rasanya yang menarik baru saja akan dimulai, namun ia harus mengakhirinya.
Tidak masalah dengan pertahanan sihir merahnya yang sudah hancur, karena Domer tidak memerlukannya lagi.
Lagipula akan memakan waktu bilamana mengumpulkan kekuatan gelap hanya untuk pertahanan sihir yang lebih kuat, jikalau ia bisa mengakhiri musuhnya sekarang, mengapa menunggu lebih lama lagi?
Ini memang tidak sesuai prinsipnya, karena Domer biasanya mengakhiri lawannya dengan cara tidak biasa, yaitu membiarkan mereka kalah dengan sendirinya.
Dengan menggunakan cara yang berbeda sekarang, tentu akan melukai reputasinya sebagai iblis dengan teknik bertahan paling kuat, yang bahkan bisa mengalahkan musuh tanpa menyerangnya.
Tapi apa boleh buat? Domer tidak mau kejadian seperti tadi terulang, sebagai iblis ia memang akan menanggung malu, namun setidaknya tidak bodoh untuk memberi celah lagi pada musuhnya.
“Baiklah.. sekarang....” Domer mengangkat tangan kanannya sedikit, namun belum sempat ia mengumpulkan kekuatan gelap, entah mengapa tangannya jadi kaku.
Domer tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, mengingat meman baru saja ia menyusul level kekuatan pemuda itu.
Apakah ini efek karena dia mengumpulkan energi gelap secepat yang ia bisa?
‘Ada apa ini?’ Domer bertanya dalam batinnya sendiri, berkaca dari pengalaman bertarung sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah mengalami yang seperti ini.
SSSHHHHHH!
“!” Domer bisa melihat pemuda itu malah bersinar terang berwarna warni, pergerakan lambatnya jadi normal dan serangannya fisiknya berlanjut sebagaimana mestinya.
‘Kenapa dia bisa?!’ Domer tidak mengerti, padahal ia sudah menaikkan level kekuatan lebih dari pemuda itu, lantas mengapa malah dia bisa bergerak lebih cepat darinya?
“!?” Domer menyadari sesuatu di sini.
‘Apa yang kulihat ini.... hanya ilusi!?’ Domer sadar, di dunia buatan ini, manusia itu bebas melakukan apapun, tidak hanya memanipulasi aura kekuatan, namun apa yang dilihatnya juga!
‘Jadi dia bukan menggunakan kekuatan kecepatan dan sihir saja!?’ Terlambat sudah Domer menyadari hal ini, serangan tinjuan Danny dengan keempat aura berbeda sudah ada di depan matanya.
‘Dia menggunakan seluruh kekuatannya!?’ Domer tidak menyangka apa yang sekarang terjadi.
Ia tahu jelas bagaimana payahnya pemuda itu mengeluarkan dua kekuatan berbeda secara bersamaan, dan sekarang bagaimana mungkin dia bisa mengunakan lebih daripada apa yang ia bisa gunakan?
Tekad sebesar apa yang membuatnya menggunakan kekuatan besar itu?
__ADS_1
‘Apa dia tidak takut mati!?’ Sebaliknya, Domer bisa melihat raut wajah penuh keseriusan yang ada pada pemuda itu.
‘Kenapa aku tidak sadar dari awal!?’ Domer terpaku melihat apa yang datang padanya, dan seketika itu juga ia tahu, terus bertahan tidaklah selalu membawanya pada kemenangan.