Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 108 S2


__ADS_3

Mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing, hanya ada tiga kamar di dalam kapal ini. Mau tidak mau Anggi dan Vano berada dalam satu kamar. Vano merebahkan diri nya di atas kasur sambil memperhatikan Anggi yang sedang menyusun barang nya.


"Anggi, mendekat lah." panggil Vano.


"Ada apa ingat kita belum menikah jadi jangan berbuat aneh aneh." Anggi mendekati Vano.


"Hahaha kau selalu curiga pada ku. Kau bilang kita belum menikah berarti kita akan menikah. Kau sudah baper pada ku." ucap Vano.


"Vano jangan terlalu percaya diri, aku yakin kau yang baper pada ku." Anggi menjulurkan lidah nya.


"Hahaha aku tidak akan baper pada mu, lihat lah nanti pasti kau yang akan memaksa ku untuk menikahi mu." ucap Vano.


"Terserah mu, sudah lah aku malas berdebat dengan laki-laki seperti mu." Anggi berniat berdiri dari atas ranjang


"Bagaimana, apa kau ada tanda-tanda hamil." Vano menarik tangan Anggi sampai Anggi kembali duduk.


"Tidak ada, mana mungkin aku hamil. Kita hanya melakukan nya sekali." kata Anggi.


"Dengan durasi yang cukup lama." timpa Vano.


"Bagi mu lama, tapi bagi ku hanya sebentar." ujar Anggi.


"Kau menantang ku." tanya Vano.


"Kalau iya kenapa, kau lemah Vano." Anggi mengejek Vano.


Vano yang merasa tertantang menarik tangan Anggi sampai Anggi terjatuh di atas tubuh nya.


"Kau ingat posisi ini." tanya Vano.


"Vano lepas, apa apaan kau ni." ucap Anggi.


"Jawab aku dulu." kata Vano.


"Ingat saat aku menyerahkan tubuh ku pada mu." ucap Anggi.


"Anggi apa tidak sakit saat kau melakukan nya pertama kali." tanya Vano.


"Sebenarnya ya sakit, tapi aku saat itu sedang mabuk jadi tidak merasakan sakit yang luar biasa." jawab Anggi.

__ADS_1


"Jika kau melakukan nya secara sadar sekarang, apa masih terasa sakit." tanya Vano.


"Jelas sakit, walaupun kita pernah melakukan nya dulu tetap saja saat melakukan nya lagi terasa sakit." jawab Anggi.


"Kau berat juga." ucap Vano dengan membalik Anggi di bawah dan diri nya di atas tubuh Anggi.


"Vano apa yang mau kau lakukan." tanya Anggi.


"Tidak ada, hanya melihat wanita pilihan orang tua ku." jawab Vano.


Mereka berdua saling menatap, Anggi memberanikan diri nya untuk menyentuh wajah Vano dengan tangannya.


"Van, kau serius belum memiliki seorang pacar." tanya Anggi.


"Aku tidak pacaran nggi." jawab Vano.


Tangan Anggi bergerak mengusap wajah Vano, sebenarnya ia cukup mengagumi ketampanan Vano, itu sebab nya ia bertanya apakah Vano sudah memiliki seorang pacar atau belum, karena wajah setampan Vano pasti banyak wanita yang mengantri menjadi pacar nya.


"Kenapa Anggi, kau terpanah dengan ketampanan ku." tanya Vano.


"Tidak ada, aku hanya ingin menyentuh wajah mu saja." jawab Anggi sambil menurunkan tangan nya.


"Kenapa berhenti, pegang saja." ujar Vano.


"Kau senang aku sentuh, awas baper pada diri ku." ucap Anggi.


"Kalau aku baper pada mu bagaimana." tanya Anggi.


"Bagaimana ya, aku tidak tau." jawab Anggi.


"Tubuh mu wangi sekali nggi." ucap Vano.


"Kau berniat menggoda ku, kalau iya siap ku patah kan tulang leher mu." kata Anggi.


"Tidak nggi, aku berkata jujur." elak Vano.


"Sudah lah aku kebal dengan gombalan seperti itu, minggir aku mau keluar." ucap Anggi.


"Aku belum puas menatap mu." kata Vano.

__ADS_1


"Aku sudah bosan menyentuh wajah mu." ujar Anggi.


Vano memegang tangan Anggi dan meletakkan nya di lehernya. "Kau bisa menyentuh ku di bagian lahir.


"Vano minggir lah, aku mau kelu....


Belum selesai Anggi berkata Vano sudah menyerang bibir Anggi, Anggi yang terkejut langsung memberontak dan menendang Vano sampai Vano terjungkal ke lantai.


"Anggi sakit." teriak Vano.


"Van, maaf van. Kau menyerang ku secara tiba-tiba." Anggi membantu Vano berdiri.


"Pergi lah sana, aku mau istirahat." Vano yang ngambek pada Anggi.


"Kau marah pada ku van." tanya Anggi.


"Tidak sana, aku mau tidur." jawab Vano.


"Ya sudah aku keluar." Anggi meninggalkan Vano.


Anggi duduk di atas kursi menikmati angin laut yang sangat segar. Fiona yang melihat Anggi duduk sendiri berjalan menghampiri nya.


"Sedang apa kak." tanya Fiona.


"Eh Fiona, tidak ada. Hanya menikmati udara yang segar." jawab Anggi.


"Dimana kak Vano, kenapa tidak ada." Fiona ikut duduk di dekat Anggi.


"Sedang beristirahat." jawab Anggi.


"Oww sama kak Adit dan yang lainnya juga sedang beristirahat." ujar Fiona.


"Apa kakak boleh bertanya sesuatu pada mu Fiona." tanya Anggi.


"Iya kak tanya kan saja." jawab Fiona.


"Kau sudah menikah berapa lama." tanya Anggi.


"Baru beberapa hari yang lalu." jawab Fiona.

__ADS_1


"Kenapa kak, kau mau menikah dengan kak Vano. Tapi kau takut saat malam pertama. Aku juga takut awal nya kak. Tapi kak Adit selalu meyakinkan aku kalau malam pertama tidak seseram yang ku pikir kan. Tapi semua yang di katakan kak Adit semua bohong. Rasa nya sangat lah sakit, sampai aku menangis sepanjang malam. Dan sejak itu aku belum mau melakukan nya lagi." ocehan Fiona.


__ADS_2