
BUAGH!
"!"
Hempasan kuat datang menyerbu Hendrik secara tiba-tiba, padahal serangannya sama sekali belum mendarat di tubuh Brock. Ia terlempar kebelakang namun berhasil mendarat dengan mengelakkan tubuhnya memutar.
"..."
Hempasan itu terasa seperti besi berat yang menimpa kedua pergelangan tangannya, ia merasa tidak baik-baik saja. Untungnya ia memakai teknik pertahanan yang ia ciptakan sendiri, ia sudah memakai teknik ini sejak sebelum bertarung dengan Brock.
Teknik yang ia pakai bukanlah teknik sembarangan, ia menyempurnakan kemampuan bertahannya itu selama bertahun-tahun, dilihat dari luar ia nampak tidak menggunakan teknik apapun, namun sebenarnya disekujur tubunnya terdapat perisai pertahanan yang amat tipis yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Hendrik tahu bahwa bahwa ia tidak hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya saja, namun juga dengan kemampuan sihirnya juga. Teknik pertahanan yang ia ciptakan itu bernama ""All Defense"", dengan kemampuan itu ia mampu menahan kekuatan fisik maupun sihir dengan total dengan syarat kekuatan yang diterimanya itu tidak melebihi 50% dari kekuatannya sendiri. Ya, inilah teknik yang diciptakan Hendrik.
"Huh? Kau tidak terluka?"
Pemuda itu mulai kembali menegapkan badannya.
__ADS_1
"Sudah kubilang kan? Kau tak perlu menahan dirimu lagi Brock" Perkataan Hendrik seakan memancing Brock agar ia menggunakan seluruh kekuatannya. Hendrik sadar jika ia tidak memancing sahabatnya itu, ia tidak akan punya kesempatan menang, bahkan saat ini juga ia sudah terdesak dengan kekuatan Pria besar itu.
"Yah bila kau ingin begitu, aku anggap ini permintaan terakhirmu, kuharap kau tidak menyesal" Senyum meremehkan dari Brock perlahan sirna, kini ia memasang ekspresi serius, dan kini ia tidak akan menahan diri lagi.
DUAR!
Ledakan energi besar menghempaskan seluruh debu yang ada di arena besar itu, dan perlahan juga permukaan tanah yang mereka pijakipun tidak kuat menahan begitu besarnya energi yang telah terpancar dari Brock. Perlahan tanahpun mulau retak sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya permukaan tanahpun mulai tidak beraturan.
Hendrik melihat seorang Pria besar yang dilingkupi oleh cahaya energi berwarna merah, nyalanya benar-benar membawa atmosfir yang baru seakan sudah tidak ada lagi yang menahannya. Mungkin inilah saatnya ia mengamuk.
Perasaan yang bercampur aduk mulai terombang-ambing dalam diri Hendrik, disamping ia tidak melihat kemungkinan menang, laripun tiada gunanya.
"Mungkin aku hanya punya waktu 30 menit untuk bertahan, itupun jika aku menggunakan seluruh kekuatanku. Skenario terburuknya aku tidak bisa bertahan lebih dari 10 menit."
"Oh, Begitukah caramu bertahan? pertahananmu itu hanya setipis kertas bagiku."
__ADS_1
"?!"
"Ia bisa melihatnya?!" Ia yakin bahwa itu karena Brock telah menggunakan seluruh kekuatannya.
Lagi-lagi serangan mendadak dan kecepatan Brock tidak dapat Hendrik ikuti dan bahkan jauh lebih cepat dari sebelumnya. Tak dapat terelakkan Hendrik hanya bisa menyilangkan kedua tangannya untuk menahan begitu kuatnya serangan tangan dari Brock.
Rasa sakit mulai terasa pada kedua tangannya lagi-lagi serangan Brock mengundang aura fisik yang dahsyat, menciptakan angin yang kuat. Hendrik hanya bisa merasakan kekuatan pertahanannya mulai memudar begitupula dengan harapannya untuk bisa menghentikan Hendrik.
DUAR!
Terlihat kepulan asap menyelimuti seluruh arena pertarungan itu, perlahan namun pasti terlihat dua orang pemuda yang tengah berdiri, Hendrik tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya menyisakan kenyataan bahwa ia seharusnya sudah terpental jauh karena serangan kuat Brock.
Kini di sekujur tubuh Hendrik muncul aura merah yang perlahan muncul, tidak bisa dipastikan apakah Ia punya teknik yang lain namun kenyataan terburuknya Brock menambah kekuatan serangannya, ledakan kembali terjadi dan kini Hendrik benar-benar terlempar kesisi arena pertarungan yang retak karena hempasannya itu.
Namun yang Brock lihat ialah seorang pemuda yang terpaku di sisi dinding yang retak dengan senyuman puas yang menginginkan lebih.
__ADS_1