
Sebuah kebetulan yang tiba-tiba terjadi, Arthur bisa bertemu dengan kelompok Alliance Fight's lebih cepat dari pada yang ia kira sebelumnya.
Ia tidak perlu mencari mereka karena memang mereka sendiri sudah muncul padanya saat ini.
Terlihat saat ini Yizi berusaha untuk mencapai area itu beserta para pria besar menemaninya kali ini, mereka berjalan dan sesaat kemudian mereka terkejut dengan apa yang ada di depannya itu.
Arthur kemudian berpesan pada Brock dan Vincent agar membawa tubuh Danny yang sudah tidak bernyawa itu menjauh dari tempat ini.
"Me-mengapa kami harus pergi dari sini?" Brock bingung mengapa ksatria suci itu menyuruh melakukan hal ini.
Arthur memasang wajah yang serius namun penampilannya tidak seperti kemarin yang tajam, ia lebih tenang dan berusaha menyakinkan pria besar bernama Brock itu agar menjauh dari tempat ini.
"Aku mohon Brock, aku ingin berbicara dengan orang-orang kelompok ini- mungkin saja akan ada beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi, aku tidak mau melibatkan kalian dalam masalah ini."
Arthur tahu masalah ini tidak bisa ia perpanjang lagi, dan pula tidak boleh ada orang lain yang terlibat dengan hal ini; biarlah ia menghadapi masalah ini sendirian dan menyelesaikannya satu waktu ini, karena memang hanya inilah satu-satunya kesempatannya.
Melihat keseriusan Arthur, Brock akhirnya percaya padanya dan dengan segera memangku Danny dan pula segera menjauhi area hutan itu diikuti oleh temannya Vincent dari belakang.
Mereka menembus masuk ke area hutan untuk menjauhi Arthur yang menyuruhnya demikian itu.
Setelah melihat mereka bertiga menjauhi area ini Arthur kemudian melihat sekelompok orang-orang Alliance Fight's tengah menatapnya kali ini; dengan jumlah sebelas orang termasuk dengan pemimpinnya itu.
Jarak mereka tidak terlalu jauh karena memang area hijau yang dikelilingi pohon ini tidak terlalu luas, tidak memungkinkan bisa lari dengan mudah tanpa melalui semak tinggi, pohon besar, ranting berserakan dan tidak lupa kadang ada duri tajam yang bisa melukai kaki.
Di antara mereka Arthur hanya melihat raut wajah serius Yizi, sedangkan para pria besar lain terlihat gentar dan takut ketika melihatnya.
"Sudah kuduga kau di sini Arthur!" Yizi berseru dengan keras pada Arthur dengan luapan emosinya saat ini.
"Aku tidak takut denganmu! Kau bisa menyelesaikan urusanmu denganku saat ini!"
"Teganya kau menghancurkan persahabatan yang kumiliki saat ini!"
Arthur bisa melihat raut muka dari Yizi yang sama seperti kemarin, penuh kekesalan dan marah padanya; sebuah emosi yang meledak-ledak dan tidak tertahankan lagi.
Tanpa pikir panjang lagi Yizi berlari, dan para pria besar terkejut karena tiba-tiba melihat tuan mereka berlari secara tiba-tiba.
"Tu-Tuan Yizi!"
Pergerakan Yizi terlihat lambat, lebih lambat daripada kemarin ketika ia bertarung dengannya, Arthur menduga karena mungkin saja energinya itu masih belum pulih sehabis digunakan habis-habisan kemarin.
Melihat tekadnya untuk membalaskan apa yang telah di alami sahabatnya itu- itulah yang saat ini Yizi lakukan, Arthur bisa menilai jelas kali ini.
Meskipun kondisinya sudah tidak berada di kondisi bagus untuk bertarung, namun ia tetap memaksakan diri untuk menyerang ksatria suci itu, demi tujuannya bukan yang lain.
__ADS_1
Arthur bisa saja menghindari serangan tinjuan pria bernama Yizi ini bahkan mengalahkannya kembali sekalipun, namun ia memilih untuk tidak melakukannya; ia tetap berada di posisi berdirinya saat ini.
