Takdir Cinta Agnes

Takdir Cinta Agnes
Episode 106 S4


__ADS_3

Di rumah sakit Reno sudah tidak betah dan meminta untuk pulang, Alvaro masih belum memperbolehkan pulang karena Vero masih terlihat sangat lemas dan wajah nya terlihat cukup pucat.


"Kau belum sehat sayang, jangan manja turuti perintah dari dokter," ucap Alvaro.


"Ayah aku sudah sehat, aku ingin pulang aku yakin Sakura juga sudah tidak betah berada di rumah sakit," kata Vero.


"Kata siapa aku tidak betah, aku malah sangat senang bisa menjaga mu, jangan mencari alasan sayang, kamu benar-benar belum sehat," ucap Sakura.


"Sayang aku ingin pulang, aku tidak mau tau, aku mau pulang. Kalau tidak aku tidak akan mau makan," ancam Vero.


"Oke oke, kau akan pulang, aku akan membicarakan hal ini pada dokter. Jika Dokter tidak mengizinkan mu pulang kau tidak boleh pulang." Alvaro pergi meninggalkan kamar Vero, ia tidak ada pilihan lagi selain menuruti keinginan Vero.


"Yes aku pulang," ucap Vero.


Sakura hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat kelakuan suaminya. Ia tidak pernah bermimpi mendapatkan suami yang super manja seperti ini. Tetapi Sakura juga tidak menyesal, tingkah Vero terkadang membuat mood nya lebih baik.


"Di rumah kamu langsung istirahat, tidak ada bermain game, tidak ada bekerja dan tidak ada jatah."


"Sayang jatah," ucap Vero.


"Tidak ada sayang, kamu sedang sakit, jangan Aneh-aneh ya. Untuk mengangkat tubuh kamu saja tidak kuat apalagi melakukan hal itu."


"Hmmmm iya iya, tapi kalau aku sudah sembuh 3 kali sehari," ucap Vero.


"Iya sayang 3 kali sehari, seperti meminum obat."


"Yes aku suka itu, aku sangat suka," ucap Vero.


"Mungkin saja kamu akan pingsan jika terlalu banyak," kata Sakura.


"Tidak mungkin sayang. Aku kuat aku tidak mungkin pingsan."


"Iya iya kita lihat saja nanti."


Tak lama Alvaro kembali masuk bersama dengan dokter yang menangani Vero, walaupun sebenarnya Vero belum di perbolehkan pulang tetapi dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya Vero di pulangkan dengan beberapa persyaratan.


"Aku boleh pulang dok," tanya Vero.


"Sebenarnya kau belum boleh pulang. Tetapi karena kau sudah meminta ingin pulang. Dokter memperbolehkan mu pulang, tetapi dengan beberapa persyaratan."


"Jelaskan dok, agar bocah ini tidak selalu merengek," kata Alvaro.


"Pertama infus tidak boleh di lepas. Ke dua kau tidak boleh melakukan kegiatan apapun, harus beristirahat total agar tubuh mu semakin tidak lemas. Ketiga setiap pagi dan Sore ada dokter yang akan datang untuk memeriksa mu. Dan sebelum pulang akau akan Menganti botol infus."


"Kau sudah puas, aku akan menelepon orang rumah untuk menjemput kita," ucap Alvaro.


"Akhirnya aku akan pulang," ucap Vero.


Verrel yang mendapatkan panggilan dari ayah nya langsung ke rumah sakit. Ia tidak tau kenapa ayah nya meminta nya untuk ke rumah sakit, ia pikir terjadi sesuatu pada Vero adik kesayangan nya.


Angel yang tau jika Verrel ke rumah sakit langsung berjalan mendekati Verrel karena ia ingin ikut ke rumah sakit.


"Bunda ikut sayang," ucap Angel.


"Bunda juga mendapatkan panggilan dari ayah," tanya Verrel.


"Tidak Verrel, bunda hanya rindu dengan Vero, tidak mendengar ocehan nya sehari saja sudah benar-benar membuat bunda rindu," jawab Angel.


"Hahaha iya bun, terkadang ocehan nya sangat kita rindukan.".


"Ya sudah ayo kita pergi," ucap Angel.


