
Danny mulai gusar karena tidak bisa melihat pertandingan antar Hendrik dan Brock, lagipula ia juga tidak yakin Hendrik akan memperbolehkannya untuk ikut dengannya karena ini adalah urusan mereka berdua. Namun tetap saja Danny merasa khawatir Brock akan bertindak gegabah terhadap Hendrik.
"Apa yang harus kulakukan?"
"...."
Danny mulai berpikir tentang langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya, disisi ia ingin melihat dan mengawasi Hendrik namun disisi lain Hendrik mungkin tidak akan menyukai tindakan Danny.
"...."
".... Aku harus segera ke gedung pertarungan itu!"
Danny mulai beranjak keluar rumah setelah ia memakai baju dan perlengkapannya kembali, sayangnya ia tidak menanyakan persis dimana gedung pertarungan itu berada, ia hanya mengetahui gedung itu ada di pinggir selatan kota itu.
Danny sedikit menggebrak pintu karena saking buru-burunya, ia segera menuju bagian selatan kota itu, keadaan kota itu nampak telah kembali seperti semula, ramai dan cuaca di sekitarnya cukup cerah namun tidak sesibuk biasanya.
Ia terpaksa harus menubruk beberapa orang yang menghalangi jalannya, beberapa orang besar terlihat marah karenanya, namun Danny hanya tersenyum dan minta maaf kemudian kembali berlari.
"Semoga aku masih sempat!"
***
1 Jam Sebelumnya
Di Arena Pertarungan Kota Willhem*
__ADS_1
Aura kekuatan Brock meluap-meluap, ia sampai bisa merasakan kekuatannya dari 500 meter jauhnya sebelum ia sampai ke area pertarungan itu.
Sesampainya di sana, Hendrik berjalan memasuki tempat besar itu, dilihatnya tidak ada siapapun di sana kecuali pria besar yang menunggunya diujung sisi lain arena pertarungan itu.
Ia melihat pria besar itu sudah sangat siap, raut mukanya seakan menatapnya dengan penuh haus akan pertarungan yang sudah lama ia inginkan.
"Hmrph!"
Desahan pria itu sungguh berat. Ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.
"Kau terlambat... 30 detik..."
Hendrik tersenyum mendengar perkataan Brock.
"Kau disiplin juga ya Brock..."
"Aku hanya ingin sedikit menikmati cuaca cerah ini Brock, Lihat seharusnya kau juga bisa sedikit menikmatinya juga..." Balas Hendrik
"Satu-satunya hal yang menarik hatiku adalah bertarung denganmu Hendrik..."
"Inilah pertama kali kita bertarung..."
Hendrik sedikit tersenyum,
"Kau mau menyelesaikan ini sebagai apa?"
"Jika kau bisa memuaskan ku, maka kau akan kuakui sebagai sahabatku, He-he-he"
__ADS_1
Hendrik mulai merasakan nostalgia ketika mendengar perkataan sahabatnya itu, bersamaan dengan itu ia juga merasa sedih mungkin rasa kepuasan Brock tidak akan terpuaskan bahkan ketika dirinya sudah tidak ada di dunia ini.
Ia tahu ini akan menjadi pertarungan terakhirnya, ia ingin sedikit bercanda sebelum ia harus bertarung. Melihat kesiapan Brock begitu pula dengan dirinya.
"Apalagi yang kau tunggu Brock?"
"Kukira kau akan menyerangku lebih dulu..."
"Kali ini untuk mempermudahmu kekuatanku kuturunkan 100 kali lipat dari biasanya..."
"...."
"Kita akan lihat apa kau bisa mengalahkanku..."
"Aku berterimakasih padamu Brock, namun kau tidak perlu memberikan perlakuan spesial itu bagiku..."
Brock yang kekuatannya telah ditekan 100 kali lebih kecil dari biasanyapun, kekuatannya begitu mengerikan, Dalam pikiran Hendrik berkecamuk pikiran-pikiran negatif, namun ia berusaha untuk mengusir pikiran itu.
Perawakan Brock memang terlihat sangat sederhana, hanya penampilan fisiknya yang membuatnya terlihat sedikit menakutkan bagi orang biasa, celana pendek coklat yang compang-camping tidak ia permasalahkan, sebaliknya penampilan Hendrik begitu ciamik dengan kemeja coklat dan celana panjang coklat.
HUSSSH!!
Hendrik berlari dengan sangat cepat mengebaskan debu yang ada dibelakangnya, menghampiri Brock yang tersenyum mengerikan.
Brock bergumam
"Kau..."
__ADS_1
"Masih terlalu lemah..."