Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 484: Melupakan Masa Lalu


__ADS_3

“Buktikan kalau kau bukan musuh.” Worther menatap tajam pada makhluk hitam yang sedang berdiri tak jauh itu. Sebelumnya ia dan rekannya sudah berbincang sedikit dengannya.


“Ah, apa lagi ya?” Makhluk hitam itu terdengar bingung soal apa lagi yang akan dikatakannya demi meyakinkan para ksatria suci ini


‘Sialan Danny dia meninggalkanku begitu saja.’ Raven mengumpat dalam hatinya, memang sih ada bagusnya pemuda itu percaya diri dan melawan iblis seorang diri, tapi dia tidak meninggalkan solusi apapun baginya.


‘Tidak lucu jika aku mati di sini.’ Raven tahu rencananya ini sudah berantakan benar, jauh sekali dari apa yang ia pikirkan sebelumnya.


Dan sekarang Danny meninggalkannya dengan para ksatria suci, tidak ada cukup waktu untuk meyakinkan mereka soal siapa dirinya.


Yang mereka tahu tentangnya adalah seorang makhluk hitam yang memimpin organisasi ilegal, tidak lebih dari sekedar orang jahat di mata mereka.


Sepatah kata dari Danny dari pertemuan awal tidak membantu sama sekali.


“Kemana rasa percaya dirimu tadi?” Arthur terlihat penasaran melihat perubahan sifat drastis dari makhluk hitam itu.


Yang pada awalnya dia terlihat siap untuk bertarung demi apa yang dipercayainya, namun kini malah terlihat tidak percaya diri.


“Ah.” Raven tersadar seketika itu juga.


‘Tidak mungkin aku berkata karena ada Danny.’ Raven begitu percaya diri karena ada Danny di pihaknya, jadi ia punya rekan yang bisa diandalkan ketika situasi jadi runyam, dan sekarang ia hanya sendirian saja di sini.


Mana mungkin melanjutkan aktingnya dan tetap bertingkah kuat, sementara ada empat orang ksatria suci yang siap menggempurnya kapan pun?


Jikalau skenario terburuknya terjadi, maka setidaknya Raven bisa mengandalkan kekuatan aneh pemuda itu untuk meyakinkan para ksatria suci itu agar mau mengerti maksudnya.


Yang pada akhirnya iblis datang dan situasi makin tidak terkendali saja. Dan asal kalian tahu, Raven sebenarnya sudah punya firasat akan kehadiran iblis di tempat ini.


Apa lagi yang lebih keren saat seseorang bersikap sok kuat dan orang lain percaya? Raven sadar berlaku seperti ini percuma saja pada para ksatria suci.


Terlebih lagi sekarang ia hanya sendiri dan meyakinkan mereka tidak akan jadi lebih mudah, malahan situasi terasa semakin dingin.

__ADS_1


“Kalian boleh berpikir apapun tentangku, tapi aku akan menunggu Danny.” Raven mengutarakan maksud dan tujuannya, ia tidak mau menghabiskan energi hanya untuk meyakinkan sekumpulan orang yang enggan mendengarkannya.


Arthur terdiam, ia tidak merasakan bahaya dari makhluk hitam itu, malahan dari tingkah lakunya ia memang berpihak pada Danny.


“Kau tidak bisa membuktikannya, huh?” Worther mengangkat kapaknya, dan seketika itu juga Arthur mengangkat tangannya, mencegah rekannya berjalan.


“Hm? Aku akan menyingkirkan makhluk aneh itu.” Worther memperjelas apa yang akan dilakukannya, ia tidak melihat alasan mengapa makhluk hitam itu ada di sini. Mengingat dia adalah buronan maka inilah kesempatannya untuk menunaikan tugasnya sebagai ksatria suci.


‘Tidak masalah jika hanya dia.’ Raven berusaha tidak terancam, rasa percaya dirinya belum sepenuhnya menghilang, meladeni satu ksatria suci bukanlah hal yang terlalu berat.


Namun tidak mungkin juga hanya pria pembawa kapak itu yang akan bertarung dengannya, faktanya ia tetap saja harus menghadapi para ksatria suci itu secara keseluruhan.


Katakan saja ia berhasil mengalahkan Worther, namun apakah rekan-rekannya akan membiarkannya? Tentu saja tidak bukan?


