
Karla turun dari atas kasur untuk mengejar Kenzi, ia sangat takut jika suaminya marah pada nya.
"Maaf sayang, aku salah jangan marah pada ku," ucap Karla sambil memeluk Kenzi.
"Aku lelah Karla, sudah lama aku terlalu sabar menghadapi permintaan aneh mu. Tapi untuk melakukan apa yang aku mau kau tidak mau melakukan nya, jangan buat kesabaran ku habis Karla, jangan lakukan itu."
"Maaf, jangan marah pada ku. Aku akan melakukan apa yang kamu minta," ucap Karla.
Kenzi membalik tubuh nya dan membalas pelukan dari Karla. "Aku tidak memaksa mu untuk hamil, aku tau mempunyai anak mustahil untuk kita, tapi apa salah nya untuk mencoba, kalau tidak hamil juga tidak papa sayang. Aku tidak akan marah," kata Kenzi.
"Iya aku akan melakukan nya, tapi temani aku," ucap Karla.
"Iya sayang, aku akan menemani mu, nanti malam saja ya, setelah kita makan malam agar lebih enak," kata Kenzi.
Sementara itu sebelum ia pergi besok, Rakha meminta untuk berbicara empat mata pada Vero, ada beberapa hal yang ia ingin sampai kan.
"Menyerah," ucap Vero.
"Mau bagaimana lagi paman, aku sudah tidak bisa mengejar Sakura, aku harus pergi bersama kakek ku di luar negeri," kata Rakha.
"Jadi aku menang tanpa bersaing lagi dengan mu."
"Ya begitu lah, kalau hubungan mu dengan Sakura tidak jelas sampai aku pulang ke rumah jangan salahkan aku merebutnya dari mu tapi kalau kau sudah tunangan atau menikah mana Mungkin aku melakukan nya," kata Rakha.
"Baiklah, kalau begitu sebelum kau kembali aku harus sudah menikah dengan nya."
"Ya kalau bisa lakukan lah, walaupun sangat berat untuk ku, tapi mau bagaimana lagi," ucap Rakha.
Rakha sudah belajar untuk tidak memaksakan apa yang tidak bisa ia dapatkan, karena ia percaya jika sesuatu yang di paksakan maka hasil nya tidak akan membuat nya puas.
"Kalau begitu selamat bersenang-senang Rakha aku yakin kau akan menjadi orang yang sukses," ucap Vero.
Setelah bertemu dengan Vero, Rakha juga bertemu dengan Sakura, mereka berdua berjalan ke arah taman bersama-sama, karena ada beberapa hal yang ingin Rakha bicarakan.
"Sakura kau belum ada perasaan pada ku," tanya Rakha.
__ADS_1
"Maaf Rakha, untuk apa bertanya seperti itu?"
"Aku hanya memastikan nya saja, mungkin hari ini baru terakhir ku membawa mu jalan," kata Rakha.
"Kenapa begitu, kau mau kemana," tanya Sakura.
"Aku akan pergi Sakura, aku akan pergi jauh bersama kakek ku, dan mungkin aku sudah tidak bisa mengejar mu lagi," jawab Rakha.
"Kenapa tiba-tiba, siapa yang akan mengajak ku jalan-jalan jika kau pergi, siapa yang akan mendengar curhatan ku jika kau pergi."
"Ada Vero, kau lupa Vero juga suka dengan mu, mungkin memang aku bukan jodoh mu dan Vero jodoh mu," ucap Rakha
"Takdir memang sangat sulit di tebak," kata Sakura.
"Kau benar, Takdir memang sangat sulit untuk di tebak, aku saja sampai bingung bagaimana takdir membawa ku bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai ku."
"Hahaha sabar Rakha, pasti dalam waktu dekat wanita itu akan datang, tunggu saja hari yang sangat membahagiakan itu," ucap Sakura.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi Sakura, bagaimana dengan perasaan mu pada ku," tanya Rakha.