Sesampainya di rumah sakit Verrel dan Angel langsung berjalan menunju keruangan Vero, mereka berdua cukup terkejut ketika melihat Vero sudah berada di kursi roda.


"Kau mau kemana," tanya Verrel.


"Aku akan pulang," jawab Vero.


"Kamu mau pulang sayang." Angel mengusap rambut Vero.


"Iya bunda, aku tidak betah di rumah sakit. Bunda datang untuk melihat ku," tanya Vero.


"Iya sayang, bunda pikir kamu belum pulang. Bunda benar-benar sangat merindukanmu celotehan mu, dan ternyata kau sudah pulang."


"Sebenarnya Vero belum di perbolehkan pulang, tapi Vero terus merengek meminta pulang. Dan akhirnya dokter mengizinkan Vero untuk pulang, dengan berbagai macam syarat yang harus Vero penuhi."


"Vero kenapa kau jadi nakal begini," tanya Angel.


"Bunda aku mau pulang kenapa di katakan nakal."


"Karena kau belum di perbolehkan pulang, sudah kau tidak boleh pulang tetap di sini," kata Angel.


"Ayah," rengek Vero.


"Sayang jangan membuat nya merengek lagi, Dokter sudah memperoleh kan nya, nanti setiap pagi dan sore dokter akan datang ke rumah untuk mengecek kondisi Vero," ucap Alvaro.


"Kau benar-benar sudah terpengaruh anak mu sayang, dan kau Vero bunda sangat marah pada mu," kata Angel.


Setelah berdekatan yang cukup panjang akhirnya Vero tetap pulang ke rumah. Angel juga ikut mengalah pada Vero yang sangat ingin pulang ke rumah.


Di rumah Vero langsung di bawa ke kamar nya, beberapa perawat juga ikut untuk membantu Vero, mereka juga membawakan obat untuk Vero minum.


"Semuanya baik-baik saja tuan, ini obat nya di minum setelah makan."

__ADS_1


"Baiklah Terima kasih," ucap Alvaro.


...***...


"Hey bangun apa tubuh ku senyaman itu untuk kau tiduri," tanya Axel sambil mengusap wajah istri nya.


"Hmmm." Wilda kembali meletakan tangan Axel ke atas perut nya. Ntah kenapa rasa sakit di perut nya sedikit berkurang saat tangan Axel mengusap nya.


"Dasar manja, gadis tomboi tidak boleh manja," ucap Axel.


"Aku tidak manja, tapi lagi sakit," jawab Wilda.


"Yakin kau sakit, bukan karena ingin aku usap-usap begini," tanya Axel.


"Axel jangan menggoda ku, aku benar-benar sakit," jawab Wilda.


Tangan Wilda bergerak naik ke atas dada bidang Axel, tangan nya juga tidak diam begitu saja, tangan Wilda bergerak mengusap dada bidang Axel yang menjadi tempat ternyaman nya saat ini.


"Ini apa," tanya Wilda.


"Hey jangan nakal, bukan hanya kau yang punya aku juga punya."


Wilda sedikit membuka mata nya untuk melihat benda yang sedikit membuat nya penasaran.


"Berwarna pink," ucap Wilda.


"Hahaha jelas Wilda, tubuh ku putih jika berwarna hitam akan terasa aneh."


"Bagaimana dengan milik mu. Berwarna apa, aku hanya pernah memegang nya tapi belum melihat nya," tanya Axel.


"Sama dengan mu, sudah jangan kau tanya lagi," jawab Wilda.


"Owww, Wilda berhenti memainkan nya," ucap Axel.


"Diam lah, aku suka memainkan nya," kata Wilda.


"Kalau adik ku bangun bagaimana," tanya Axel.


"Kau tidur kan lagi begitu saja susah," jawab Wilda.


"Kau jangan macam-macam dengan ku Wilda."


"Awwww sakit, kenapa berhenti mengusapnya," ucap Wilda.


"Kau akan mendapatkan lebih dari usapan." Dengan cepat Axel menyerang bibir Wilda.


Wilda benar-benar gelagapan saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari Axel, ia mencoba mengatur nafas nya dengan baik agar tidak kehabisan nafas. Axel terus memperdalam ciuman nya, ia sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Wilda melepaskan ciuman itu.


