
Hendrik mengiyakan perkataan Danny bahwa ia harus melawan sahabatnya sendiri agar Brock tidak melakukan hal yang semena-mena.
"Kau yakin akan hal ini Hendrik?"
"Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula aku lebih tahu Brock daripada siapapun, ia temanku sejak kecil..."
Danny tidak bisa menyangkal keputusan Hendrik yang akan menghentikan pria besar itu, karena ia peduli dengan keadaan kota dan sahabatnya sendiri.
Namun dilihat dari begitu kuatnya aura kekuatan Brock, terlihat Hendrik bukan apa-apa soal kekuatan dalam menghadapinya.
Danny sedikit khawatir dengan keputusan yang dibuat oleh Hendrik. Ia melihat beban yang terlihat sedikit meskipun telah disembunyikan dari wajah ramahnya itu, Danny bisa melihatnya.
"Kapan kalian akan bertarung?"
"Besok jam 8 pagi di gedung pertarungan di kota ini."
"Gedung pertarungan?"
"Semacam area bertarung terbuka yang luas, dimana sebuah area besar berbentuk bulat, setiap tahun selalu diadakan pertarungan disana."
"Namun tradisi tersebut tidak dilakukan lagi karena Brock tertarik untuk ikut, semua prajurit dan ksatria pun tidak ada yang berani menghadapinya. Oleh sebab itu kini gedung pertarungan itu kosong selama 10 tahun terakhir, namun meskipun begitu gedung tersebut masih layak untuk dipakai." jelas Hendrik
__ADS_1
"Dimana gedung itu berada?"
"Dekat rumah walikota, dipinggir selatan bagian kota."
"Mengapa kau ingin begitu tahu?" tanya Hendrik
"Ah, tidak- aku hanya ingin tahu saja.." Danny sebenarnya ingin agar ia bisa melihat pertarungan mereka berdua.
"Sekarang sudah mau menjelang malam, sebaiknya kau membersihkan dirimu, kau juga bisa mengganti pakaianmu, aku punya banyak pakaian di lemari.."
"Bolehkah?"
"Aku sebenarnya cukup tertarik dengan gaya baju yang unik, saking begitu banyak koleksiku, malahan ada yang tidak terpakai." ucap Hendrik sambil tertawa.
Danny segera pergi membersihkan dirinya di kamar mandi yang telah ditunjukkan oleh Hendrik, rumah Hendrik tidak cukup besar, namun indah dan elegan. Cat tembok yang cerah, dan berbagai barang koleksi seperti aksesoris senjata, baju, celana semuanya ia koleksi.
Setelah Danny membersihkan diri, Hendrik mengajaknya untuk makan malam bersama.
Suasana di ruang makan yang cukup tenang, atmosfir yang begitu damai.
Danny menyukai masakan yang dibuat oleh Hendrik, ia seperti merasakan masakan rumahan yang ia kenal, tidak begitu berlebihan namun cukup menjanjikan. Lauk dan nasi yang masuk ke dalam mulut Danny membuat energinya kembali terisi seperti semula.
__ADS_1
Tak terasa hari sudah larut, mereka berdua menghabiskan waktu dengan saling mengobrol, kemudian mereka pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Danny tertidur sangat pulas, tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat baginya. Ia sangat kelelahan karena perjalanannya itu. Waktu seakan tidak memberinya kesantaian berlebih.
"Uuuh..." Danny mulai membuka matanya yang sedikit lengket dari tidurnya itu, cahaya matahari menyinari dengan terang bagian kamarnya menembus gorden yang berwarna merah.
Danny merasa pegal pada setiap badannya, seakan tubuhnya tidak ingin ia bangun sekarang. Namun ketika ia hendak melanjutkan tidurnya yang enak itu, sekelebat ingatan muncul dikepalanya.
"Aku akan bertarung dengan Brock besok pagi..."
"!"
Danny segera beranjak dengan cepat dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar dan melihat sekelliling ruangan memanggil-manggil hendrik.
"Hendrik!'
"Hendrik!..."
"..."
Tidak ada jawaban dari seisi rumah itu.
__ADS_1
Ia melihat jam pada saat itu, ia melewatkan satu jam yang akan menentukan nasib Hendrik.
"Sial!"