
Vero dan Kenzo tetap membawa Sonia ke rumah sakit. Kenzo tetap ingin memeriksa kandungan Sonia, ia tidak mau kecolongan sedikitpun. Sesampainya di rumah sakit ternyata dokter yang biasanya memeriksa Sonia sedang memeriksa kandungan pasien lain, mereka bertiga duduk menunggu giliran.
"Bagaimana sayang kamu sudah puas kan, tidak terjadi apa-apa," kata Calvin.
"Hehehe iya, aku hanya takut saja sayang," ucap Nila.
"Daddy," kata Marvin kecil yang terbangun dari tidurnya.
"Iya sayang, adik mu baik-baik saja kamu jangan khawatir ya," ucap Calvin sambil mencium Marvin yang saat ini masih berusia 9 bulan.
"Sudah selesai," tanya Kenzo.
"Sudah masuk saja," jawab Calvin.
"Wah hamil anak kembar," tanya Nila.
"Iya anak kembar 5," jawab Sonia.
"Wah kembar 5 sangat luar biasa, dulu kamu berapa sayang?"
"Aku memiliki saudara kembar 3, mommy hamil kembar 4," kata Nila.
"Siapa nama mu, biasa kita berkenalan. Aku perlu banyak informasi dengan anak kembar," tanya Kenzo.
"Ini kartu nama istri ku, kami sedang buru-buru. Hubungi saja jika ada perlu," jawab Calvin.
"Iya Terima kasih," ucap Kenzo dan langsung membawa istri nya masuk ke dalam.
"Dia masih sangat muda tapi sudah punya anak dua," kata Vero.
__ADS_1
"Hahaha sama seperti mu besok paman," ujar Kenzo.
Di dalam Sonia langsung di periksa, memang tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Saat ini usia kandungan Sonia sudah mau masuk 7 bulan, kontraksi seperti itu memang cukup lazim. Apalagi Sonia mengandung anak kembar.
"Sudah jangan khawatir, istri mas Kenzo hanya perlu banyak istirahat, olahraga yang cukup dan makan makanan yang bergizi," kata Dokter.
"Iya dok, kamu dengar sayang jangan melakukan hal yang membuat ku khawatir," ucap Kenzo.
"Nanti jadwal pemeriksaan selanjutnya untuk proses persalinan ya mas, saya berikan catatan nya," kata Dokter.
Di cafe Rakha menjelma menjadi suami yang luar biasa. Ia tidak segan menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia pegang, seperti mengambil piring kotor, mencuci gelas atau yang lainnya. Vivi saja sampai ketar ketir dengan apa yang Rakha lakukan, bagaimana tidak seorang Rakha yang berasal dari keluarga kaya raya melakukan hal seperti itu.
"Sudah sayang kamu duduk saja, itu masuk ke dalam ruangan ku," kata Vivi.
"Tidak mau ah, aku ingin membantu mu. Kamu kenapa si kamu tidak mau aku bantu," tanya Rakha.
"Bukan seperti itu tapi aku takut kamu terluka, nanti tangan kamu sakit gimana. Sudah ya duduk saja," jawab Vivi.
Vivi hanya bisa membiarkan Rakha melakukan apa yang dia mau, melarang Rakha memang tidak akan bisa, Rakha akan berhenti jika kemauan nya sendiri.
"Sayang handphone ku," kata Rakha yang sedang mencuci piring.
"Iya tunggu sebentar," kata Vivi sambil membawakan handphone Rakha.
"Siapa sayang," tanya Rakha.
"Tidak ada nama nya," jawab Vivi.
Rakha menyudahi aktivitas nya dan langsung mengangkat panggilan itu, ia takut panggilan itu adalah hal yang penting.
__ADS_1
"Halo siapa ya," tanya Rakha.
"Aku Stefan, sepupu nya Alice aku ingin bertemu dengan mu," jawab Stefan.
Rakha berpikir beberapa saat untuk mengingat Stefan setelah ia ingat ia langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Aku tidak sudi bertemu dengan mu," kata Rakha.
Drittt.. dritttt..... Handphone Rakha kembali berbunyi, ia tidak kenapa Stefan ingin sekali bertemu dengan nya.
"Aku tidak mau," ucap Rakha.
"Tidak lama hanya satu jam, jam 5 sore di cafe," kata Stefan.
"Oke hanya satu jam dan jangan membawa wanita itu," ucap Rakha.
"Iya kau tenang saja, aku akan mengirim kan alamat cafe nya nanti." Stefan memutuskan panggilan itu.
"Bagaimana sayang apa dia mau," tanya Alice.
"Dia mau, sudah jangan takut," jawab Stefan.
Saat mengingat Alice mood Rakha hancur seketika, ia langsung mengambil air dingin dan menenggak nya sampai habis. Alice memang selalu membuat mood nya hancur.
"Kamu kenapa sayang," tanya Vivi.
"Mood ku hancur. Nanti temani aku pergi ya, aku ingin bertemu dengan seseorang," jawab Rakha.
"Iya aku akan menemani mu," ucap Vivi.
__ADS_1
Rakha mengajak Vivi agar tidak ada ke salah pahaman di antara mereka semua.