Ntah sudah berapa lama mereka berdua berciuman Axel mulai melepaskan nya secara perlahan. Ia kasihan dengan Wilda yang sudah hampir mati kehabisan nafas.


"Ini sangat mendadak," jawab Wilda.


"Untuk ku tidak aku suka kejutan," kata Axel.


"Aku tidak suka serangan mendadak."


"Oh iya jadi kau belum puas, baiklah aku akan mencium mu sampai aku pingsan," ucap Axel sambil kembali mendekati bibir Wilda.


Wilda yang belum langsung menutup bibirnya rapat-rapat, tetapi hak tak terduga terjadi Axel turun ke bawa menyerang bagian leher istri nya.


"Axel." Tangan Wilda bergerak mencengkram kuat rambut Axel.


"Hmmm, ada apa," tanya Axel yang tidak berhenti mengerakkan lidah dan bibir nya di sana.


"Perlahan," jawab Wilda.


"Kau suka," tanya Axel.


"Ya aku suka," jawab Wilda dengan jujur.


"Axel," teriak Wilda.


Axel tersenyum puas saat ia berhasil membuat tanda kepemilikan di sana. Ia tidak tau bagi Wilda itu adalah hal yang cukup menyakitkan.


"Sakit aku tidak tahan sakit," ucap Wilda.


"Aku hanya membuat tanda, artinya kau milik ku tidak ada yang boleh melakukan hal ini selain aku," kata Axel.


"Kau gila, aku tidak mungkin berani melakukan hak ini selain dengan mu."


"Bagus, aku ingin keluar dulu, kau baik-baik di rumah," ucap Axel.


"Kau mau kemana, perut ku masih sakit," tanya Wilda.


"Aku akan bertemu dengan teman ku, aku akan membawakan mu sesuatu, baik-baik di rumah," jawab Axel sambil bangkit dari atas kasur.


Axel masuk ke dalam ruang ganti, sedangkan Wilda masih senyum-senyum sendiri karena mengingat apa yang ia lakukan tadi dengan Axel.


"Kenapa dengan ku, ah ini perasaan apa," batin Wilda.


Axel mengerut kan dahi nya saat melihat Wilda senyum-senyum sendiri. Ia tidak tau apa yang sedang Wilda pikirkan.


"Kau kenapa," tanya Axel.

__ADS_1


"Eh tidak ada, kau mau berangkat, kenapa memakai baju yang rapi begitu?"


"Aku kan memang selalu rapi, aku berangkat dulu," ucap Axel sambil berjalan mendekati Wilda lalu mengecup dahi istri nya.


Lagi dan lagi Axel tidak sadar jika apa yang ia lakukan membuat Wilda semakin tidak karuan, menurut Axel hal seperti itu adalah hal yang biasa menurut nya. Teman wanita nya juga sering ia perlakuan seperti itu. Mungkin karena Axel terlalu lama hidup di Eropa membuat nya masih terbawa gaya hidup orang sana.


Jantung Wilda semakin tidak karuan, ia berasa ingin pingsan sekarang juga. Bukan hanya itu perasaan nya juga semakin terasa sangat aneh. Axel seperti pria yang selama ini ia impikan.


Axel membawa mobil nya ke salah satu bar tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Sesampainya di bar itu Axel langsung masuk ke dalam, ia tidak menyangka jika ia bertemu dengan orang yang sangat ia cintai yaitu Laura. Laura ikut bergabung bersama teman-teman nya.


"Axel dimana Rakha, bukannya kalian seperti saudara kembar," tanya Oky.


"Dia sedang sibuk, Laura kenapa kau berada di sini, ayah mu bisa marah," ucap Axel.


"Dia di bawa bersama dengan pacar nya, dan pacar nya meninggalkan Laura begitu saja dengan wanita penggoda, percuma kau berbicara dengan nya saat ini Laura sedang mabuk," kata Oky.


"Itu sebabnya kalian memanggil ku," tanya Axel.


"Iya kau sangat dekat dengan nya, lagi pula kau saudara kandung nya."


"Terima kasih aku akan membawa nya pulang," ucap Axel.


"Kau yakin akan membawa nya pulang, ayah nya bisa marah besar saat tau dia sedang mabuk."


