
"Aku malu sekali," ucap Wilda.
"Malu kenapa, apa milik mu tidak sebesar wanita itu," tanya Axel.
"Jangan Axel kau tau sendiri sebesar apa ukuran milik ku," jawab Wilda.
"Aku tau bagaimana, aku saja tidak pernah melihat nya. Kau lupa aku hanya melihat mu masih memakai dalaman," kata Axel.
"Ya sudah bagus, aku juga tidak berharap kau melihat milik ku," ucap Wilda.
Video terus berlanjut dari adegan awal sampai pertengahan mereka berdua perhatikan dengan baik. Axel ingin sekali mempraktekkan nya sedangkan Wilda terus berpikir bagaimana agar tidak terasa sakit.
"Axel apa milik mu sebesar itu," tanya Wilda.
"Hahaha itu tidak ada apa-apa nya, aku tebak itu hanya 18 cm, milik ku 20 an lah," jawab Axel.
"Ahhhh pasti sangat menyakitkan." Wilda langsung menutup laptop nya.
"Kenapa kau tutup," tanya Axel.
"Aku tidak mau kau kepancing dan kau malah meminta nya pada ku," jawab Wilda.
Axel merendahkan tubuh nya, ia mulai merangkak naik ke atas tubuh Wilda, cahaya laptop yang telah menghilang membuat suasana kembali gelap gulita.
"Axel ini apa, ada yang mengganjal," kata Wilda.
"Itu adik ku, dia sudah bangun, tugas mu harus menidurkan nya," ucap Axel.
Duar.. Petir besar kembali menyambar.
"Axel," teriak Wilda sambil memeluk suaminya dengan erat.
Axel berpikir tidak mungkin melakukan nya sekarang, malam ini terlalu gelap dan Wilda terlalu ketakutan. Belum lagi saat ia melakukan nya Wilda pasti berteriak kesakitan.
"Sudah jangan takut ada aku di sini," ucap Axel sambil memperbaiki posisi nya, ia mendekap Wilda ke dalam pelukan nya. Dada bidang Axel yang sangat harum membuat Wilda merasa nyaman.
"Jangan banyak bergerak adik ku mulai tertidur," ucap Axel sambil mengusap rambut Wilda agar istri nya tidak terlalu ketakutan.
"Kau bisa baik seperti ini pada ku," tanya Wilda.
"Apa selama ini aku jahat pada mu," tanya Axel.
"Hmmm begitu lah, kandang bibir mu begitu terasa sangat tajam," jawab Wilda.
"Hahaha maaf ya kalau selama ini kau tersakiti dengan ucapan mu, aku kadang tidak sadar jika sudah mengatakan ucapan tidak baik pada mu."
__ADS_1
"Kau juga mau meminta maaf pada ku, ternyata tuan lembek bisa meminta maaf juga ya."
"Hey jaga bicara mu, siapa yang kau katakan tuan lembek gadis tomboi," ucap Axel.
"Aku tidak tomboi, aku hanya sedikit seperti pria," kata Wilda.
"Kau melawak Wilda, gadis tomboi berarti sedikit mirip dengan pria, begitu saja kau tidak tau."
"Dada rata," ucap Axel.
"Dada ku tidak benar-benar rata, aku hanya jarang memakai kaca mata jadi terlihat rata," kata Wilda.
"Oh iya, pantas saja aku merasakan kelembutan di dekat perut ku, diam jangan bergerak aku akan memeriksa nya."
"Jangan kau jangan aneh aneh," ucap Wilda.
"Hey hey, sadar Wilda aku suami mu, itu hak ku aku berhak memiliki nya," kata Axel.
"Tapi aku tidak biasa."
Axel menggelengkan kepala nya, ia tidak tau bagaimana bisa membuat Wilda terbuka pada nya.
"Ya kau harus terbiasa," ucap Axel.
Tangan Axel mulai meraba-raba tubuh istri nya, tangan nya benar-benar nakal sampai membuat Wilda menegang seperti sengatan listrik.
