Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 211 S4


__ADS_3

"Aku ke bangun," jawab Vivi.


"Belum hidup lampu sudah tidur lagi saja," kata Rakha.


"Tadi kata kamu yang bangun apa," tanya Vivi.


"Tidak ada, aku yang bangun," jawab Rakha.


"Aku tidak bisa tidur, bagaimana ini. Sudah tidak nampak apa-apa," kata Vivi.


"Dingin sekali Vivi, ruangan ini tidak ada penghangat ruangan," tanya Rakha.


"Mati lampu Rakha, lagi pula mana mungkin cafe seperti ini ada penghangat ruangan," jawab Vivi.


"Kalau aku sudah menjadi suami ku, aku akan membuat penghangat ruangan."


"Semua yang kamu katakan seakan-akan menjadi kenyataan," ucap Vivi.


"Hehehe aku suka begitu, tapi terkadang perkataan ku itu menjadi kenyataan kok," kata Rakha.


"Sekarang dari pada kita bingung ingin berbuat apa, lebih baik kita bercerita tentang diri kita masing-masing," ucap Rakha.


"Kamu dulu, aku pemasaran dengan hidup kamu," kata Vivi.


"Aku tidak ada yang menarik dari kehidupan kami. Aku sama seperti tidak lainnya, saat aku SMA aku sekolah di London bersama dengan Axel, kamu di sana sangat lama sampai lulus S1," ucap Rakha.


"Setelah itu," tanya Vivi.


"Setelah itu aku dan Axel pulang karena dua sepupu kami menikah Kenzo dan Kenzi, aku juga sudah menyelesaikan S1 ku. Waktu terus berlalu aku tidak dekat dengan wanita mana pun, berbeda dengan sepupu ku, ada yang sampai memiliki istri dua. Sampai tiba aku di kenalkan dengan Alice."


"Tidak papa aku membahas masalah Alice," tanya Rakha.


"Tidak papa kok, aku malah penasaran kehidupan mu setelah pernikahan," jawab Vivi.


"Aku kenalkan oleh Alice oleh Kenzi dan Kenzo, tak butuh waktu lama kami sudah sangat dekat. Saat aku masih dekat dengan Alice aku tau kakek ku pasti tidak akan merestui hubungan kami, karena pekerjaan Alice seorang model. Aku tidak memperdulikan hal itu dan melamar Alice di bandara, membuat kejutan yang luar biasa," ucap Rakha.


"Jadi paman Vano sudah tidak merestui kamu sejak saat itu."


"Ya begitu lah. Setelah aku melamar nya aku menyusul nya ke Belanda bersama kakek. Aku saja kakek bertengkar di sana karena kakek ingin menjodohkan ku dengan wanita lain. Aku pergi meninggalkan kakek dan aku ke rumah Alice, di sana aku langsung di minta oleh orang tua Alice untuk langsung menikah. Dan bodoh nya aku, aku malah setuju, hubungan ku dengan kakek hancur seketika, bisa baik karena aku sudah ingin pisah dengan istri ku."


"Sangat panjang dan rumit ya," kata Vivi.


"Bagaimana dengan mu," tanya Rakha.


"Tidak ada yang menarik dari kisah ku, aku hanya mempunyai kakak ku saat ini, orang tua ku sudah meninggal. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup sederhana. Sampai suatu ketika nasib buruk menimpah kakak ku, tapi nasib buruk itu juga yang membuat kami bertemu dengan keluarga Efron. Semenjak bertemu dengan keluarga Efron kehidupan kamu sangat jauh lebih baik," jawab Vivi.

__ADS_1


"Kamu tidak ada dekat dengan pria," tanya Rakha.


"Tidak ada," jawab Vivi.


"Christian itu siapa, kamu jangan bohong?"


"Oh iya aku dekat dengan nya sudah satu bulan, sebelum aku mengenal mu," kata Vivi.


"Jangan dekat lagi dengan nya," ucap Rakha.


"Kenapa," tanya Vivi.


"Aku tidak suka," jawab Rakha.


"Aku tidak memerlukan itu Rakha, kamu ada-ada saja," ucap Vivi.