Inikah yang kau maksud Thor? Melihat dan menilai sesuatu tidak menurut pendapatku seorang?
Memang kebanyakan orang akan marah dan kemungkinan akan membalas jika ada hal berharga yang direbut dari seseorang itu.
Saat ini Yizi marah dan ingin membalaskan dendam karena kematian orang terdekatnya; itu bukanlah hal yang mengherankan untuk dilakukan, malah sebaliknya ia melakukan ini karena memang ikatan di antara mereka sungguh kuat hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan untuk tidak melakukan apapun pada seseorang yang telah berlaku buruk pada sahabatnya itu.
Ia marah, kecewa, kesal dan pula banyak perasaan lain yang bercampur aduk saat ini, ia tidak peduli apapun lagi kecuali membalas perbuatan orang yang telah membunuh sahabatnya itu.
Arthur bisa melihat dari raut muka Yizi, tidak ada ketakutan sama sekali yang terpaut di wajahnya itu, ini terlihat ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisinya sendiri asalkan tujuannya tetap terlaksana, membalas orang yang telah membunuh sahabatnya.
Karena itulah Arthur sama sekali tidak beranjak dari tempatnya dan berniat untuk menerima serangan dari pria ini, saat ini ia mengerti dengan jelas dibalik tindakan Yizi saat ini, tidak terpikirkan oleh sang ksatria suci ini untuk lebih jauh lagi menyakiti orang yang tengah menyerangnya saat ini.
Tak berselang lama serangan Yizi mengenai wajah Arthur, ia dapat merasakan tinju kuat dari pria ini di pipinya, hanya terasa sedikit sakit dan serangan itu hanya menabraknya saja tidak mampu untuk merobohkannya.
"Arthur! Beraninya kau membunuh sahabatku sendiri! Aku kemari mencarimu dan aku tahu kau akan terus memburuku berserta dengan kelompokku saat ini! Namun apa peduliku!? Kau ... kau hanyalah orang berdarah dingin yang hendak menghancurkan kehidupan orang-orang dengan tindakanmu itu! Kau itu tidak lebih dari seorang yang jahat!"
Setelah berkata begitu Yizi melanjutkan dengan menyerang menggunakan tangan kosong nan kokoh miliknya itu, ia meninju setiap bagian dan badan dari ksatria suci ini, dan Arthur lagi-lagi diam saja tanpa melakukan apapun saat ini.
Beberapa serangan yang tidak lebih kuat ini tidak serta merta membuat Arthur mampu menahan setiap gempuran yang dilakukan oleh Yizi ini, perlahan namun pasti karena banyaknya serangan dan tidak lupa juga tendangan yang mengarah langsung pada badannya pada satu waktu ia akhirnya roboh juga ke tanah.
Para pria besar heran akan tingkah ksatria suci yang sedang mereka lihat itu, ia terlihat berbeda dan sama sekali tidak terlihat ambisi kuat seperti yang mereka lihat kemarin.
Yizi saat ini berada di atas tubuh Arthur, ia belum sadar dengan perubahan pemikiran Arthur saat ini; ia hanya berpikir bahwa saat ini ia harus memberi pelajaran serius yang tidak terlupakan bagi seseorang yang telah merebut hal berharga yang ia punya itu.
Beberapa saat berlalu, meskipun Arthur terkenal kuat namun ia bukannya jadi tidak terkalahkan tanpa terluka sedikitpun, ia masih saja manusia biasa yang hanya dianugerahi kekuatan luar biasa; perlahan akibat dari pukulan-pukulan yang ditujukan pada wajahnya itu membuat area sekitar matanya menjadi biru dan perlahan darah mulai keluar dari batang hidungnya.
Pukulan tangannya itu memang tidak terlalu kuat dibanding dengan yang kemarin, namun dengan keadaanku yang mau berbicara dengannya, aku sama sekali tidak berniat untuk menggunakan sihir ataupun teknik pelindung diri yang lain.
