
"Sayang aku ingin." Akifa sengaja menggoda suami nya.
Akifa mendekati tubuh Verrel dengan tatapan tajam, tapi Verrel malah menjauhi Akifa sampai diri nya tidak bisa bergerak lagi karena sudah menempel di tembok.
"Sayang kenapa kamu seperti liar sekali." Ucap Verrel.
"Sayang." Akifa membuka satu persatu kemeja Verrel.
Kini Verrel sudah tidak memakai atasan memperlihatkan tubuh kekar nya dengan rambut halus di dada bidang nya.
"Sayang aku ingin." Akifa mengusap lembut rambut tulis di atas dada bidang Verrel.
"Sayang hentikan, jika aku menginginkan nya kamu tidak seperti ini kamu seperti bantal guling yang hanya pasrah saat aku melakukan nya. Sekarang saat gigi ku sedang sakit kamu malah liar seperti ini." Rengek Verrel.
"Apa gigi mu membuat adik mu tidak bangun." Tanya Akifa.
"Bangun, tapi aku tidak biasa berkonsentrasi, aku ingin tapi gigi ku sangat sakit sayang."
"Hehehe sudah aku hanya bercanda, ayo kita tidur, nanti adik mu juga akan ikut tidur." Ucap Akifa sambil menggandeng Verrel ke arah kasur.
"Sayang, jika gigi ku sudah sembuh kamu janji akan seliar ini, aku menginginkan kamu seperti tadi."
"Tidak mau." Akifa memeluk Verrel sambil memejamkan mata nya.
"Verrel kau pasti sedang berolahraga malam, aku hanya ingin berterimakasih pada mu, aku ingin secepatnya bertemu dengan mu lagi, dan langsung mengucapkan rasa terimakasih ku langsung pada mu." Candra mengirim kan pesan WA pada Verrel sebelum pesawat mereka lepas landas.
Keesokan pagi nya. Gigi Verrel masih terasa berdenyut, ia ingin mencabut gigi nya yang sakit ini tapi tidak diizinkan dokter karena masih sakit.
"Sayang katakan pada ayah, aku tidak masuk kantor dulu, gigi ku sangat sakit." Ucap Verrel.
__ADS_1
"Iya, kamu hanya mencari alasan sayang." Ucap Akifa.
"Tidak sayang, aku benar-benar sakit. Jika tidak kamu sudah habis tadi malam."
"Hmmm baiklah, aku akan memberitahu ayah, jangan lupa kamu makan bubur itu dan minum obat nya." Akifa memberikan kecupan manis di wajah Verrel.
Akifa berjalan ke ruang makan untuk menemui Alvaro, ia sudah tau jika Alvaro sedang melakukan sarapan pagi.
"Pah, suami ku tidak bisa masuk ke dalam kantor hari ini, dia sedang sakit." Ucap Akifa.
"Bagaimana bisa sakit, tadi malam seperti nya baik-baik saja." Tanpa mendengar kan penjelasan Akifa selanjutnya Alvaro langsung berjalan menuju kamar Verrel. Ia paling tidak bisa mendengar anak kesayangan nya itu sakit.
"Hey, Kau sakit apa." Tanya Alvaro sambil memeriksa kening Verrel.
"Gigi ku sakit sekali yah, aku sampai tidak bisa makan dengan baik." Rengek Verrel.
"Hanya ayah bilang, lihat yah wajah ku sampai bengkak." Ucap Verrel.
"Sudah minum obat."
"Belum, bagaimana aku minum obat makan saja susah."
"Ayah bantu." Alvaro mengambil mangkuk yang berisi bubur, dengan perlahan Alvaro menyuapi Verrel walaupun hanya sakit gigi. Alvaro rela membuang waktu nya hanya untuk menyuapi Verrel makan.
"Ah pelan yah." Ucap Verrel.
"Aku sudah pelan Verrel, kau manja sekali."
"Aku tidak mau makan lagi." Ucap Verrel.
__ADS_1
"Kau makan atau kakek mu yang akan menyuapi mu dengan skop." Ancam Alvaro.
"Tidak tidak tidak, ayah saja." Ucap Verrel.
"Lihat Akifa, betapa sayangnya Alvaro pada Verrel, walaupun sifat cemburu nya sangat tinggi dia tidak akan memberikan putra kesayangan nya itu menahan sakit." Kata Angel yang melihat pemandangan ini dari kejauhan bersama Akifa.
"Ayah tidak ke kantor." Tanya Verrel.
"Nanti setelah aku membereskan anak ku ini, ntah kesalahan apa yang ku perbuat saat mencetak mu sampai kau bisa semanja ini." Jawab Alvaro.
"Saat ayah mencetak ku ayah buru-buru langsung di keluar kan, seharusnya ayah menahan nya dan memberikan kenikmatan pada istri kita."
"Kau mengajari ku, aku kira aku bodoh." Ucap Alvaro.
"Hehehe maaf yah, ayah kuat dan tahan lama."
"Dari mana kau tau." Tanya Alvaro.
"Aku juga seperti itu, berarti itu keturunan dari ayah."
Kau pintar, memang kau sebelah dua belas dari ku, hanya saja otak mu lebih pintar. Tapi terlalu mesum."
"Itu juga dari ayah." Ucap Verrel.
"Enak saja kau lanjut kan makan mu, aku harus ke kantor."
"Tidak mau, aku tidak kau makan jika tidak ada yang menyuapi ku, ayo yah sedikit lagi."
"Kau ya. Selalu merepotkan ku." Ucap Alvaro sambil kembali menyuapi Verrel makan.
__ADS_1