
Akifa sedang menunggu Verrel di depan toilet, karena perut Verrel terasa sangat sakit. Tak lama Verrel keluar dari toilet dengan wajah yang cukup pucat.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya." Ucap Akifa.
"Tidak perlu, kita pulang saja, bunda pasti akan menyiapkan obat untuk ku." Kata Verrel.
Mereka berdua langsung pulang ke rumah, Verrel membawa mobil dengan menahan sakit di perut nya. Sesampainya di rumah Akifa membantu Verrel masuk ke dalam.
"Bunda." Teriak Verrel.
"Anak mu, kenapa dengan nya lagi." Kata Alvaro.
"Ayo kita lihat, apa kau tidak takut anak mu kenapa-napa." Angel dan Alvaro berjalan mendekati Verrel.
"Ada apa Verrel." Tanya Angel.
"Wajah mu pucat, kau kenapa, pasti kau makan pedas kan. Apa kau bodoh, kau tidak bisa makan pedas masih saja makan. Apa kau mau membuat ku khawatir." Alvaro mengomeli Verrel.
"Ayah, perut ku sakit sekali. Jangan marah pada ku." Rengek Verrel.
Dengan cepat Alvaro membantu Verrel masuk ke dalam kamar nya, sepanjang jalan Alvaro terus memarahi anak nya.
"Bunda, ayah begitu khawatir pada mas Verrel." Ucap Akifa.
"Begitu lah mereka, ayah nya memang sangat cemburu pada Verrel, tapi dia sangat menyayangi Verrel, kamu bisa lihat sendiri kan bagaimana khawatir nya Alvaro pada Verrel." Kata Angel.
"Iya bunda, aku jadi terharu."
"Sudah, ayo kita ambil kan obat untuk suami mu." Angel dan Akifa pergi mengambil obat untuk Verrel.
"Apa perut mu masih sangat sakit, apa perlu kita ke rumah sakit." Alvaro memegang perut Verrel.
"Tidak yah, kita tunggu bunda saja. Jika saja istri ku tidak datang bulan, pasti aku dapat jatah dan perut ku langsung sembuh." Ucap Verrel.
"Cetak." Alvaro menyentil dahi Verrel.
__ADS_1
"Kau ya, aku khawatir pada mu, tapi kau malah memikirkan jatah." Ucap Alvaro yang sangat kesal karena tingkah anak nya.
"Terimakasih ya, telah menghawatirkan ku." Kata Alvaro sambil meringis menahan sakit di perut nya.
"Ini obatnya segera di minum." Ujar Angel.
Alvaro mengambil obat itu dari tangan Angel kemudian memberikan nya pada Verrel.
"Istirahat lah, jika masih sakit kabari aku." Ucap Alvaro.
"Ayah, aku ingin makan buah, potong kan." Kata Verrel.
"Tunggu sebentar." Alvaro berjalan keluar dari kamar Verrel di ikuti Angel.
"Sayang, ayah mu mau mengambil kan mu buah." Tanya Akifa.
"Lihat saja sayang, jika aku sakit aku seperti seorang raja." Jawab Verrel.
"Ayah mu sangat khawatir dengan mu, kenapa kamu malah mempermainkan nya." Ucap Akifa.
Tak lama Alvaro datang dengan membawa piring yang berisi potongan buah.
"Makan lah." Ucap Alvaro.
"Ayah, kenapa tangan mu." Tanya Verrel saat melihat tangan Alvaro yang terluka.
"Tidak papa, hanya terkena pisau saja." Jawab Verrel.
"Kenapa tidak hati-hati, Akifa ambil p3k." Ucap Verrel.
"Verrel sudah aku tidak papa, cepat makan agar perut tidak sakit lagi."
"Perut ku sudah tidak papa." Ucap Verrel.
"Aku saja yang mengobati nya mas."
__ADS_1
"No, kamu tidak boleh menyentuh ayah ku." Verrel memperbaiki duduk nya agar mudah mengobati luka di tangan ayah nya.
"Kenapa istri mu tidak boleh menyentuh ku?" Alvaro duduk di samping Verrel.
"Aku saja tidak boleh menyentuh istri mu, kau juga tidak boleh menyentuh istri ku." Kata Verrel.
"Oww ternyata kau sudah bucin ya." Bisik Alvaro.
"Tidak, tidak ada kata bucin di kamus hidup ku." Kata Verrel.
Akifa memilih meninggal kan mereka berdua karena merasa tidak enak.
"Hahaha, kau tau keluarga kita pasti di taklukkan oleh seorang wanita." Ucap Alvaro.
"Ayah juga seperti ku." Tanya Verrel.
"Bukan hanya aku, kakek mu juga. Pertama kita tidak suka dan selalu marah-marah pada istri kita. Tapi setelah mendapat kan jatah dan selalu di perhatikan oleh nya, hati kita luluh dan tidak bisa membantah ucapan istri kita." Jawab Alvaro.
"Sama persis dengan apa yang ku lalui." Kata Verrel.
"Sudah menjadi kutukan keluarga kita bodoh."
"Ayah, jangan mengatakan ku bodoh." Ucap Verrel.
"Kau memang bodoh." Kata Alvaro.
Dan terjadi lah pertengkaran kecil pada ayah dan anak ini. Akifa dan Angel yang mendengar keributan berjalan memeriksa apa yang terjadi.
"Kalian." Teriak Angel.
Verrel dan Alvaro langsung menghentikan pertengkaran mereka, Alvaro yang di kunci oleh Verrel langsung mendorong Verrel.
"Kamar ini hancur berantakan, rapikan!! jika tidak rapi kalian berdua tidur di luar." Ucap Angel dan pergi meninggalkan kamar itu di ikutin Akifa yang sedikit marah pada Verrel.
"Mampus, macan tutul sudah marah." Ucap Alvaro.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi." Kata Verrel.