
Vincent sudah mendekati dengan jarak yang sekiranya aman menurut perkiraannya, entah mengapa instingnya berkata bahwa ia harus mendekat ke arah cairan lava ini, dan dengan tanpa ragu dan berpikir panjang Vincent memilih untuk menuruti instingnya itu.
Pastinya si iblis itu bertanya-tanya mengapa aku mendekati cairan lava ini bukan? Hih, seharusnya dia penasaran akan apa yang sedang kulakukan ini.
Insting, itulah yang seringkali Vincent andalkan ketika berada dalam suatu keadaan, terutama ketika berada dalam keadaan bahaya dan sulit, terkadang hal itu muncul pada pikirannya dan pada saat itu juga ia tidak ragu untuk melakukannya.
Vincent sudah menyerah akan bagaimana bisa dia memandang musuh yang bisa berada di mana saja dengan pandangan yang kabur itu, begitupula dengan mendengar apa yang akan dikatakan iblis itu, dua hal yang ia perlukan untuk melindungi nyawanya ini sudah tidak bisa lagi diandalkannya, dan pula tidak ada harapan dengan berusaha untuk merasakan aura jahat dari iblis itu.
Apa yang dilakukannya dengan mendekati sesuatu yang berbahaya, cairan lava itu yang ia lihat di masa depan akan mengakhiri nyawanya sendiri itu?
Vincent memang jelas-jelas mendekati 'sesuatu' yang di masa depan memang mengakhirinya itu, dan sebenarnya instingnya itulah yang menyuruhnya untuk mendekati cairan berbahaya itu.
Apakah instingnya itu berhubungan dengan kemampuannya Prediction Master? Entahlah, bahkan Vincent sendiri tidak mengetahui akan hal ini, namun ia sendiri tahu dan mengenal serta percaya pada instingnya itu.
Perasaan ini sama ketika aku berada di hutan yang di mana aku merasakan adanya hal yang tidak beres ketika tiba-tiba ada rumah yang ditemui di tengah hutan, dan Danny telah menceritakan bahwa memang rumah itu ada penunggunya, beberapa perasaan ini juga sering muncul ketika aku berada di penjara dulu.
Kini aku merasakan hal yang sama, aku merasa harus mendekati cairan lava ini, tidak tahu apa alasanku melakukan ini, tapi aku rasa harus melakukan ini meskipun tidak tahu apapun.
Ini berarti insting Vincent hanya menyuruhnya untuk mendekati cairan lava itu sama sekali tanpa alasan.
Aku pikir apakah aku dituntun oleh instingku untuk berada lebih dekat dengan cairan lava di mana aku berakhir di atasnya?
Vincent berpikir bahwa karena instingnya menyuruhnya untuk mendekati cairan lava, itu pasti ada hubungannya dengan apa yang telah dilihatnya sebelumnya, kenyataan bahwa ia harus berakhir di atas cairan panas itu.
Astaga ... di saat seperti ini aku malah memikirkan hal yang paling bisa terjadi.
__ADS_1
Tidak disangka olehnya ketika memikirkan hal ini, ia berhasil menemukan alasan yang termungkin untuk bisa terjadi saat ini, mungkinkah instingnya itu adalah perintah terakhirnya untuk membuat kejadian terakhir yang dilihat di masa depannya itu lebih mudah terjadi?
Alasan yang tiba-tiba terpikir oleh Vincent ini memang terlihat mengerikan, dan terkesan bisa saja terjadi di beberapa waktu ke depan, namun pada akhirnya pria berambut sebahu itu memang sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi melawan iblis perempuan yang tentunya akan merencanakan sesuatu itu.
Yah, meskipun aku sudah bisa menduga apa yang akan terjadi, setidaknya aku berhasil membuat iblis ini sibuk untuk waktu yang tidak singkat.
Vincent berusaha memikirkan apa yang patut untuk diapresiasi yang dilakukannya selama ini, mulai dari dirinya harus tidak sengaja bertemu dengan iblis yang ternyata sudah mengintai dari tadi.
Meskipun ia tahu kekuatan dan tekad yang didapatnya dari kemampuannya itu telah redup, namun ia tetap memaksakan diri untuk berpikir yang baik mengenai apa yang telah terjadi padanya saat ini.
Hal positif yang bisa diambil adalah bahwa iblis itu tidak bisa benar-benar menjalankan misinya dengan mulus, Vincent tahu keberadaannya sebagai penghalangnya merupakan hal yang bagus untuk terjadi.
