
...***...
"Ahkkk sakit mah," ucap Laura.
"Hahaha sakit kata mu, bagaimana dengan perlakuan pada kami dulu apa tidak sakit," kata Dewi.
"Siksa saja dia mah, aku sangat senang melihat nya menderita seperti itu" ucap Windi.
"Ampun mah, jangan siksa aku, aku minta maaf atas kesalahan ku mah." Laura terus menangis karena merasakan sakit di rambut nya.
"Mamah Windi, berhenti," ucap Brian.
"Brian apa-apaan kau, kau malah meminta kamu berhenti," tanya Dewi.
"Iya kak, kakak sudah gila, dia yang membuat kita menderita," kata Windi.
"Aku tidak suka jika kalian bermain kasar seperti ini," ucap Brian sambal menarik Laura ke dalam pelukan nya.
"Kalian bisa meminta nya untuk melakukan pekerjaan rumah atau apalah, tapi jangan menyakiti fisik nya. Dia istri ku," ucap Brian.
"Kau membela wanita ini, kau malah memarahi kami," kata Dewi.
"Mah aku tidak membelah siapapun, dia istri ku aku tidak mau fisik nya terluka, aku sudah lama ingin menikah dengan nya."
__ADS_1
"Kakak sudah di butuhkan dengan cinta," kata Windi.
"Diam Windi kau tidak tau apa-apa. Sudah mah, sudah cukup menyiksa nya." Brian membawa Laura pergi dari tempat itu.
"Terima kasih Brian," ucap Laura.
"Aku rasa keluarga ku sudah kelewatan, aku tidak suka itu," kata Brian.
"Aku ingin selalu bersama mu," ucap Laura sambil memeluk Brian dengan erat.
Brian rasa sudah cukup hukuman itu Laura, semakin Laura menderita semakin sakit juga hati nya. Laura juga sudah tampak berubah dari sebelumnya, Laura yang sangat cantik dan modis berubah menjadi Laura yang sudah seperti ibu rumah tangga.
"Kita pulang ke apartemen ku," ucap Brian.
"Aku tidak mau, aku ingin pulang ke rumah mamah dengan mu," kata Laura.
Ntah kebenaran atau tidak apa yang di katakan Brian, Laura tetap saja harus ikut dengan suami nya. Itu lebih baik dari pada ia di neraka dunia ini. Laura berharap Brian dapat menepati janji nya tidak akan kasar lagi pada nya.
**
Di Jepang Wilda dan Ivan sudah berpisah, saat ini Wilda sudah di rumah tante nya yang letak nya tidak jauh dari kota Tokyo, beruntung di sana mereka masih mengingat Wilda meskipun Wilda sudah sadari kecil tidak berkunjung.
"Wilda kamu sudah besar dan sudah menikah," ucap Mei.
__ADS_1
"Iya tan, Wilda sudah menikah, wah anak tante sudah banyak ya. Apa sudah ada yang seumuran Wilda?"
"Sudah ada Wil, mungkin lebih tua dia dari mu, kalian pernah bertemu satu kali saat kalian masih balita. Saat ini dia sedang bekerja dan akan pulang nanti malam."
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan nya, apa dia setampan om atau secantik tante," ucap Wilda.
"Dia setampan om dong Wil, kan dia pria," kata Yoseph.
"Iya om, ya sudah Wilda ingin istirahat dulu, Terima kasih telah menerima Wilda."
"Ayo Wil, tante antar masuk ke dalam kamar mu," ucap Mei.
"Kenapa menikah tidak mengundang tante," tanya Mei.
"Maaf tan pernikahan Wilda juga sangat mendadak, Wilda menikah juga karena di jodoh kan," jawab Wilda.
"Nanti jika suami kamu ingin menjemput mu, suruh ke sini saja Wil. Kota Tokyo besar jika tidak biasa dia akan kesasar," ucap Mei.
"Iya tan, tapi mungkin Wilda akan lama di sini."
"Iya Wilda, daddy mu sudah mengatakan nya pada tante, ya sudah tante tinggal dulu," ucap Mei.
Wilda merebahkan diri nya di atas ranjang. Ia sudah lama tidak membuka medsos nya, dan saat ia bukan spam chat dari Axel masuk ke dalam handphone nya, karena memang Wilda belum memblokir semua media sosial axel dari pertemanan nya.
__ADS_1
"Sayang aku tau kamu dimana." Pesan terakhir Axel.
"Jika tau jangan jemput aku, aku perlu waktu." Wilda membalas pesan itu sebelum memblokir Axel dari pertemanan nya.