
Mereka semua sedang berkumpul di ruang makan untuk melakukan makan malam, Sedari tadi Verrel sangat muak dengan Dylan dan Nelly yang menunjukan kemesraan di depan nya langsung, seperti nya mereka ingin memberi tau diri nya kalau tidak ada yang bisa menganggu hubungan mereka berdua lagi.
Verrel menanggapi kemesraan itu dengan sangat cuek walaupun hati nya terasa cukup sakit, ia lebih memilih memberikan perhatian kan lebih pada Akifa yang berada di samping nya.
"Makan lah yang banyak, agar kamu cepat hamil." Ucap Verrel.
Sontak mereka semua yang berada di situ sangat terkejut dengan ucapan dari Verrel, yang menandakan jika hubungan Verrel dan Akifa sangat baik. Senyuman terukir di wajah mereka karena mereka pikir Verrel sudah menerima Akifa dan tidak akan ada lagi perang saudara di keluarga ini.
Akifa hanya tersenyum pada Verrel, ia mengerti jika Verrel sedang cemburu dengan sepupu nya. Setelah makan malam selesai Verrel dan Akifa memutuskan untuk pulang ke rumah Akifa yang dulu, mereka ingin memeriksa rumah itu untuk mencari bukti ja kematian nenek Akifa di sengaja oleh orang lain.
"Kau tinggal di daerah seperti ini." Tanya Verrel.
"Aku tinggal dan besar di desa ini." Jawab Akifa.
"Masih jauh rumah mu." Tanya Verrel.
"Mobil tidak bisa masuk, kita harus jalan beberapa ratus meter untuk sampai ke rumah." Jawab Akifa.
Verrel dan Akifa turun dari mobil, mereka berdua berjalan beriringan, karena gelap dan Verrel takut kegelapan ia menggandeng tangan Akifa dengan erat.
"Kenapa mas." Tanya Akifa.
"Gelap." Jawab Verrel.
"Kamu takut mas." Tanya Akifa.
"Sudah jangan banyak tanya, ayo cepat." Jawab Verrel.
Sesampainya di rumah Akifa mengambil kunci yang ia letakan di bawa vas bunga, dan langsung membuka pintu rumah itu.
"Ayo masuk mas." Ucap Akifa.
__ADS_1
"Kau tinggal di rumah seperti ini." Tanya Verrel.
"Iya mas, dari lahir aku tinggal di sini." Jawab Akifa.
Verrel merasa miris dengan kehidupan Akifa, ia tidak bisa habis pikir ada manusia yang betah tinggal di rumah seperti ini, tidak ada keramik atau sekedar semen hanya tanah yang sudah mengeras seperti semen. Dinding dari rumah ini juga banyak yang bolong karena hanya terbuat dari anyaman, bambu.
"Mas, kenapa termenung." Tanya Akifa.
"Hmmm tidak ada, aku hanya membayangkan kehidupan mu selama ini." Jawab Verrel.
"Jangan di bayangkan mas, itu tidak akan membuat mu merasa senang justru sebaliknya." Ucap Akifa.
Sekitar 30 menit merasa menggeledah rumah itu tapi hasil nya merasa berdua tidak menemukan apapun, Verrel dan Akifa duduk di kursi untuk sekedar beristirahat.
Tiba-tiba angin berserta hujan deras datang yang membuat mereka berdua panik. "Hujan, bagaimana ini." Ucap Akifa.
"Kau ada payung tidak." Tanya Verrel.
"Mau bagaimana lagi, kita akan menginap di tempat ini selama hujan berlangsung." Ucap Verrel.
"Ayo mas kita ke kamar saja." Kata Akifa.
"Kau memang tau kalau hujan enak nya ngapain." Ujar Verrel.
"Ngapain mas, kalau di luar dingin, sudah gitu banyak atap yang bocor, kamar ku ini cukup aman." Kata Akifa.
"Aku pikir kau mengajak ku untuk membuat anak." Ucap Verrel.
"Membuat anak, memang nya kamu mau anak dari ku." Tanya Akifa.
"Kenapa tidak mau." Verrel merebahkan diri nya di atas kasur.
__ADS_1
"Keras ya mas, tidak seperti kamar mu."
"Iya kerasa sekali, sudah gitu dingin sekali." Ucap Verrel.
"Aku hanya punya ini, pakai lah ini cukup untuk menghangatkan mu." Akifa memberikan Verrel selimut yang tidak terlalu tebal.
Verrel menarik tangan Akifa sampai Akifa jatuh ke atas tubuh nya. "Aku bisa menghangatkan mu." Ucap Verrel.
Verrel membalik posisi mereka berdua, Akifa berada di bawa dan Verrel di atas tubuh Akifa dan saat ingin mencium Akifa tiba-tiba lampu rumah ini padam yang membuat Verrel teriak ketakutan.
"Aaakkkk." Teriak Verrel dan langsung memeluk Akifa dengan erat.
"Mati lampu mas, seperti nya efek hujan deras." Ucap Akifa.
"Ayo pulang aku takut."
"Kamu tidak perlu takut, peluk saja aku." Akifa mempererat pelukan nya.
"Akifa milik mu membuat ku tidak bisa bernafas." Ucap Verrel.
"Maaf." Akifa melepaskan pelukan nya.
"Tidak papa aku suka milik mu, besar sekali." Ucap Verrel.
Mereka berdua saling berpelukan di dalam kegelapan malam yang dingin, sampai lampu hidup kembali pun mereka masih berpelukan karena sudah terlarut dalam tidur yang nyenyak.
Pagi hari telah tiba, tidak ada yang berubah dari mereka berdua, hanya saja tangan Verrel sudah masuk menyelinap di benda milik Akifa. sesekali tangan Verrel bergerak menyentuh benda itu walaupun diri nya masih dalam kondisi terlelap.
Verrel membuka mata nya saat merasakan silau cahaya matahari. Ia baru tersadar jika tangan nya berada di benda milik Akifa.
"Besar sekali, jika aku terus memupuk nya akan semakin membesar dan aku suka itu." Batin Verrel.
__ADS_1