"Kau benar, tetapi aku harus membawa Laura pergi dari sini," ucap Axel.


Axel menengguk satu gelas Wine dan langsung membawa Laura keluar dari bar tersebut.


"Axel," ucap Laura sambil memeluk Axel dengan erat.


"Iya ada apa, kenapa kau bisa sekacau ini," tanya Axel.


"Karena ulah mu, aku tidak bisa melupakan ku Axel, aku sangat mencintaimu," jawab Laura.


"Tidak itu hal yang salah Laura, berhenti mencintai ku," ucap Axel sambil memasukkan Laura ke dalam mobil nya.


Axel tida mungkin membawa Laura pulang ke rumah nya, ia memilih membawa Laura ke hotel terdekat. Ketikan Laura sudah sadar dari mabuk nya baru lah ia akan mengantarkan Laura pulang.


"Aku tidak bisa menemani mu, aku harus pulang," ucap Axel.


"Jangan pergi," Laura menahan tangan Axel.


"Laura aku tidak mungkin di sini," kata Axel.


Axel naik ke atas kasur dan memeluk Laura dengan erat. Pergi meninggalkan orang yang sangat ia cintai memang terasa sangat berat untuk nya.


"Jangan pergi Axel, Axel jangan pergi aku mencintaimu," gumam Laura.


"Iya sayang, aku tidak pergi aku tetap di sini," kata Axel.


Tanpa sadar Axel telah melanggar janji pernikahan nya, ia juga melakukan kesalahan besar lagi, jangan kan untuk memeluk Laura, menghubungi Laura saja ia sangat di larang oleh keluarga nya.


"Laura kenapa kau harus menjadi adik ku, aku sangat mencintaimu aku tidak tau bisa mencintai wanita selain diri mu atau tidak," batin Axel.


Malam hari nya, Wilda masih menunggu suami nya pulang. Axel berjanji membawakan sesuatu untuk nya, itu sebabnya Wilda masih terjaga. Berulang kali juga Wilda sudah menghubungi Axel tetapi Axel sama sekali tidak mengangkat panggilan nya.


Dengan perlahan Axel membuka mata nya, tanpa sadar Axel tertidur di hotel bersama Laura.


"Laura aku harus pulang," ucap Axel sambil membangun kan Laura.


"Kau mau pulang," tanya Laura.


"Iya aku harus pulang, kau sudah tidak mabuk," tanya Axel.


"Aku sudah sadar sejak tadi," jawab Laura.


"Kau tidak membangun kan ku."


"Aku sangat merindukan mu, aku masih ingin bersama mu." Laura memeluk Axel dengan erat.


"Aku harus pulang, maaf aku tidak bisa mengantar kan mu," ucap Axel.


"Aku juga tidak pulang, aku sudah menghubungi ayah ku jika aku menginap di hotel."


"Kalau begitu aku pulang dulu, jaga diri mu baik-baik," ucap Axel.


"Iya pergi lah, jaga istri mu dengan baik," kata Laura.


Axel melepaskan pelukan itu dan bersiap untuk pergi meninggalkan Laura.


"Axel aku sangat mencintai mu," ucap Laura.


"Perasaan ku pada mu tidak pernah berubah, aku juga masih mencintai mu. Tapi kita benar-benar tidak bisa bersama."


"Kau benar, kita tidak mungkin bisa bersama," ucap Laura.


Axel langsung pergi meninggalkan hotel itu dan membawa mobil nya pulang ke rumah, tanpa ia sadari Axel lupa jika ia berjanji membawakan sesuatu untuk istri nya di rumah.


Sesampainya di rumah Axel berjalan masuk ke dalam kamar nya. Ia melihat Wilda masih duduk di sofa sambil menahan kantuk. Axel berjalan mendekati Wilda dan langsung membawa Wilda ke atas kasur.


"Kau sudah pulang," tanya Wilda.


"Hmmm maaf telah membuat mu menunggu," jawab Axel.

__ADS_1


Note : maaf ya mungkin ada yang kesal dengan hubungan Axel dan Laura. Itu hanya bumbu bumbu sebelum Axel mendapat kan cinta sejati nya. Yang pasti hal itu tidak akan mudah


__ADS_2