“Tunggu dulu.” Arthur menatap rekannya dengan serius, dan seketika itu juga Worther mengurungkan niatnya dan kembali menyarungkan kapaknya.


“....” Raven menjaga ekspektasinya, ia tidak tahu mengapa ada perubahan air muka Arthur ketika menatapnya.


Bukankah dia masih menganggapnya musuh, buronan, dan yang harus ditangkap? Mengapa malah melarang rekannya melakukan tujuan itu?


Yang tentu saja masuk akal berpikiran seperti itu. Jika saja makhluk hitam itu masih berlaku jahat sama seperti dulu, dia pasti segan bertemu dengan penegak keadilan seperti para ksatria suci ini.


Seperti menggali lubang kuburnya sendiri. Jika dia masih menggeluti dunia lamanya, maka yang paling masuk akal tentunya adalah menghindari mereka bukan?


“K- kau percaya?” Raven tidak menyangka Arthur mengubah pikirannya seperti ini, apakah kepalanya sudah sadar ketika bertarung dengan Danny sebelumnya?


Tentunya ini adalah hal yang bagus, mengingat Raven tidak berencana dikeroyok dan dihakimi oleh para ksatria suci ini.


“Darimana kami tahu kau tidak beroperasi lagi?” Worther belum selesai dengan rasa penasarannya mengenai makhluk hitam ini.


“Sudah dibubarkan, kau sendiri yang jadi saksinya.” Raven tidak sulit menjawab pertanyaan itu. Sejak terakhir kali ia beroperasi memang ketika organisasinya dibubarkan oleh Arthur.

__ADS_1


Worther terdiam, ia mengerti dengan jawaban makhluk hitam itu, mengingat memang ia sendiri juga tahu keadaan dahulu seperti apa.


Yang jadi maksudnya sebenarnya adalah memastikan makhluk hitam itu tidak lagi memulai organisasi aneh pasca dibubarkan, yang jawabannya sudah ia dengar tadi.


‘Kerja bagus Danny, aku tidak jadi mendahuluimu di sini.’ Raven bisa bernafas lega sekarang, ia tidak menyangka pemuda itu cukup handal membuat orang lain yakin padanya.


Terlepas dari bagaimana kokohnya pendirian Arthur dan kawan-kawan, namun ternyata masih ada jalan agar mereka bisa menilai sesuatu dari sisi lain.


‘Jadi sekarang apa?’ Raven tidak terpikir apapun, rasanya aneh juga ditatap oleh keempat ksatria suci.


“Kalian lapar?” Raven pikir pertanyaan sederhana ini cukup untuk mengusir rasa canggung.


“....” Dan tidak ada yang meresponnya kecuali dengan tatapan heran dari keempat ksatria suci itu.


‘Ah, sial jadi makin parah.” Raven tipe orang yang tidak suka dengan kecanggungan tingkat tinggi seperti ini, namun apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur.


Pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan selain melihat padang gurun yang luas dan sudah hancur dibeberapa bagian. Sedang para ksatria suci sedang berkumpul satu sama lain, berbincang.


‘Mereka enak, sedangkan aku?’ Raven sadar, sedari tadi ia hanya bicara dengan batinnya sendiri saja, rasanya punya teman bicara asli lebih baik dibanding harus mengobrol dengan dirinya sendiri.


‘Ah masa bodoh. Aku tidak punya waktu dengan obrolan sampah, aku harus melihat situasi dan berjaga.’ Pada akhirnya untuk menutupi perasaannya ini, makhluk hitam itu duduk di atas pasir, berdiri lama-lama pegal juga ternyata.


Bersantai di sini sedang seorang yang bekerja sama dengannya sedang berjuang membuatnya tidak enak, tapi apa boleh buat? Apalagi yang bisa ia lakukan?


‘Aku tidak merasakan hawa kekuatan Danny dan iblis itu di mana pun. Pasti dia mengunakan teknik aneh.’ Raven mengerahkan inderanya untuk mengecek keberadaan Danny, namun pada akhirnya tidak membuahkan hasil.


“!”


“Hei, kalian merasakannya?” Raven berdiri, instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang muncul di sini.


Arthur dan lainnya mendekatinya, mereka tidak terlihat sadar dengan apa yang dirasakan olehnya.

__ADS_1


SRING!


Seketika itu juga cahaya ungu menyilaukan tiba-tiba muncul.


__ADS_2