Malahan Vincent merasa bangga bisa sedikit menghambat iblis jahat itu, dengan begitu Danny dan yang lain mungkin saja bisa tahu akan keanehan yang terjadi ketika kenyataan yang dilihatnya, yaitu kejadian setelah ini terjadi, di mana ia harus tumbang melawan iblis bernama Tifee ini.
Vincent memang telah lolos dari maut sebelumnya karena bantuan dari Patricia, namun untuk saat ini ia melihat tidak ada satu pun yang bisa membantunya, yang memang sudah disadarinya sejak awal bertemu dengan iblis ini.
Mungkin setelah ini semuanya akan berakhir tanpa kusadari, kuharap si Brock itu tidak mengejekku karena cepat sekali aku mengakhiri perjalanan bersama dengan Danny dan yang lainnya.
Padahal aku ingin lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersama dengan mereka, namun sepertinya takdir yang ada untukku ini tidak mengizinkannya ya?
Vincent memikirkan banyak hal di saat-saat momen terakhirnya akan terjadi itu, tidak ada yang disesalinya karena ia sudah berjuang semampunya untuk membuat iblis ini kerepotan dan tidak lagi seenaknya memat-matai perjalanan mereka.
Aku pasti akan merindukan kalian semua ....
Air mata jatuh dari pelupuk matanya, dalam hatinya yang terdalam ia merasa sangat lega dan bangga dengan apa yang telah diperjuangkannya saat ini, ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri untuk bertahan hidup melainkan ia mempedulikan juga teman-temannya yang berada jauh saat ini dengannya.
__ADS_1
Air mata ini tidak disadari Vincent, ia sudah tahu bagaimana akhir dari hidupnya dan tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hatinya, ia rela apa yang akan terjadi setelah ini karena memang ia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Hatinya tidak terasa sesak ataupun sakit yang memang adalah alasan kebanyakan orang karena menangis, ia sedih namun tidak sesedih itu sampai-sampai ia mengeluarkan air matanya, hanya saja ia merasa lega dan senang karena tidak segan-segan mengeluarkan apa yang ia bisa untuk melawan si iblis jahat ini.
Jadinya air mata yang keluar dari pelupuk matanya bukanlah air mata kesedihan melainkan kebanggaan karena ia bisa membela diri dan teman-temannya sampai sejauh ini.
Ia sudah melupakan rasa putus asa yang dirasakannya sebelumnya, kini yang tersisa hanyalah apresiasi yang diberikan oleh dirinya sendiri di tengah situasi yang semakin sulit ini.
Melihat pria berambut sebahu itu mengeluarkan air mata membuat Tifee semakin yakin dengan apa yang diduganya sebelumnya, kemungkinan besar ia sudah melihat masa depan yang terjadi dan kini ia menerimanya sebagai bukti bahwa ia akan kalah darinya.
"Kemenangan ini, tidak terelakkan." Tifee melihat kedua tangannya itu, kini kedua lengannya itu hampir menjadi abu, percikan api serangan manusia itu sudah sampai di sikunya dan tidak lama lagi ia bisa kehilangan kedua tangannya.
Di saat itulah ia tahu ia harus segera mengakhiri manusia yang telah membuatnya repot itu karena dengan begitu ia bisa kembali memulihkan lengannya dengan bantuan iblis lain dan bisa kembali memata-matai seorang manusia yang memiliki kekuatan suci itu.
"Aku akan mendorongnya menggunakan tubuhku, biarlah dia berendam di cairan lava panas itu." Tifee tidak banyak berbicara lagi berjalan dan semakin cepat ia berlari ke arah Vincent yang membelakangi cairan lava itu yang juga tengah mengeluarkan air mata di sana.
"Terbakarlah dan jadilah abu!" Tifee melesat dengan cepat mengarahkan tubuhnya sendiri untuk mendorong Vincent ke arah cairan lava yang panas dibelakangnya itu, karena sebagian besar kedua lengannya sudah menjadi abu maka ia hanya bisa menggunakan tubuhnya untuk mendorong manusia itu; rencananya ini sangat sempurna karena dengan sedikit dorongan saja ia sudah bisa mengakhiri hidup dari seorang pria berambut sebahu yang merepotkannya ini.
Aaah, lelah ... aku tidak bisa berdiri lebih lama lagi ....
Pada akhirnya aku ... tidak bisa melihat ... bagaimana semua ini berakhir ....
Bruk.
"Apaaaa?!"
__ADS_1