Biarlah aku menerima setiap serangannya itu dengan tubuhku sendiri, entah seberapa banyak rasa sakit yang kuterima tidak akan pernah bisa untuk menggambarkan rasa sakit yang dialami olehnya.
Aku sangat berhak menerima perlakuan seperti ini darinya, bahkan mungkin lebih dari itu, hanya saja kuharap ia masih bisa tenang dan memberikanku kesempatan untuk berbicara dengannya ....
Ketika menerima serangan bertubi-tubi itu, setiap pukulan yang diarahkan padanya itu membuat Arthur teringat akan potongan-potongan kejadian memilukan bagi setiap orang yang ia perlakukan tidak adil.
Rasa sakit yang ia rasa saat ini tidak akan pernah bisa menggambarkan rasa sakit orang-orang yang telah ia perlakukan dengan semena-mena; yang memang sudah ia lakukan beberapa tahun terakhir, dengan mengingatnya saat ini hati Arthur merasakan sakit juga akhirnya.
Melihat Arthur yang terlihat masih berdaya dan tidak mau membalas balik serangannya itu tidak membuat Yizi berhenti, tangannya itu terus dan terus memukul tanpa henti bahkan ada sekitar satu jam ia terus melakukan ini, tanpa perlawanan apapun dari ksatria suci yang tengah ia serang itu; melihat hal ini para anggota Alliance Fight' saat ini tidak percaya dengan apa yang mereka lihat ini.
Setelah waktu satu jam itu, Yizi mulai kelelahan karena terus-terusan melakukan hal yang sama, yaitu memukul Arthur dengan seluruh kekuatan yang ia miliki saat ini.
"A-apa!? Kau menerima seranganku hanya ingin membuktikan bahwa aku ini lemah!? ... Kau mengasihani aku dan membiarkan aku memukulmu sepuasmu!? ... Me-ngapa kau ... tidak menuntaskan tujuanmu seperti malam tadi!?"
__ADS_1
Yizi terengah-engah ketika berkata seperti itu, kekuatannya untuk berbicara seakan terpakai habis karena ia terus menyerang menggunakan tenaganya tanpa henti itu.
Kondisi Arthur saat ini terlihat makin buruk dari sebelumnya, efek pukulan dari Yizi yang terus menerus menggempurnya mengakibatkan wajah tampannya itu penuh dengan lebam dan darah, darah yang perlahan mengalir dari kedua lubang hidungnya dan tidak lupa pula pada bagian mulutnya.
Yizi salah menduga dengan mengira Arthur akan tetap memberantas kelompoknya itu, ia berpikir sang ksatria suci hanyalah mengejeknya karena sama sekali tidak membalas apa yang ia lakukan itu.
Ia memutuskan untuk mencari Arthur karena memang ia ingin untuk menemuinya tidak peduli apapun yang terjadi toh lagipula ia hampir mati malam tadi, ia saat ini lebih tepatnya ingin menyelesaikan apa yang ia mulai malam tadi, menantang ksatria suci Arthur karena kemarahannya itu tanpa mempedulikan risikonya.
Setelah melihat Yizi yang terengah-engah karena capek melakukan serangan itu, Arthur menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengannya.
"Y-Yi ... zi ...."
Yizi masih dalam nafasnya yang tidak beraturan itu melihat Arthur yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu padanya.
Namun bukannya perkataan yang keluar dari mulutnya, Arthur batuk darah dalam keadaannya yang tengah terlentang itu ia tidak mampu menyembunyikan seberapa besar efek yang ia terima dari serangan bertubi-tubi Yizi tadi.
Yizi yang melihat hal ini tidak menyangka ia akan melihat kondisi Arthur yang terlihat tidak berdaya ini, ia merasa heran mengapa sang ksatria suci ini sama sekali tidak melakukan apapun untuk menyerangnya kembali atau bahkan melindungi dirinya sendiri?