"Kau mau apa, jangan masuk-masuk ke dalam," tanya Wilda.
"Buka tiga kancing baju mu, aku tidak bisa membuka nya," ucap Axel.
"Tapi..
"Tapi apa Wilda, aku suami mu ingat, aku suami mu." Axel benar-benar berusaha menyakinkan Wilda karena ia sudah sangat penasaran dengan milik istri nya.
Tangan Wilda mulai membuka satu persatu kancing baju nya, ia sudah membuka tiga sesuai dengan keinginan Axel.
"Sudah," ucap Wilda.
Tangan Axel kembali bergerak masuk ke dalam sana, ujung jari nya sudah menyentuh bagian lembut di dalam sana.
"Wow ini benar-benar lembut," ucap Axel.
"Axel, jangan kau toel toel begitu," kata Wilda yang seperti tersengat listrik saat tangan Axel menoel-noel milik nya.
"Hahaha boleh aku memegang nya semua," tanya Axel.
__ADS_1
"Tidak boleh," jawab Wilda.
"Hahaha kenapa Wilda, kau jangan takut," ucap Axel.
"Kenapa kau bertanya dulu, jika aku mau kau pegang saja," kata Wilda.
Satu tangan Axel mulai maju ke depan, ternyata yang di katakan Wilda benar, milik nya tidak kecil. Malahan sangat pas dengan satu ukuran tangan nya, terasa sangat padat dan Axel sangat suka.
Wilda memejamkan mata nya, ntah kenapa saat tangan Axel berada di atas milik nya Wilda merasakan hal yang sangat berbeda. Dan tentu saja ia sangat suka akan hal itu.
"Jadi ini rasa nya milik wanita yang belum pernah di sentuh pria, aku sangat ingin melihat nya," batin Axel.
Di Inggris Axel pernah menyentuh milik beberapa wanita, dan memang terasa sangat berbeda dengan milik istri nya. Ia tersenyum lebar dan kembali menarik tangan nya.
"Sudah, Terima kasih telah mengizinkan ku," ucap Axel.
"Hanya begitu saja," tanya Wilda.
"Aku hanya menetes mu saja, kau mau tidak aku pegang dan dengan kau mengizinkan ku berarti kau sudah menganggap ku sebagai suami mu," jawab Axel.
"Apakah kau menganggap ku istri mu" tanya Wilda.
"Hmmm tidak buruk juga memiliki istri seperti mu, ya aku menganggap mu sebagai istri ku." Axel memeluk Wilda dengan erat.
"Terima kasih," ucap Wilda dengan perasaan yang mulai tidak menentu.
"Sudah sekarang tidur lah, besok kita pulang pagi, aku harus bekerja," kata Axel.
...***...
Keesokan pagi nya Vero sudah lebih baik dari sebelumnya, manja nya juga sudah mulai kembali seperti sedia kala. Dan wajah nya sudah terlihat tidak pucat lagi.
Alvaro turun dari atas tempat kasur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Karena tidak membawa baju ganti ia kembali memakai baju yang pakai kemarin.
"Yang terpenting aku wangi," ucap Alvaro.
Selagi menunggu ayah nya di kamar mandi, Vero memilih memainkan handphone ayah nya, ia juga ingin menghubungi istri nya agar cepat datang ke rumah sakit.
Baru saja Vero ingin menghubungi Sakura, ternyata Sakura sudah datang bersama Rakha. Rasa cemburu dan curiga langsung menghampiri diri nya.
"Sayang kamu sudah lebih baik," tanya Saku sambil memberikan kecupan manis di wajah Vero.
"Hmmm, kamu kenapa dengan Rakha," tanya Vero.
"Eh paman maaf aku memotong, jangan salah sangka. Aku hanya di minta paman Verrel untuk mengantarkan Sakura. Aku sekalian berangkat ke restoran milik kakek," Saut Rakha sebelum Vero salah paham.
__ADS_1
"Ohhh," ucap Vero.
"Kalau begitu aku pamit dulu paman, semoga cepat sembuh." Rakha cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan itu.