
"Dia mantan istri nya, cantik sekali, tinggi dan terlihat sangat sempurna. Pantas saja Rakha mau dengan nya, jika dia tidak berulah Rakha pasti tidak akan meminta pisah dari nya," batin Vivi.
"Sayang apa yang kamu pikirkan, ayo," ucap Rakha.
"Iya mas," kata Vivi.
"Oh dia pacar nya Rakha yang baru, dia manis tapi tidak secantik aku, dia jauh dari ku," batin Alice.
"Sayang," ucap Alice sambil berdiri.
Rakha yang tau apa yang akan Alice lakukan langsung menahan Alice dengan tangan nya. Ia tidak mau Alice sembarangan memeluk nya, ia ingin menjaga perasaan istri nya.
"Rakha aku istri mu," ucap Alice.
"Tidak, aku sudah mempunyai istri baru," kata Rakha.
"Sudah duduk lah dulu kita bicarakan baik-baik," ujar Stefan.
Rakha duduk berdampingan dengan Vivi, ia seperti sangat jijik pada Alice, melihat Alice saja ia tidak sudi. Alice dapat merasakan hal itu, ia masih tidak tau apa yang membuat Rakha sangat membenci nya. Kalau untuk masalah pemotretan di pinggir pantai Rakha tidak akan sampai seperti ini.
"Kamu sudah menikah lagi," tanya Alice.
"Iya aku sudah menikah lagi, dan ini istri ku. Cantik dan tidak munafik, tidak suka tidur dengan pria lain, sangat menghargai suami nya, tidak mementingkan hal yang tidak penting untuk di lakukan."
__ADS_1
"Dia tidak secantik aku, dia tidak seperti ku, dia jauh di bawah ku," kata Alice.
"Itu menurut mu. Tidak untuk ku, standar wanita yang sempurna itu bukan seperti mu, jal*ng," ucap Rakha.
"Aku tau kau sudah tau kalau kau tidur dengan Stefan dengan pria itu, siapa yang mau dengan istri seperti itu mu. Aku tidak masalah kau mengejar hobi mu tapi aku tidak bisa mempunyai istri seperti itu."
"Sudah jangan membahas ini, hanya ada satu masalah di sini," ujar Stefan.
"Jadi ini yang membuat nya berubah. Alice kenapa kau bodoh sekali, kenapa kau tida sadar akan hal ini," batin Alice.
"Apa masalah yang penting, tidak ada hal yang penting dari kami berdua," kata Rakha.
"Aku hamil," ucap Alice.
"Sayang jangan begitu, ini benar-benar hal yang serius," kata Vivi.
"Sayang itu tidak mungkin anak ku, dia tidur dimana-mana," ucap Rakha.
"Sudah dengar kan dulu penjelasan mereka, aku. tidak akan marah kok pada mu," kata Vivi.
"Bukan begitu tapi tidak mungkin dia hamil anak ku," ucap Rakha.
"Sayang tenang dulu, tidak ada yang tidak mungkin. Sudah jangan mudah terpancing emosi seperti ini," kata Vivi.
__ADS_1
"Aku benar-benar hamil anak kamu, kita menikah kurang lebih sudah 2 bulan. Setelah aku pergi aku tidak pernah datang bulan lagi, dan terakhir aku datang bulan saat aku mengatakan nya pada mu itu. Jadi kalau di hitung usia kandungan ku sudah 2 bulan, kamu bisa berpikir sendiri kan," ucap Alice.
"Sayang ini tidak mungkin, jangan percaya dengan nya," kata Rakha.
Rakha masih bingung dengan semua nya, ia takut Vivi marah dan akan meninggalkan nya. Ia tidak takut apapun selain kehilangan Vivi, apalagi Vivi belum ia sentuh mudah sekali Vivi untuk meninggalkan nya.
"Sayang sudah jangan seperti ini, kita selesai kan baik-baik saja ya," ucap Vivi.
"Apa mau kamu kalau memang itu benar anak suami saya," tanya Vivi.
"Pertanggung Jawaban nya," jawab Vivi.
"Aku tidak akan bertanggung jawab sedikit pun," ucap Rakha.
"Rakha Alice bisa membawa nya ke jalur hukum," ujar Stefan.
"Suami ku akan bertanggung jawab tapi bukan untuk mu untuk anak itu," kata Vivi.
"Aku akan tes DNA," ucap Rakha.
"Tes DNA setelah lahir, aku tidak mau membahayakan anak ku," kata Alice.
"Seperti yang istri ku katakan, aku bertanggung jawab atas anak itu bukan atas diri mu. Kau tetap bukan siapa-siapa ku. Aku tidak akan tinggal satu rumah dengan mu, atau apapun itu," ucap Rakha.
__ADS_1
Vivi memutuskan hal ini karena memang masih ada kemungkinan kalau itu memang anak suami nya. Ia tidak bisa marah karena Rakha dan Alice pernah menjadi pasangan suami istri.