Keesokan pagi nya. Vivi bangun lebih dulu di bandingkan dengan Rakha, wajah tampan Rakha membuat nya terpesona beberapa saat. Di dalam hati Vivi, ntah kenapa ia sangat mengharapkan Rakha, ia tau perasaan nya ini salah tetapi semakin ia abaikan perasaan itu perasaan itu semakin kuat saja.


"Aku memang tampan," ucap Rakha.


"Eh kamu sudah bangun," tanya Vivi.


"Sudah sejak kamu memandang wajah tampan ku," jawab Rakha.


Sebelum para karyawan datang Vivi dan Rakha langsung mencari kunci mobil Rakha yang hilang. Vivi menemukan kunci itu di bawa lemari pendingin.


"Ini dia pantas saja kita tidak menemukan nya kemarin," ucap Vivi.


"Ya sudah ayo kita pulang, aku yakin kakek ku sudah mencari ku."


Sementara itu Vano sudah tampil tampan dan rapi, ia akan mengantarkan Anita ke panti, tapi sebelum itu ia akan mengajak Anita untuk berbelanja untuk keperluan anak-anak di panti.


"Tunggu dulu, apa Rakha tidur di kamar nya sediri, aku tidak melihat nya," ucap Vano.


Vano penasaran dengan keberadaan Rakha. Ia takut Rakha dan Vivi melakukan hal yang Tidak-tidak. Saat di kamar Rakha, ia tidak menemukan Rakha di sana, hal itu semakin membuat Vano resah.


Tak lama Rakha kembali dengan Vivi, mata nya memicing menatap mata Rakha yang seperti tidak merasa bersalah sedikit pun.


"Kau dari mana, dari kemarin baru pulang," tanya Vano.


"Maaf kek nanti Aku cerita kan, kami tidak melakukan apapun kek," jawab Rakha.


"Iya kek, aku ke kamar dulu, kami tidak melakukan apapun kok," ucap Vivi.


"Jelaskan Rakha, kau menginap dimana?"

__ADS_1


"Kami terjebak di dalam cafe, kan tadi malam mati lampu, kunci mobil ku juga jatuh ntah kemana. Jadi kami menginap di dalam cafe," jelas Rakha.


"Kau tidak sengaja kan," tanya Vano.


"Tidak kek, aku tidak sengaja sedikit pun," jawab Rakha.


"Kakek mau kemana," tanya Rakha.


"Aku ingin pergi ke panti," jawab Vano.


"Bukan nya panti itu urusan Kenzo, ada apa kakek ke panti?"


"Jangan banyak tanya, sudah pergi dana kau bauk sekali," ucap Vano.


Vano berjalan ke arah mobil, jika ia pergi ke mobil bersama dengan Anita, semua orang akan curiga ke pada nya. Ia tidak mau menjadi bahan ejekan semua orang, apalagi Dylan anak nya sendiri yang selalu mengejek nya.


"Sudah pak," ucap Anita.


"Kau duduk di belakang," tanya Vano.


"Iya Pak, apa salah?"


"Sangat salah, aku bukan supir mu," kata Vano.


"Oh begitu, kalau aku duduk di belakang berarti bapak menjadi supir," ucap Anita.


"Pindah ke depan." Vano sudah memasang wajah sangar nya.


"Iya iya, jangan marah marah juga," kata Anita.


Setelah Anita pindah ke depan. Mereka berdua langsung pergi, Vano membawa Anita ke mall untuk membeli keperluan anak-anak di panti.


"Kita akan berbelanja pak," tanya Anita.


"Iya aku ingin membeli perlengkapan anak-anak panti," jawab Vano.


"Wah bapak baik sekali," kata Anita.


"Sudah ayo cepat turun, aku tidak punya banyak waktu," ucap Vano.


"Iya bapak yang sangat sibuk." Anita tersenyum melihat wajah Vano yang tidak segalak tadi.


"Kau kenapa," tanya Vano.


"Tidak ada pak, kalau bapak senyum seperti itu semakin tampan," jawab Anita.

__ADS_1


__ADS_2