Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 557: Kalau Begitu


__ADS_3

‘Kalau begitu, mari kulihat sejauh mana kau berkembang putriku.’ Archifer sedikit tersenyum, kedatangan tiba-tiba putrinya tidaklah bisa diantisipasi.


‘!’ Sang raja iblis tersenyum, disanalah Raven tahu ada yang tak beres!


HUSH!


Dengan cepat ia mundur ke belakang, dan benar saja lagi-lagi ledakan energi gelap tercipta saat itu juga!


HUSSSH!


‘WA!’ Saking kencangnya sampai membuat Raven hampir jatuh ke lava panas!


‘Belum saatnya berendam air panas!’


BUM!


Raven mengarahkan energi gelapnya ke bawah, dan seketika itu juga ia terhempas ke atas, tak jadi masuk ke lava itu.


Menginjakkan kaki di sini saja sudah panas ekstrim apalagi nyebur ke lava. Raven suka tantangan, tapi tak segegabah itu juga!


Krt.


Pedang gelap yang dipegangnya hancur. Bahkan tak mampu bertahan lama ketika dibuat.


Padahal Raven mengeluarkan sebagian besar kekuatannya pada pedang yang diciptakannya itu.


HUSH!


‘Dia maju!’


Cepat sekali! Raven tidak bisa melihatnya!


Syut!


‘Dibelakang!?’ Raven menoleh dan benar saja, musuhnya dibelakang!


Kret.


BUAGH!


Dengan cepat Raven mengerahkan seluruh kekuatan gelapnya ke kepalanya!


Pukulan telak diwajah diterimanya! Tak tanggung-tanggung, dia terhempas jauh sekali!


‘Si- al!’ Seluruh tubuhnya rasanya kaku. Ini sama sekali tidak bagus!


“….” Archifer terdiam, kepalan tangannya keluar asap. Ia tak tega meninju wajah cantik putrinya. Tapi itu harus dilakukan agar dia sadar.


Ia berusaha menahan dirinya agar tidak mengeluarkan sepenuh tenaganya, mengingat satu pukulan biasa darinya dapat dengan mudah menghancurkan apapun.


Patut diakui putrinya sudah jauh lebih kuat. Dia tidak berakhir meski menerima pukulan setengah serius darinya.

__ADS_1


Tapi untuk selanjutnya ia tidak bisa menjamin akan menahan diri lagi….


“E- Energi Gelap: Dinding Gelap!”


SYUT!


BRAGH!


“UUGH!” Tabrakan pun tak terhindarkan, bahkan dinding gelapnya retak dan hancur! Ia masih terhempas juga!


‘Ke- kenapa dia kuat sekali!?’ Raven protes, ia tak menyangka pukulan biasa begitu merepotkannya sampai seperti ini.


“E-energi Gelap: Dinding Gelap 2x!”


SYUT!


SYUT!


BRAK!


BRAAAK!


“UFGHH!” Tubuhnya bergetar hebat. Dari mulutnya keluar darah, situasinya tidak bagus!


‘Be-berhasil?’ Kali ini Raven tertahan di dinding gelap ketiganya.


Krak!


“Haaah… haa….” Strategi yang buruk. Kalau tidak darurat, Raven anti sekali strategi begini.


Menghantam dinding kekuatannya sendiri, pengalaman yang tak bagus! Musuhnya memaksa dirinya melakukan ini!


Kalau tak dihentikan, mau sampai ke ujung dunia pun tidak akan berhenti.


Jadi ingat pengalaman tak menyenangkan terhempas oleh elf kuat sebelumnya.


SHH….


Kalau saja ia tak sempat memfokuskan kekuatannya, sudah pasti kepalanya dalam bahaya!


Raven mengelap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya, bertahan saja sudah menguras banyak energi begini.


Gadis serba hitam itu melihat ke sekitarnya, pemandangannya masih sama. Area lava mengerikan yang tak berujung.


Dan sekarang musuhnya di mana?


Saking jauhnya terhempas ia tidak melihat siapapun selain dirinya yang ditemani area lava panas diluar nalar.


Raven menutup matanya, berusaha tenang. Musuhnya bukanlah sembarang makhluk, dia bisa datang kapan saja, bahkan dibelakangnya sekalipun.


“Raven….”

__ADS_1


“!” Ada suara dibelakangnya!


HUSH!


Dengan cepat Raven berputar dan menyerang, namun tak ada siapapun di sana!


‘Ta- tadi ada suara….’ Tidak mungkin salah, bahkan ia merasakan hawa kehadiran musuhnya tadi!


‘Ini bukan ilusi, dia mempermainkanku.’ Raven melihat ke sekitarnya dengan tajam. Ia berupaya menguatkan aura kekuatannya.


HUSSSH!


Musuhnya bisa menyerang kapanpun. Ia tidak mungkin membiarkannya!


“Energi Gelap: Deteksi Gelap.”


ZZZUNG!


Seketika itu juga pandangan gadis ini berubah hitam putih, kali ini ia bisa merasakan jelas kekuatan lawannya itu.


‘Kekuatannya… di segala arah….’Dan teknik hebatnya pun sama sekali tidak membantu.


Kekuatan raja iblis terlalu besar, bahkan memenuhi area lava panas tak berujung. Rasanya dia sedang memperhatikannya dari segala arah.


Raven memegang kepalanya. Keputusan yang buruk, kini ia malah pusing karena tekniknya sendiri.


“….” Di sisi lain Archifer tahu putrinya sedang berusaha melacaknya, dan ia menunjukkan dirinya juga akhirnya.


‘Ber… hasil….’ Meski pusing, namun raja iblis itu akhirnya menampakkan dirinya!


“Kau sudah tambah kuat Raven.” Archifer tersenyum lembut.


Raven terdiam, ia tidak mau terpengaruh pujian musuhnya. Ia tidak boleh melonggarkan kewaspadaannya!


Kret.


‘Ngomong seenaknya saja.” Raven tertunduk, ia tidak senang dengan pujian yang didengarnya.


Tidak selalu pujian seseorang menyenangkan hati orang. Raven mendengarnya sebagai penghinaan yang dalam.


Hanya karena ia bisa bertahan dari serangan musuhnya dan ia dapat pujian? Itu tidak lebih dari sekedar ejekan!


“Archifer. Hentikan ini.” Raven menunjuk ke depan, sementara hidung dan mulutnya malah mengucurkan darah lagi.


Archifer terdiam, bukannya paham situasinya, putrinya itu malah tetap berikeras seperti itu.


“Kau menyakiti dirimu sendiri, anakku.” Dibanding serangan pukulan wajah. Yang paling melukainya sebenarnya adalah caranya bertahan.


Kenyataannya memang begitu, Raven berusaha keras menghentikan hempasan, sampai-sampai tidak sadar sudah menghabiskan banyak tenaga.


“Aku tidak perlu dikasihani!” Raven menatap tajam, ia ingin membuktikan dirinya sendiri.

__ADS_1


Archifer terdiam, perkataannya tidak mempan pada putrinya sendiri. Kalau begitu....


__ADS_2