"Baiklah aku tidak masalah Sakura, yang terpenting sebelum aku pergi, aku sudah tau perasaan mu pada ku, Terima kasih untuk semua nya," ucap Rakha.
Sementara itu selesai makan malam, Kenzi dan Karla kembali masuk ke dalam kamar. Mereka berdua langsung ingin memeriksakan kehamilan Karla yang tadi tertunda. Kenzi sama sekali tidak ada harapan untuk Karla hamil, walaupun ia sangat ingin mempunyai anak tetapi hal itu sangat mustahil dan ia tidak kau membebani diri nya dengan harapan palsu.
"Kamu yakin sayang," tanya Karla sebelum memasukkan testpack itu ke dalam air urine nya.
"Yakin sayang, lakukan lah," jawab Kenzi.
"Aku tidak mau melihat nya kamu lihat lah," ucap Karla.
Kenzi mengambil testpack itu dengan biasa saja. Mata nya memicing saat melihat dua garis merah.
"Satu negatif, jika dua positif, bukan nya begitu sayang," tanya Kenzi.
"Ia benar, bagaimana hasil nya," tanya Karla.
__ADS_1
Kaki Kenzi terasa lemas seketika, jantung nye bergemuruh dan nafas nya terasa terengah-engah, hal yang sama sekali ia sangka benar-benar terjadi pada rumah tangga nya.
"Hiks.. hiks.. hiks..Tanpa sadar air mata menetes deras membahasi wajahnya.
"Kamu kenapa sayang, bukan nya kata mu jika tidak hamil tidak papa, kenapa sampai menangis begini," tanya Karla yang mulai kebingungan.
"Sayang," ucap Kenzi dan langsung memeluk Karla.
"Kenapa sayang, kenapa jelaskan pada mu," tanya Karla.
"Kamu hamil sayang hiks..hiks.. Kamu hamil," jawab Kenzi dengan suara yang sesegukan karena air mata nya masih mengalir deras.
Seketika Karla seperti kehilangan tenaga, tubuh nya terasa sangat lemas, air mata nya langsung jatuh membasahi wajah nya. Tidak ada kata-kata yang bisa Karla ucapkan saat ini, air mata lah sebagai saksi betapa bahagia dan bersyukur nya mereka hari ini.
Kenzi menggendong Karla keluar dari kamar mandi, mereka berdua berpelukan di atas kasur sambil memandangi testpack bergaris dua itu.
Bahkan garis milik mereka lebih jelas di bandingkan milik Kenzo dan Sonia, hal itu membuat Kenzi sangat yakin jika Karla memang hamil anak nya.
"Kamu sudah hamil sayang, Sakura sudah tidak du perlukan lagi bukan, aku ingin berpisah dengan nya."
"Kamu tidak boleh begitu, itu akan menyakiti perasaan Sakura, setelah kamu mengambil mahkota Sakura dan sekarang kamu ingin berpisah dengan nya."
"Sayang aku dan Sakura belum melakukan hal apapun, Sakura menolak ku karena dia ingin berpisah dengan ku. Dia tidak bahagia sayang, kalau kamu tidak percaya besok kita berbicara dengan nya," ucap Kenzi.
"Iya aku ingin berbicara dengan nya," kata Karla.
"Kamu istirahat ya, jaga anak kita dengan baik, aku ingin memberitahu kabar bahagia ini pada Kenzo dan ayah," ucap Kenzi.
Kenzi keluar dari kamar nya sambil membawa testpack milik Karla. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan ayah nya karena tadi mereka sudah janjian di sana. Bagaimana pun hasil nya Kenzi tetap harus memberitahu mereka berdua.
"Ayah," ucap Kenzi.
"Bagaimana Kenzi," tanya Kenzo.
Kenzi berlari dan langsung memeluk Verrel dan juga Kenzo, air mata nya kembali menetes karena ia masin tidak menyangka jika istri nya hamil.
__ADS_1