Setelah batuk darahnya itu, Arthur berusaha untuk mengatur pernafasannya agar ia mampu untuk berbicara dengan jelas nantinya; ia memang mengabaikan betapa kuatnya serangan Yizi padanya sepanjang satu jam itu, namun saat ini Arthur tidak mampu mengabaikan dampak dari serangan Yizi pada tubuhnya itu.
Arthir merasa sedikit sulit untuk bernafas, ia rasanya ingin mengeluarkan apa yang tertahan di badannya saat ini, ia ingin muntah; namun ia berusaha untuk menahannya- tidak ada alasan ia melakukan hal ini, hanya ingin terlihat kuat namun sebenarnya ia sudah hancur dari dalam.
Yizi akhirnya tersadar; karena tersulut kemarahan ia sama sekali tidak memperhatikan Arthur yang ia serang habis-habisan tadi, ia hanya peduli tentang bagaimana caranya meluapkan isi hatinya saat ini, yaitu membalas seseorang yang telah berlaku kejam pada kehidupannya dan ingin agar dia merasakan akibat dari perbuatannya itu.
Yizi tidak menyangka Arthur akan dengan terbukanya menerima siksaan yang ia lakukan itu, Arthur yang saat ini ia lihat tidak berdaya dan bahkan untuk berbicara pun sudah sulit dilakukannya, mukanya lebam membiru dan sebelah matanya membengkak jadi besar; air mukanya terlihat pasrah dan nampak hendak membiarkan dirinya seperti itu saja.
"Ada apa ini? Mengapa kau seperti ini? Bukankah kau ingin membunuhku? Mengapa kau tidak menyelesaikan tujuanmu saat ini!?"
Arthur sudah menduga bahwa memang akan terjadi seperti ini, ia belum bisa menunjukkan keberubahan sifatnya itu hanya dengan satu kali pertemuan dengan kelompok ini saja; ia akhirnya mengerti betapa berharganya setiap orang yang berada di kelompok ini, dan merasa menyesal karena ia telah membunuh sebagian besar anggota kelompok ini.
"Y-Yizi ... a-aku ... ingin ber-bicara denganmu ...." Arthur harus susah payah mengucapkan kalimat sesingkat itu, ditambah lagi suaranya berat terdengar seperti tenaganya memang sudah habis untuk saat ini.
Arthur memegang sebelah tangan Yizi yang sudah berlumuran darahnya akibat serangan bertubi-tubi itu. "A-aku ... ingin berbicara denganmu ...."
Untuk kedua kalinya Yizi mendengar hal yang sama dari sang ksatria suci ini, ia tidak mengerti dengan sikapnya ini, namun akhirnya ia bisa melihat kesungguhan Arthur yang merelakan ia diperlakukan seperti apapun bahkan separah tindakannya tadi, mungkinkah ada sesuatu yang lebih penting dari mencabut nyawanya saat ini?
Yizi memang memutuskan untuk mencari Arthur, namun sebelumnya ia ditentang oleh para pria besar karena memang mereka sudah berhasil bersembunyi dari bahaya dan mengapakah harus menghampiri bahaya lagi?
Yizi berpikir mungkin inilah akhir kelompoknya itu, ia sudah tidak peduli lagi dan mengabaikan ketakutannya pada Arthur hingga mencarinya dan jika memang ia harus mati ditangan sang ksatria ini setidaknya ia memberikan sedikit perlawanan yang berarti.
Namun yang ia lihat saat ini jauh berbeda dari apa yang ia pikirkan sebelumnya, ia melihat Arthur sikapnya berubah drastis; bahkan sama sekali tidak melakukan apapun yang ia pikir akan terjadi.
Bukannya Arthur yang mengakhiri hidup kelompok mereka di sini, malah saat ini Yizi memojokkannya dan bahkan melukainya dengan cukup parah.
__ADS_1
Apakah ada sesuatu di balik ini semua? Yizi belum mengerti akan perubahan Arthur yang mendadak ini; saat ini untuk mengetahuinya ia hanya perlu berbicara dengannya.
"Apakah ada yang perlu dibicarakan!?"